Bandung Barat. 30 Oktober 2025. Di kawasan dapil 4—meliputi Kecamatan Batujajar, Kecamatan Cihampelas, dan Kecamatan Cililin—Kabupaten Bandung Barat digelar sebuah sosialisasi penting tentang pengelolaan sampah, yang mengangkat dua hal krusial: penanganan dan pengurangan sampah dari sumbernya. Acara tersebut menghadirkan perwakilan berbagai lapisan masyarakat—dari lembaga pemerintah, organisasi sosial, hingga penggiat lingkungan—dalam semangat bersama menggerakkan perubahan perilaku pengelolaan sampah.

Peluang dan Tantangan Dalam Satu Forum
“Persoalan sampah ada langkah nyata, penggiat sampah harus dilakukan, agar mampu menjadi penggerak persoalan sampah. Mendorong membentuk bank sampah, memperkenalkan teknik-teknik pengolahan sampah.” Demikian laporan yang disampaikan oleh panitia, Irfan Irfan Arfianto SE, MM.
Kegiatan ini penting karena latar permasalahannya sangat nyata: kawasan ini termasuk bagian dari aliran Sungai Citarum, yang datanya menunjukkan bahwa timbulan sampah mencapai sekitar 3,4 juta ton per tahun dan hanya kurang lebih 37 % yang berhasil dikelola.

Pembukaan: Dari Rumah ke Sungai, Dampak yang Tak Boleh Diabaikan
Pada pembukaan acara, perwakilan kecamatan, Drs Roni Gustav Budiman, menyampaikan bahwa meskipun camat berhalangan hadir, harapan besar tercurah agar sosialisasi ini berjalan dengan baik. “Mari kita semangati perilaku pembuangan sampah, dan mulai untuk pengelolaan sampah dengan memilah mulai dari rumah.” Ia mengajak masyarakat untuk mengambil peran aktif sejak titik paling dasar: rumah tangga.

Kemudian, sambutan dari Zamilia Floreta SP., MSi mewakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Barat menyampaikan bahwa “Indikator suksesnya suatu daerah adalah dengan keberhasilan mengelola sampah.” Ia menegaskan fakta bahwa TPA Sarimukti sudah mengalami kelebihan kapasitas sehingga masyarakat tidak bisa hanya bergantung pada layanan pembuangan. “Sampahmu adalah tanggung jawabmu,” tegasnya.
Kata-kata ini memperjelas bagaimana pengelolaan sampah bukan sekadar tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh warga—dimulai dengan tindakan paling sederhana seperti membawa tempat minum sendiri dari rumah atau menggunakan kantong belanja sendiri.

Paparan Materi: Dari Bank Sampah ke Ekonomi Sirkular
Materi inti hari itu dipaparkan oleh Indra Darmawan S.Si dari Bening Saguling Foundation dengan judul “Manajemen Bank Sampah”. Ia membuka dengan kenyataan bahwa aliran Sungai Citarum menghadapi beban sampah yang masif, termasuk dari kawasan ini: “Karena dikurangi di TPA Sarimukti jadi banyak orang yang buang sampah ke sungai.”
Materi kunci yang disampaikan mencakup:
Metode baru pengelolaan bank sampah: masyarakat → bank sampah unit → bank sampah induk → pabrik daur ulang, yang memungkinkan pembagian hasil yang lebih adil.
Kelembagaan bank sampah bisa berbentuk yayasan, koperasi, atau perkumpulan.
Struktur organisasi dan rencana kerja bank sampah: tujuan, SDM, pelaksanaan, evaluasi.

Pentingnya pemilahan di rumah: hal ini disebut “hal yang terpenting untuk memilah sampah yang mempunyai harga nilai jual.”
Inovasi berbasis ekonomi sirkular: contoh nyata di sini adalah pengolahan sampah organik untuk budidaya maggot yang kemudian menjadi pakan ayam petelur—“dari 300 ekor sekarang 7.500 ekor dengan menggunakan pakan 25 % dari sampah organik.”
Paparan ini memberi panduan konkret bagaimana pengelolaan sampah bisa dipadukan dengan pemberdayaan ekonomi dan komunitas.

Mengapa Ini Penting: Konteks Lingkungan & Sosial
Dampak lingkungan dari perilaku pembuangan dan pengelolaan sampah di wilayah ini sangat nyata. Sungai Citarum, yang mengalir melalui wilayah Bandung Barat, telah mendapat sorotan karena kondisi pencemaran yang parah—termasuk sampah rumah tangga yang mencapai 75 % dari total sumber sampah sungai tersebut.
Dengan kapasitas TPA yang sudah hampir penuh, seperti TPA Sarimukti, pendekatan hulu (yaitu di rumah dan komunitas) menjadi semakin penting. Dalam hal ini, sistem bank sampah yang berbasis komunitas tidak hanya membantu mengurangi beban TPA, tetapi juga mengubah paradigma: dari “sampah sebagai beban” menjadi “sampah sebagai sumber daya”. Hal ini sesuai dengan konsep ekonomi sirkular yang semakin mendapat perhatian.

Hasil & Harapan: Menumbuhkan Kader Lingkungan
Dari laporan panitia: “Diharapkan tumbuh kader-kader pengolahan sampah ke depannya.” Hal ini menggambarkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi satu kali, melainkan bagian dari strategi jangka panjang: membentuk agen perubahan di masyarakat—dari ibu PKK, bank sampah, penggiat komunitas, hingga karang taruna.
Dengan hadirnya elemen-elemen seperti bank sampah dan penggiat maggot, muncul sinergi antara edukasi, aksi sosial, dan ekonomi lokal. Sebagai contoh, program budidaya maggot oleh Bening Saguling Foundation memperlihatkan bahwa sampah organik yang salah kelola bisa diberdayakan menjadi pakan ayam dan bahkan menjadi modal untuk pemberian beasiswa.

Tantangan yang Masih Terbentang
Meski berjalan dengan baik di sesi sosialisasi, realitas di lapangan masih penuh dengan tantangan:
Kesadaran masyarakat belum merata. Banyak rumah tangga belum memilah sampah organik dan anorganik dengan konsisten.
Infrastruktur dan sarana bank sampah unit (BSU) masih terbatas—perlunya fasilitas gudang, timbangan, kantor, dan khusus mesin pencacah untuk bank unit induk (BSU).

Banyak bank sampah yang mengalami masalah keberlanjutan: ketika masyarakat kurang aktif, atau sistem pembagian hasil tidak jelas, maka operasional berhenti.
Perilaku budaya: seperti yang disebut dalam sambutan, bahwa kita ingin gaya hidup modern namun sering lupa peduli terhadap sampah sehari-hari—itu perlu diubah dari perilaku “terpaksa” lalu menjadi “biasa”.
Penelitian menunjukkan bahwa bank sampah berbasis komunitas mampu meningkatkan kesadaran dan kualitas lingkungan, namun juga menyebut adanya kendala sarana-prasarana, pendanaan, dan partisipasi.

Rekomendasi Aksi: Mulai dari Rumah, Lanjut ke Komunitas
Berdasarkan rangkuman dari acara dan hasil riset yang ada, berikut beberapa rekomendasi konkret yang layak menjadi bagian dari strategi pengelolaan sampah di wilayah Dapil 4:
- Pemilahan Sampah di Sumber (Rumah Tangga):
Ajakan “mulailah dari diri sendiri … bawalah kantong belanja sendiri …” dalam sambutan sudah tepat. Jika setiap rumah tangga memisahkan organik dan anorganik sejak awal, maka beban pengelolaan akan jauh lebih ringan. - Pembentukan dan Penguatan Bank Sampah Unit & Induk:
Mendorong pembentukan BSU di setiap desa/kelurahan, yang bekerja sama dengan BSInduk untuk skala lebih besar. Struktur organisasi, rencana kerja, dan evaluasi harus tertata sebagaimana paparan Indra Darmawan. - Pemberdayaan Ekonomi dari Sampah:
Seperti budidaya maggot yang disebutkan, pengolahan sampah organik bisa menjadi pendapatan dan modal ekonomi. Ini juga dapat menarik keterlibatan masyarakat yang sebelumnya pasif. - Edukasi dan Perubahan Perilaku Berkelanjutan:
Kegiatan sosialisasi seperti ini perlu diulang dan dijaring ke lapisan masyarakat lebih luas—ibu PKK, karang taruna, sekolah, lembaga keagamaan. Karena perubahan perilaku butuh waktu dan konsistensi. - Kolaborasi Antar Pemangku Kepentingan:
Pemerintah kecamatan, desa, komunitas lingkungan, bank sampah, dan masyarakat harus saling mendukung. Data nasional menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya tanggung jawab pemerintah—“pengelolaan sampah dilakukan secara komprehensif dari hulu ke hilir dengan pendekatan ekonomi sirkular”. - Monitoring dan Evaluasi Terukur:
Setiap BSU/Bank Sampah Induk harus memiliki pencatatan kegiatan, nasabah, volume sampah yang terkelola, dan hasil ekonomi. Sistem digital seperti aplikasi untuk bank sampah bisa menjadi solusi.

Penutup: Harapan yang Nyata
Kegiatan sosialisasi di Kecamatan Batujajar, Cihampelas, dan Cililin ini menegaskan satu hal penting: pengelolaan sampah bukan sekadar urusan teknis, tetapi juga urusan perilaku manusia dan budaya masyarakat. Kalimat “Sampahmu adalah tanggung jawabmu” menjadi pintu masuk untuk mulai melihat sampah bukan sebagai sesuatu yang dilepas ke TPA saja, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang bisa kita atur bersama.
Jika setiap rumah tangga mulai memilah, jika komunitas mulai merangkul dan bank sampah mulai beroperasi secara nyata, maka bukan hanya lingkungan yang lebih bersih, tetapi masyarakat yang lebih sejahtera. Lingkungan yang lestari tidak terbentuk dengan sendirinya — ia terbentuk oleh langkah nyata dari kita semua.
Semoga langkah di dapil 4 ini menjadi contoh kecil yang kemudian bisa tumbuh besar—menjadi bagian dari arus perubahan yang membawa Bandung Barat ke arah pengelolaan sampah yang cerdas, ramah lingkungan, dan manusiawi. (aq-nk)