Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. 24 November 2025. Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan publik di tingkat kecamatan kembali ditegaskan melalui pelaksanaan Forum Konsultasi Publik (FKP) dan Sosialisasi One District Innovation Kecamatan Cisarua Tahun 2025. Kegiatan yang berlangsung di Villa Air Natural Resort ini dihadiri sekitar 60 peserta, terdiri atas para kepala desa atau perwakilan desa, unsur puskesmas Pasirlangu dan Cisarua, perangkat desa, perwakilan PKK, KNPI, penyuluh pertanian, penyuluh peternakan, serta unsur Forkopimcam.
Acara ini menjadi ruang dialog reflektif sekaligus langkah strategis untuk memperkuat arah pembangunan kecamatan berbasis data, transparansi, dan akuntabilitas. Selain FKP, kegiatan juga dirangkai dengan pemaparan inovasi digital Jendela Data Kecamatan Cisarua, yakni sistem informasi terpadu yang ditujukan sebagai pondasi pengambilan keputusan dan perencanaan pembangunan.

Meningkatkan Pelayanan Publik Lewat Evaluasi Kolektif
Plt. Camat Cisarua, H. Herman Permadi, menegaskan bahwa Forum Konsultasi Publik tahun ini memiliki peran sentral dalam mendorong peningkatan kualitas pelayanan. Dalam wawancara yang dilakukan di sela acara, ia menyampaikan bahwa hasil Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) terbaru yang dilakukan langsung oleh Kementerian PAN-RB melalui aplikasi BLA-BLAS memberikan banyak catatan penting.
“Kami memperoleh nilai 4,16, dan tentu ada beberapa catatan serta parameter yang dinilai,” ujar Herman. Ia menjelaskan bahwa penilaian itu tidak melalui kecamatan, sehingga dipastikan objektif. “Data itu berdasarkan masyarakat yang datang ke kecamatan dari Januari hingga Oktober. Kami hanya menyampaikan siapa saja yang terdata, dan penilaian dilakukan penuh oleh KemenPAN-RB dan KPK.”

Menurut Herman, sejumlah kekurangan yang masih terlihat meliputi sikap petugas pelayanan, fasilitas yang belum optimal, serta informasi persyaratan yang belum tersaji secara lengkap dan mudah dipahami masyarakat. Beberapa fasilitas informasi seperti media sosial dan WhatsApp Blast, menurutnya, belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Harapannya nilai kepuasan masyarakat ini bisa kami tingkatkan dan optimalkan. FKP ini menjadi ruang untuk meminta masukan dari para pemangku kepentingan,” ujarnya.

Kesenjangan Informasi dan Tantangan Digital
Dalam forum diskusi, isu terkait minimnya informasi pelayanan menjadi salah satu masukan paling sering disampaikan peserta. Menurut Herman, hal ini akan diatasi melalui inovasi teknologi informasi.
“Kami akui bahwa kecamatan belum mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi. Ini menjadi PR kami agar informasi pelayanan lebih beragam dan tidak hanya terpaku pada pengumuman di dinding,” katanya.
Salah satu langkah korektif tersebut adalah pengembangan Jendela Data Cisarua. Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat memperoleh beragam informasi penting, mulai dari persyaratan pelayanan, lama waktu pelayanan, hingga alur prosedur administrasi.

Selain itu, Jendela Data juga akan memuat informasi strategis seperti komposisi penduduk, cakupan Universal Health Coverage (UHC), data UMKM, status kesejahteraan, hingga ringkasan statistik wilayah.
“Kami berharap inovasi ini menjadi fondasi utama bagi pengambilan kebijakan, baik di tingkat kecamatan, kabupaten, maupun provinsi,” ungkap Herman.

Tiga Keluhan Utama dari Peserta FKP
Dari rangkaian diskusi dengan perangkat desa dan peserta lainnya, setidaknya ada tiga hal krusial yang masuk ke daftar perhatian kecamatan:
- Kapasitas dan kapabilitas petugas pelayanan, yang membutuhkan pelatihan lanjutan dan penguatan kompetensi.
- Sarana dan prasarana layanan yang belum memadai.
- Keterbatasan informasi pelayanan, baik dalam bentuk visual maupun digital.
Masukan tersebut akan dijadikan bahan perencanaan anggaran tahun 2026. Herman memastikan bahwa seluruh masukan akan diproses secara proporsional sebagai dasar peningkatan layanan yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Kegiatan konsultasi publik ini sangat strategis, karena masyarakat bisa menilai langsung dan kami bisa melakukan koreksi diri,” tegasnya.

One District Innovation: Mengakselerasi Tata Kelola dengan Teknologi
Sesi kedua acara diisi dengan pemaparan materi oleh narasumber Yoda dan Andika, yang memperkenalkan konsep One District Innovation—sebuah pendekatan pembangunan kecamatan yang memanfaatkan teknologi digital secara maksimal dalam proses administrasi, pelayanan, dan perencanaan.
Dalam materi yang disampaikan, mereka menunjukan bahwa Jendela Data Cisarua adalah tulang punggung inovasi tersebut. Sistem terintegrasi ini memiliki tujuh fitur utama yang dirancang untuk menanggapi isu strategis nasional sekaligus persoalan yang paling dekat dengan masyarakat:
- Data Stunting
Merekam jumlah anak berisiko stunting per desa lengkap dengan riwayat pengukuran, grafik tren, dan persentase kasus untuk membantu puskesmas serta pemerintah desa menargetkan intervensi tepat waktu. - Kemiskinan Ekstrem
Menyajikan data keluarga miskin ekstrem, verifikasi lapangan, dan status intervensi, sehingga bantuan sosial tidak tumpang tindih dan tepat sasaran. - Hamil REST (Register Ibu Hamil)
Mengelompokkan ibu hamil berdasarkan kategori risiko dan memantau kondisi kesehatan ibu dan janin demi menekan angka kematian ibu dan bayi. - Universal Health Coverage (UHC)
Menghitung persentase capaian jaminan kesehatan di setiap desa serta mengidentifikasi warga yang belum terlindungi BPJS. - Jumlah Penduduk
Menyajikan demografi lengkap untuk kebutuhan perencanaan pembangunan jangka panjang.

- Data UMKM
Mencatat kategori usaha dan jumlah pelaku UMKM berdasarkan sektor serta nilai omset, yang berguna bagi dinas terkait dalam penyusunan program bantuan. - Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni)
Menyajikan daftar kondisi rumah, verifikasi lapangan, serta status intervensi yang sudah dan belum dilakukan.

Fitur-fitur ini dijalankan dengan alur kerja berjenjang, dimulai dari input data oleh desa, monitoring real-time oleh admin kecamatan, hingga verifikasi data strategis melalui mekanisme approval. Sistem juga dilengkapi manajemen berita dan pengumuman, sehingga informasi pembangunan dapat dipublikasikan langsung kepada masyarakat.

Mewujudkan Pelayanan Berbasis Data, Transparan, dan Humanis
Dengan rangkaian inovasi ini, pemerintah Kecamatan Cisarua menegaskan komitmennya pada tata kelola pemerintahan modern yang menempatkan data sebagai dasar pengambilan keputusan. Inovasi ini bukan hanya aspek teknis, tetapi juga bentuk keberpihakan terhadap kelompok rentan: balita, warga miskin, ibu hamil berisiko tinggi, dan masyarakat yang belum memiliki jaminan kesehatan.
Herman Permadi menutup wawancara dengan sebuah refleksi penting. “Terkadang ego birokrasi itu tinggi, tetapi melalui konsultasi publik seperti ini kami bisa membuka wawasan dan mendapatkan perspektif baru,” ujarnya.
Ia berharap forum konsultasi dan platform Jendela Data Cisarua menjadi langkah awal untuk menyempurnakan layanan publik, membangun sinergi antara pemerintah dan masyarakat, serta melahirkan inovasi yang benar-benar berdampak.
“Ini hal positif yang kami lakukan. Jangan sampai kita hanya berpikir memberikan pelayanan, tetapi tidak memahami apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” tambahnya.

Penutup: Arah Baru Pelayanan Publik Kecamatan Cisarua
Melalui Forum Konsultasi Publik dan Sosialisasi One District Innovation, Kecamatan Cisarua memperlihatkan wajah baru penyelenggaraan pelayanan publik yang lebih terbuka, responsif, dan humanis. Penerapan Jendela Data menjadi bukti bahwa transformasi digital bukan hanya tentang aplikasi, tetapi juga perubahan cara berpikir dalam melayani masyarakat.

Dengan kolaborasi desa, puskesmas, organisasi kepemudaan, dan berbagai unsur masyarakat, Cisarua menapaki tahun 2025 dengan pendekatan yang lebih kuat: pembangunan berbasis data dan pelayanan yang berpihak pada masyarakat.
Inisiatif ini diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi kecamatan lain di Kabupaten Bandung Barat maupun daerah lain di Indonesia bahwa pelayanan publik terbaik lahir dari keterbukaan, kolaborasi, dan komitmen untuk terus belajar. (red-nk)