Gerakan Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana (GKSTTB) PKK Lembang Resmi Diluncurkan: Alarm Stunting dan Ancaman Sesar Lembang Jadi Fokus Utama

Bandung Barat Nasional

Lembang, 3 Desember 2025 Kabupaten Bandung Barat (KBB) . Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, secara resmi meluncurkan Gerakan Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana (GKSTTB) Tahun 2025. Acara yang menggaungkan komitmen resiliensi keluarga ini diselenggarakan secara khidmat di Hotel Nirwana Lembang, pada Rabu, 3 Desember 2025.

Acara ini membuktikan penegasan dalam mengimplementasikan Program Prioritas GKSTTB yang merupakan hasil kesepakatan nasional dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) X PKK Tahun 2025. GKSTTB dicanangkan sebagai upaya konkret Tim Penggerak PKK di seluruh jenjang, khususnya Pokja IV (Kesehatan, Lingkungan, dan Perencanaan Sehat), dalam mewujudkan visi besar “Terwujudnya Keluarga Berdaya Dan Sejahtera untuk Mendukung Asta Cita Menuju Indonesia Emas 2025.”

​Hadir dalam acara tersebut Camat Lembang, Bapak Bambang Eko Setyowahjudi, yang sekaligus membuka acara; Ketua TP-PKK Kecamatan Lembang, Ibu Maya Ekawati; perwakilan lintas sektor seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat, dan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bandung Barat.

​Dua Sisi Mata Uang Lembang: Keindahan dan Kerawanan

​Dalam sambutan pembukanya, Camat Lembang, Bambang Eko Setyowahjudi, mengucapkan terima kasih kepada seluruh kader PKK yang menjadi garda terdepan pembangunan di masyarakat. Camat Bambang lantas menyoroti dua isu mendasar yang tengah dihadapi wilayahnya: isu kemanusiaan dan isu kebencanaan.

​“Wilayah kita ini memang indah, sejuk, dan memiliki potensi besar. Namun di balik itu, kita juga memiliki kerawanan tertentu yang harus diantisipasi bersama,” ujar Camat Bambang, merujuk pada ancaman yang membayangi kawasan.

​Isu kebencanaan yang paling vital, menurut Camat, adalah keberadaan Sesar Lembang, yang membentang kurang lebih 29 kilometer. “Di beberapa titik seperti SuntenJaya, Batu Lonceng, dan wilayah Langensari, terdapat indikasi struktur batuan yang menunjukkan jalur sesar. Area tersebut memang tidak diperbolehkan untuk dibangun demi keselamatan,” tegasnya. Beliau menambahkan bahwa meskipun insiden batu jatuh beberapa waktu lalu sudah dianalisis oleh tim geologi sebagai peristiwa alamiah, BPBD tetap harus mengantisipasi potensi bahaya tersebut.

​Krisis Stunting Sebagai Isu Kemanusiaan Mendesak

​Selain ancaman geologi, Camat Bambang Eko juga menyampaikan alarm keras mengenai isu kemanusiaan yang lebih dekat dengan keluarga: stunting. Berdasarkan data terbaru, Kecamatan Lembang mengalami lonjakan kasus stunting yang sangat signifikan.

​“Tahun lalu, jumlah kasus berada di angka sekitar 400-an. Namun tahun ini, berdasarkan basis data terbaru, angka tersebut meningkat hingga hampir 3.000 kasus. Ini membutuhkan perhatian serius kita semua, terutama para kader PKK, aparat desa, dan tim kesehatan,” tutur Camat dengan nada prihatin.

​Lonjakan drastis ini menggarisbawahi urgensi peran Pokja IV PKK. Camat memastikan bahwa intervensi gizi akan diperkuat melalui program Pelita Meninggi, yaitu bantuan telur di bawah pengawasan ketat Puskesmas. Hal ini sesuai dengan Rencana Induk PKK 2025–2029 yang memprioritaskan harmonisasi program dengan prioritas nasional, termasuk penanggulangan stunting dan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM).

​Mitigasi Mandiri: Keluarga Sebagai Penyelamat Utama

​Usai peluncuran, acara dilanjutkan dengan sosialisasi GKSTTB yang disampaikan oleh pemateri utama, termasuk Bapak Dedi dari BPBD Destana (Desa Tangguh Bencana) Kecamatan Lembang.

​Dedi menekankan bahwa penanggulangan bencana adalah kewajiban bersama, dan hingga kini, “tidak ada satu pun pihak yang bisa memprediksi kapan bencana akan terjadi.”

​“Bencana adalah takdir alam. Kita tidak bisa mencegahnya sepenuhnya, tetapi kita bisa berusaha untuk mengurangi dampaknya, terutama melalui upaya mitigasi di lingkungan keluarga,” jelasnya.

​Mengutip hasil survei di Jepang negara dengan tingkat resiliensi bencana tinggi, Dedi mengungkapkan data yang menyentuh: yang paling berperan menyelamatkan diri ketika bencana adalah diri sendiri, dan setelah itu, keluarga.

​“Oleh sebab itu, kita dan keluarga harus memahami mitigasi bencana: Apa yang harus dilakukan? Kemana harus mengungsi? Bagaimana langkah penyelamatan pertama?” tanya Dedi retoris kepada para kader, menekankan bahwa peran kader PKK sangat vital dalam pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana).

​Lebih lanjut, Dedi menyoroti keterkaitan antara potensi bencana dengan isu lingkungan: Sampah, Kerusakan lingkungan, dan Potensi bencana adalah tiga isu yang saling berkaitan. Jika sampah diabaikan, ia dapat memicu banjir; kerusakan ekosistem di Lembang dapat memicu longsor karena hilangnya daya dukung tanah. Ini sejalan dengan fokus Pokja IV PKK dalam bidang Kelestarian Lingkungan Hidup.

​Kekuatan Ibu-Ibu dalam Menjinakkan Api Sejak Awal

​Aspek “Tanggap Bencana” diperkuat oleh pemaparan Bapak Denny Aris dari Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bandung Barat. Denny sangat merespons positif kegiatan GKSTTB, karena kuncinya ada di tingkat rumah tangga.
​“Untuk penanganan kebakaran, kuncinya justru ada di tingkat rumah tangga. Biasanya yang berada di rumah adalah ibu-ibu atau para asisten rumah tangga,” ujar Denny Aris.

​Ia berharap edukasi mengenai kesiapsiagaan dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat, khususnya pelatihan penanganan ‘api awal’ sebelum api membesar. Menurutnya, jika masyarakat mampu menangani api awal dengan benar, kerugian dan korban jiwa dapat diminimalkan.

​Denny juga mendorong agar di lingkungan masyarakat dibentuk Sistem Keamanan Lingkungan (SKLK) yang dilengkapi dengan pembinaan dan pelatihan berkelanjutan. Ia menegaskan, peran Damkar tetap krusial, namun kehadiran GKSTTB diharapkan dapat menciptakan “lingkungan yang mandiri dan siap menghadapi keadaan darurat.”

​Harapan Menuju Keluarga Berdaya
​Sosialisasi yang dibawakan oleh Asih, Ketua Pokja IV Kecamatan Lembang, turut menjelaskan detail teknis GKSTTB yang mencakup aspek kesehatan (seperti penuntasan TBC dan deteksi dini kanker), lingkungan (pengelolaan sampah), hingga perencanaan sehat (Keluarga Berencana dan tabungan bersalin).

​Secara resmi, Camat Lembang, Bapak Bambang Eko Setyowahjudi, membuka acara dengan harapan mendalam, bahwa gerakan ini akan “memperkuat mental para kader dan ibu-ibu ketika menghadapi situasi darurat.”

Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan kegiatan inti, yaitu Sosialisasi Gerakan Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana (GKSTTB) Kecamatan Lembang Tahun 2025.

​Sosialisasi ini mengusung tema penting: “Terwujudnya Keluarga Berdaya dan Sejahtera untuk Mendukung Asta Cita Menuju Indonesia Emas 2045.”

​Sesi Pemaparan Materi

​Sesi pemateri diisi oleh narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu:

  • Ibu Asih, selaku Ketua Pokja IV Kecamatan Lembang.
  • Bapak Dedi, dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Destana Kecamatan Lembang.
  • Bapak Deniny Aris, dari Aparatur Pemadam Kebakaran Kabupaten Bandung Barat (KBB).

​Melalui kolaborasi antara TP-PKK, BPBD, Damkar, dan aparat desa, peluncuran GKSTTB di Kecamatan Lembang ini menjadi tonggak penting dalam upaya mewujudkan keluarga yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga tangguh dalam menghadapi potensi ancaman alam dan kemanusiaan, membawa semangat resiliensi dari level rumah tangga menuju Indonesia Emas 2045. (red-nk)

Berikut di bawah ini adalah rangkuman dari dokumen yang dipresentasikan dalam acara, silahkan klik dan selamat membaca.

​SINERGI KELUARGA MENUJU INDONESIA EMAS 2045 MELALUI RENCANA INDUK DAN STRATEGI GERAKAN PKK 2025–2029​PENGANTAR: REORIENTASI GERAKAN PKK DALAM KONTEKS PEMBANGUNAN NASIONAL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *