Asep Ependi : Petani Visioner dari Parongpong yang Mengangkat Ruskus ke Panggung Florikultura Nasional

Profil

Di sebuah sudut yang tenang di Kampung Centeng RT 04/07, Desa Cihanjuang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, tinggal seorang petani sekaligus pengusaha bunga potong yang kini menjadi rujukan banyak kalangan dalam dunia florikultura. Asep Ependi, Ketua Kelompok Tani (Keltan) Sumber Rejeki, bukan hanya membudidayakan bunga, ia menumbuhkan harapan bagi para petani di Bandung Utara.

Perjalanan panjangnya dalam dunia pertanian dimulai sejak lebih dari satu dekade lalu. Ia menanam Aster sejak tahun 2010, kemudian beralih memperluas usaha ke bunga Mawar pada tahun 2016. Namun, perubahan terbesar terjadi pada tahun 2022, ketika ia mulai membudidayakan Ruskus, daun potong yang kini menjadi komoditas unggulannya.

Memilih Ruskus: Keputusan Strategis yang Mengubah Masa Depan

Asep mengelola dua lokasi kebun, masing-masing di:
– Kampung Manglayang RT 01/02, Desa Cihanjuang Rahayu, Kecamatan Parongpong
– Kampung Tohaga RT 03/08, Cihanjuang

Dari kedua lahan inilah ia mengembangkan berbagai komoditas, termasuk Mawar, Krisan, Aster, dan Ruskus. Namun seiring waktu, Ruskus menjadi primadona. “Panen berkesinambungan, sekali tanam bisa puluhan tahun. Target saya 20 ribu ikat per minggu. Semoga rekan-rekan bisa mengikuti jejak saya,” ungkapnya dalam salah satu sesi berbagi di kelompok tani.

Ruskus, atau Ruscus hypophyllum, dikenal sebagai daun hias premium dengan daun ramping, mengilap, dan sangat tahan lama. Ketahanannya mencapai 2–4 minggu setelah dipanen, membuatnya diburu florist untuk dekorasi, rangkaian bunga, hingga kebutuhan acara besar. Tidak seperti bunga potong yang mudah rusak, ruskus memiliki nilai simpan yang tinggi dan stabil.

Selain itu, Ruskus juga termasuk tanaman semi-perennial yang hanya perlu sekali tanam untuk panen berulang selama bertahun-tahun. Perawatannya mudah, minim hama, dan tidak memerlukan intensitas cahaya tinggi. Inilah yang membuat Asep melihat peluang besar bagi para petani di wilayahnya.

“Dari tahun ke tahun permintaan pasar Ruskus semakin meningkat. Saya ingin petani di daerah ini ikut menanam Ruskus, dan suatu saat kita bisa membangun perusahaan Ruskus,” ujarnya.

Pasar Meluas, Potensi Menguat

Saat ini, hasil kebun Asep telah dipasarkan ke sentra perdagangan bunga besar seperti Pasar Rawa Belong di Jakarta dan Bandungan, Semarang. Dua pasar tersebut merupakan jalur utama penyerapan komoditas florikultura nasional.

Meski sudah memiliki permintaan kuat dari pasar lokal, Asep mengakui bahwa untuk pasar ekspor ia belum mampu memenuhinya. “Keterbatasan lahan dan produk membuat ekspor belum terlaksana. Tapi peluangnya besar sekali,” jelasnya.

Harapan Asep sederhana namun penuh visi: memperluas budidaya ruskus secara kolektif. Semakin banyak petani yang menanam, semakin besar produksi daerah, dan semakin besar pula peluang masuk ke pasar internasional.

Ruskus vs. Mawar dan Aster: Alasan Petani Beralih

Pengalaman bertani lebih dari 14 tahun membuat Asep memahami betul karakter berbagai komoditas. Ketika ditanya mengapa memilih fokus pada ruskus, jawabannya jelas.

Mawar, menurutnya, memang memiliki harga tinggi dan daya tarik tinggi di pasar. Namun perawatannya tidak mudah. Mawar membutuhkan sinar matahari optimal, media tanam berkualitas, pemangkasan rutin, dan sangat rentan terhadap hama. “Risikonya besar, biaya perawatan tinggi,” ujarnya.

Aster, komoditas pertama yang ia tanam sejak 2010, lebih mudah dirawat. Namun harga per ikat relatif lebih rendah dan umur simpan bunga lebih pendek. Petani harus menanam ulang setiap kali musim panen selesai.

Ruskus, sebaliknya, menawarkan stabilitas. Perawatan ringan, panen berlangsung terus-menerus, umur simpan lama, dan pasar stabil. Jika ditanam di daerah yang cocok seperti Bandung Utara, ruskus bisa menjadi sumber pendapatan jangka panjang dengan risiko rendah.

“Ruskus itu berkelanjutan. Kita tidak harus menanam ulang terus-menerus, dan harganya stabil. Ini cocok untuk petani yang ingin usaha risiko kecil tapi pendapatan stabil,” ungkap Asep.

Wilayah Bandung Utara: Tanah Subur untuk Komoditas Bernilai Tinggi

Keputusan Asep menanam ruskus tidak semata-mata didasarkan pada peluang pasar. Kondisi geografis Bandung Barat, khususnya wilayah Bandung Utara, memiliki karakter lahan yang subur dan sesuai untuk tanaman ruskus. Iklim sejuk dan kelembapan tinggi membuat kualitas daun tumbuh lebih baik dan awet.

“Ruskus sangat cocok di sini. Keuntungan geografis Bandung Utara harus dimanfaatkan oleh petani,” kata Asep dalam sebuah diskusi kelompok tani.

Dengan potensi alam tersebut, Asep melihat peluang besar untuk mendorong produk lokal ke pasar nasional bahkan internasional.

Menginspirasi Melalui Peran sebagai Narasumber UMKM

Selain menjadi petani, Asep aktif menjadi narasumber dalam program Penguatan Kewirausahaan dan UMKM yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh daerah, mulai dari Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail, Anggota DPRD KBB Amung Ma’mur, Kepala Diskop UKM Sri Dustirawati, hingga perwakilan Forum UMKM KBB.

Dalam forum tersebut, Asep tidak hanya berbagi pengetahuan teknis tanaman hias, tetapi juga menyampaikan harapan besarnya terhadap pengembangan UMKM pertanian.

“Jika pemerintah memberikan dukungan, dari modal hingga pemasaran lokal dan luar negeri, saya yakin kehidupan petani akan meningkat. Bahkan bisa membuka lapangan pekerjaan dan menjadi sumber pendapatan asli daerah,” tegasnya.

Ia juga tak menutup diri terhadap kemungkinan hadirnya investor untuk memperluas skala produksi. Baginya, kolaborasi adalah kunci.

Asep mengatakan kebun kami sudah dikunjungi oleh Ir. H. Nandang Sudrajat, M.M., yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPN Tani Merdeka Indonesia (TMI) yang juga dikenal sebagai Tenaga Ahli Menteri Pertanian. Dalam kunjungannya beliau menyampaikan pesan untuk terus membudidayakan rusfus lebih maju lagi dengan mengajak para petani lain maju bersama.

Rusfus sebagai obat

Rusfus memiliki potensi sebagai bahan obat tradisional. Berikut beberapa manfaat dan kandungan kimia daun ruskus:

Manfaat
1. Anti-inflamasi: Mengurangi peradangan dan nyeri.
2. Antimikroba: Menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur.
3. Antioxidan: Melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas.
4. Anti-diabetes: Membantu mengatur kadar gula darah.
5. Anti-kanker: Menghambat pertumbuhan sel kanker.

Kandungan Kimia
1. Flavonoid: Antioksidan dan anti-inflamasi.
2. Saponin: Antimikroba dan anti-inflamasi.
3. Alkaloid: Anti-kanker dan anti-diabetes.
4. Tanin: Anti-inflamasi dan antimikroba.
5. Vitamin dan mineral: Meningkatkan kesehatan umum.

Penggunaan Tradisional
1. Obat batuk dan pilek.
2. Mengobati luka dan peradangan.
3. Membantu mengatur tekanan darah.
4. Mengobati diabetes.
5. Sebagai obat anti-kanker alami.

Cara Pengolahan
1. Teh daun ruskus: Rebus 10-15 gram daun kering dalam 1 liter air.
2. Infus daun ruskus: Rendam 5-10 gram daun kering dalam 1 gelas air panas.
3. Ekstrak daun ruskus: Gunakan mesin ekstraksi atau metode tradisional.
4. Salep daun ruskus: Campurkan ekstrak dengan minyak zaitun atau minyak kelapa.

Membangun Mimpi Bersama Para Petani

Kini, di tengah rutinitasnya merawat ruskus di dua kebun yang hijau, Asep terus mengajak para petani di Parongpong untuk ikut membudidayakan komoditas ini. Ia percaya, dengan kerja sama, para petani bisa mengembangkan jejaring yang kuat dan membangun usaha florikultura yang berkelanjutan.

“Saya ingin petani di sekitar saya maju bersama. Kalau kita kompak menanam ruskus, kita bisa bersaing di pasar nasional, bahkan internasional,” ujarnya penuh optimisme.

Asep Ependi bukan hanya seorang petani. Ia adalah gambaran nyata bagaimana ketekunan, visi, dan keberanian mengambil keputusan dapat mengubah masa depan sebuah komunitas. Dari kebunnya yang sederhana, ia menanam sebuah harapan: bahwa petani Indonesia mampu berdiri sejajar di antara pelaku florikultura dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *