Purwakarta, Jawa Barat. 12 November 2025. Di tengah semangat ribuan petani yang memadati arena Mimbar Sarasehan KTNA Jawa Barat 2025 di Kebun Istimewa Parakan Garokgek, suara dari Bandung Barat terdengar lantang. Suara itu datang dari Kang Dedi Hernawan, Ketua KTNA Kabupaten Bandung Barat sekaligus anggota DPRD KBB Komisi II Fraksi Gerindra, yang dengan penuh keyakinan menegaskan pentingnya menempatkan sektor pertanian sebagai fondasi utama ekonomi daerah.
“Dengan mengangkat sektor pertanian, dengan memperhatikan sektor pertanian, kita sama dengan menegakkan tiang perekonomian Bandung Barat,” ujar Kang Dedi saat ditemui usai sesi pembukaan acara, yang dihadiri ratusan perwakilan kelompok tani dari 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat.

Baginya, pertanian bukan sekadar urusan tanam dan panen, tetapi menyangkut martabat masyarakat desa dan arah pembangunan kabupaten. “Bandung Barat ini tiang perekonomiannya adalah pertanian, peternakan, dan perikanan. Kalau ini diperkuat, otomatis daya hidup masyarakat ikut meningkat,” tambahnya.

KTNA Sebagai Jembatan Antara Petani, Pemerintah, dan Swasta
Kang Dedi menjelaskan bahwa Mimbar Sarasehan seperti ini menjadi momentum penting untuk mempertemukan para petani dengan pihak pemerintah dan dunia usaha. Ia menyebutnya sebagai “momen bertemunya para petani dengan pemerintah.”
“Di sini para petani bisa mencurahkan apa yang menjadi kendala pertanian di daerah masing-masing, sekaligus memperlihatkan potensi dan capaian yang sudah dimiliki,” katanya. Acara ini, menurutnya, menjadi semacam temu produsen dan konsumen, sebuah wadah yang mempertemukan kebutuhan petani, regulasi pemerintah, serta dukungan swasta dan penyuluh pertanian.

“Peran KTNA itu menjembatani kepentingan petani dengan pemerintah, juga antara pemerintah dengan swasta. Karena tanpa komunikasi yang baik, program pertanian sering berhenti di atas kertas,” tutur Kang Dedi dengan nada tegas namun bersahaja.
Ia menekankan pentingnya Mimbar Sarasehan untuk terus digelar secara rutin, bukan hanya di tingkat provinsi, tetapi juga di kabupaten. “Mudah-mudahan Bandung Barat juga bisa menyelenggarakan event seperti ini di masa mendatang. Karena dengan begitu kita bisa lebih banyak mengeksplor potensi yang ada di daerah sendiri,” ucapnya penuh harap.
Potensi Besar Bandung Barat: Sayuran, Bunga, dan Buah
Bandung Barat dikenal sebagai salah satu daerah penghasil hortikultura unggulan di Jawa Barat. Dari lereng Lembang hingga Parongpong, sayuran segar, buah, serta bunga potong menjadi andalan ekonomi warga. Meskipun di tengah tantangan biaya dan ruang, KTNA KBB tampil dominan: mereka berhasil mengamankan dua stand pameran produk paling strategis di posisi terdepan dan memamerkan puluhan produk unggulan. Jumlah ini menjadikan kontingen Bandung Barat sebagai peserta dengan produk terbanyak dalam pameran tersebut.
“Sebetulnya ini produk-produk dari 16 kecamatan,” jelas Kang Dedi. “Namun dengan keterbatasan biaya dan tempat, kita belum bisa mengeksplor semuanya, termasuk peternakan dan perikanan.”

Salah satu yang mencuri perhatian adalah stand kopi Bandung Barat, yang dijaga oleh para barista pilihan lokal. “Kalau kita lihat hari ini, stan kopi kita tidak berhenti melayani pembeli. Ini menunjukkan potensi besar, baik dari sisi produk maupun SDM muda yang terlibat,” tuturnya sambil tersenyum.
Selain kopi, KTNA KBB juga memamerkan beras premium, gula semut, sayuran dataran tinggi, paprika, serta hasil olahan alpukat dan madu lebah. “Kita punya banyak yang bisa dibanggakan, hanya tinggal bagaimana semua pihak mau serius membangunnya,” kata Kang Dedi.

Harapan Sinergi: Pemerintah, Petani, dan Legislatif
Dalam wawancara itu, Kang Dedi menegaskan kembali pentingnya sinergi lintas sektor. “Harapannya ada sinergi antara pemerintah dengan kelompok-kelompok tani. Para eksekutif juga harus menganggarkan melalui kebijakan yang berpihak pada petani,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaannya di lembaga legislatif menjadi peluang untuk memperjuangkan kepentingan para petani secara lebih konkret. “Makanya perlunya ada wakil dari petani di parlemen yang benar-benar paham masalah di lapangan, agar bisa menjembatani kepentingan petani dengan pemerintah,” jelasnya.

Kang Dedi juga menyinggung keinginannya agar Kabupaten Bandung Barat bisa menjadi tuan rumah Mimbar Sarasehan KTNA di masa mendatang. “Cita-cita itu sudah ada sejak saya menjadi ketua KTNA pada 2019. Tapi belum tercapai, mungkin karena konektivitas antara pemerintah dan petani belum kuat. Sekarang saya di legislatif, mudah-mudahan bisa membawa perubahan nyata bagi pertanian dan masyarakatnya,” katanya optimistis.
Harapan khusus kepada pak Bupati Bandung Barat
Dalam kesempatan itu, Kang Dedi menyampaikan harapan yang tersirat namun sarat makna kepada Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail. Ia berharap, ke depan kepala daerah dapat lebih sering hadir langsung dalam setiap kegiatan semacam ini bertemu langsung dengan petani dan nelayan.
“Acara seperti ini sangat strategis untuk melihat potensi dan kendala nyata di lapangan. Kehadiran seorang bupati tentu menjadi semangat tersendiri bagi para petani,” ucapnya.

Harapan kehadiran beliau ini sebagai ajakan agar pemerintah daerah lebih dekat dengan denyut kehidupan petani. “Bandung Barat ini punya kekuatan luar biasa di sektor pertanian dan perikanan. Kalau pemerintah hadir di tengah mereka, itu seperti menyalakan kembali bara semangat yang mungkin mulai redup,” tuturnya kembali.
Sebuah pesan sederhana, namun bermakna dalam: bahwa dukungan nyata dari pemimpin daerah bisa menjadi pupuk bagi tumbuhnya kepercayaan diri petani.

Mimbar Sarasehan: Wadah Gagasan dan Kebersamaan
Sementara itu, dari sisi kegiatan, Mimbar Sarasehan KTNA Jawa Barat 2025 ini memang menjadi ajang besar bagi petani dan nelayan untuk berdialog langsung dengan pemangku kebijakan. Acara dibuka oleh Dadan Hidayat, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat, serta dihadiri Agung Darwis Suriaatmadja (Asisten Sekda Bidang Perekonomian & Pembangunan) dan Otong Wiranta (Ketua KTNA Provinsi Jabar).
Dengan tema “Teknologi Pertanian Berkelanjutan Berbasis Spesifik Lokalita untuk Jawa Barat Istimewa”, sarasehan ini memamerkan berbagai inovasi dan produk unggulan dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat, mulai dari beras aromatik, madu hutan, kopi, hingga produk perikanan air tawar.
Kegiatan juga diwarnai dengan diskusi panel dan temu wicara yang membahas regenerasi petani muda, dampak alih fungsi lahan, hingga peluang ekspor produk lokal. Dari suasana hangat di bawah tenda besar itu, tampak jelas semangat “gotong royong pangan” yang masih hidup di hati para petani Jawa Barat.

Menatap ke Depan: Bandung Barat Sebagai Poros Pertanian Baru
Menutup perbincangan, Kang Dedi Hernawan menegaskan bahwa masa depan Bandung Barat harus dibangun di atas fondasi pertanian yang kuat. Ia percaya, dengan dukungan Pemerintah dan DPRD, para petani lokal dapat naik kelas, dari sekadar produsen ke pelaku agribisnis mandiri.
“Kalau sinergi ini berjalan, Bandung Barat bisa menjadi poros pertanian baru di Jawa Barat. Kita punya lahan subur, SDM tangguh, dan semangat luar biasa. Tinggal bagaimana semua pihak menanam komitmen yang sama,” ujarnya menutup wawancara dengan nada optimistis.
Sebaris kalimat dari Kang Dedi itu mencerminkan jati diri seorang petani sejati, tegas, sederhana, tapi berorientasi pada hasil. Dan jika pesan-pesan seperti ini sampai ke meja pengambil kebijakan di Bandung Barat, mungkin kelak tidak hanya kopi dan sayur dari Lembang yang harum di pasar, tetapi juga nama petani dan nelayannya yang kembali harum di hati masyarakat. (aq-nk)