Seminar Pendidikan UPI 2025 : Meneguhkan Peran Guru dalam Transformasi Karakter Bangsa melalui Delapan Dimensi Profil Lulusan

Kota Bandung Nasional Pendidikan

Bandung, 22 November 2025. Sebanyak lebih dari 2.000 guru dari berbagai jenjang pendidikan berkumpul di Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) untuk mengikuti Seminar Pendidikan dengan tema “Mewujudkan Guru Pembelajaran yang Adaptif dan Berdampak dalam Pembentukan Karakter Bangsa”. Acara ini sekaligus menjadi momen peluncuran buku berjudul “Visualisasi 8 Dimensi Profil Lulusan”, karya Januar Masliady, M.Pd., Cert.MT, yang difasilitasi oleh Penerbit Erlangga.

Momentum Refleksi dalam Semangat Hari Guru

Dalam sambutannya, Dr. Enang Ahmadi, S.Pd., M.Pd., ahli utama di Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kementerian Pendidikan, menggarisbawahi bahwa seminar ini merupakan bentuk peringatan sekaligus refleksi atas Hari Guru dan Hari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). “Semangat ini menjadi momentum untuk bermuhasabah, berintrospeksi, bagaimana para guru terus bersemangat dalam merangkai dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Dr. Enang juga menyatakan dukungannya kepada buku yang diluncurkan: “Buku ini sejalan dengan keinginan Pak Menteri, yaitu pembelajaran yang mendalam dan terkait dengan delapan profil lulusan, kemudian Kepala sekolah dan guru harus memastikan pembelajaran tidak hanya berfokus pada angka-angka, tetapi juga bagaimana terjadi perubahan karakter pada anak-anak di dalam kelas.”

Regulasi Baru: 8 Dimensi Profil Lulusan

Salah satu pokok diskusi acara ini berkaitan erat dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 10 Tahun 2025, yang menetapkan delapan dimensi profil lulusan sebagai Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pada semua jenjang pendidikan. Dimensi tersebut adalah:

  1. Keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
  2. Kewargaan
  3. Penalaran kritis
  4. Kreativitas
  5. Kolaborasi
  6. Kemandirian
  7. Kesehatan
  8. Komunikasi

Aturan ini menggantikan Permendikbudristek Nomor 5 Tahun 2022 dan menjadi landasan bagi sekolah dalam mengembangkan kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, tenaga pendidik, sarana, dan pembiayaan.

Sebagai bentuk respons atas kebijakan tersebut, Januar Masliady, sebagai penulis buku yang diluncurkan, menjelaskan bahwa karya tulisnya dirancang untuk membantu guru memahami dan mengimplementasikan delapan dimensi profil lulusan secara praktis di kelas: “Saya menjelaskan secara mendetail bagaimana guru dapat menilai karakter anak sebagai mana banyak mempunyai nilai-nilai konkret yang dapat diamati oleh para guru.” Ia berharap buku ini menjadi panduan praktis di semua jenjang, mulai PAUD hingga SMA.

PGRI Kota Bandung: Semangat Kebersamaan dan Peningkatan Kualitas

Agus Rohimat, Ketua PGRI Kota Bandung, menyambut antusias pelaksanaan seminar ini yang menghadirkan begitu banyak guru. Ia menyatakan, “Ini menjadi sinyal bahwa kita semua bersemangat untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di Kota Bandung.” Menurutnya, sebagian besar peserta berasal dari jenjang SD dan SMP, meskipun ada juga dari TK hingga SMA/SMK.

Terkait peluncuran buku, Agus menilai bahwa kontribusi tersebut sangat strategis: “Delapan dimensi profil lulusan ini sebenarnya menjadi kebijakan tingkat nasional di dalam buku ini memberikan arah dan panduan implementasi di lapangan terkait Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025.” Ia berharap kegiatan seperti ini menjadi agenda tahunan rutin, sebagai ajang silaturahmi dan tempat berbagi ide serta inspirasi.

Upaya Merata ke Sekolah Terpencil

Soal tantangan pemerataan pendidikan, terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), Dr. Enang memastikan bahwa Kementerian telah menyiapkan langkah konkret. “Di Kementerian, melalui UPT masing-masing, ada upaya untuk membantu sekolah-sekolah di daerah 3T sehingga kedepannya tidak boleh ada anak yang tertinggal, tidak ada guru yang tertinggal. Semuanya harus mendapatkan layanan yang sama.”

Harapan utamanya adalah agar literasi, numerasi, dan capaian PISA terus meningkat di masa mendatang. Dr. Enang menyebut target ambisius: “Kita berharap pada tahun 2045 nanti, capaian PISA kita berada pada kisaran 480–500, sehingga generasi emas benar-benar terwujud di tahun 2045.”

Harapan dan Tantangan Implementasi

Peluncuran buku dan seminar ini juga diwarnai harapan agar para guru tidak hanya menerima gagasan regulasi, tetapi benar-benar menjadikannya bagian dari praktik sehari-hari. Agus Rohimat menyebutkan tiga harapannya:

  1. Seminar ini menjadi bekal signifikan bagi guru dalam tugas pengajaran sehari-hari.
  2. Menjadi stimulan lahirnya kreativitas baru dari para guru.
  3. Menjadi ajang silaturahmi tahunan untuk saling menginspirasi di komunitas PGRI.

Sementara itu, Januar Masliady menyampaikan kerinduannya agar nilai-nilai karakter positif terus ditanamkan dalam setiap diri peserta didik: “Saya berharap buku ini dapat membantu dan memenuhi kebutuhan seluruh guru, agar memiliki karakter positif, serta mengembalikan karakter anak bangsa yang sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan Indonesia.”

Konteks Kebijakan Pendidikan Nasional

Kebijakan delapan dimensi profil lulusan ini bukan tanpa kontroversi. Sejumlah kalangan mengamati bahwa regulasi ini bisa berdampak besar terhadap arah pendidikan nasional. Ada yang menyoroti perubahan besar dari pendekatan sebelumnya (Profil Pelajar Pancasila atau P5) ke model baru yang lebih holistik (kadang disebut “P8”).

Menurut Panduan Pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan (edisi revisi 2025) dari Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), sekolah diharapkan merumuskan tujuan pendidikan yang mencerminkan karakter delapan dimensi tersebut, dan memberikan ruang refleksi diri bagi murid sepanjang tahun ajar.

Selain itu, Surat Edaran Mendikdasmen menyebutkan bahwa pengenalan profil lulusan harus menjadi bagian dari program pembelajaran, termasuk dimensi kewargaan, pencegahan isu sosial, keadaban digital, dan lain-lain.

Kesimpulan: Guru sebagai Agen Perubahan Karakter

Seminar di UPI ini menegaskan bahwa guru bukan sekadar pengajar akademis, melainkan agen perubahan karakter bangsa. Dengan dukungan regulasi baru, panduan praktis dari buku, serta komitmen organisasi profesi seperti PGRI, upaya membentuk lulusan yang berkarakter dan kompeten kian nyata.

Momentum Hari Guru dan Hari PGRI juga menjadi pengingat bahwa kualitas pendidikan sangat bergantung pada dedikasi pendidik. Apabila para guru dapat menginternalisasi dan menerapkan delapan dimensi profil lulusan dalam keseharian, bukan hanya hasil akademik yang tercapai, tetapi juga transformasi karakter yang berkelanjutan, demi masa depan generasi emas Indonesia tahun 2045. (ad-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *