Wakil Bupati KBB Asep Ismail Hadiri Wisuda XVIII STAI Darul Falah Jadi Gerbang Menuju Institut dan Perjuangan Hidup

Bandung Barat Pendidikan

Bandung Barat. 10 Desember 2025. Suasana haru dan syukur mewarnai prosesi Wisuda ke-XVIII Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darul Falah Bandung Barat yang digelar, Sabtu (5/7). Namun, lebih dari sekadar serah-terima ijazah bagi 81 wisudawan, acara ini menandai babak akhir sekaligus awal yang baru bagi lembaga pendidikan tersebut. Wisuda ini menjadi yang terakhir dengan label STAI, sebelum resmi bertransformasi menjadi Institut Darul Falah Bandung Barat dalam waktu dekat.

Upacara yang sarat dengan nuansa kebudayaan dan keislaman ini mengawali prosesinya dengan upacara adat penyambutan, iringan shalawat, serta pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Di hadapan sivitas akademika, tamu undangan, dan keluarga wisudawan, Ketua STAI Darul Falah, Dr. H. Abdul Mun’im Amaly, M.Pd., menyampaikan kebanggaan sekaligus harapannya.

“Alhamdulillah, pelaksanaan wisuda hari ini berjalan dengan lancar. Wisuda ini merupakan wisuda terakhir dengan status STAI Darul Falah, karena pada kesempatan ini sekaligus digelar acara tasyakur atas peralihan status Darul Falah menjadi lembaga pendidikan yang lebih tinggi, yaitu Institut Darul Falah Bandung Barat. Ini adalah momentum bersejarah bagi kami,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

Perubahan status ini pun mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Wakil Bupati Kabupaten Bandung Barat, H. Asep Ismail, M.Si., yang hadir memberikan sambutan, menyatakan kebanggaannya.

“Alhamdulillah, dari yang awalnya berstatus sekolah tinggi, insyaallah bulan depan sesuai informasi dari Ketua Yayasan akan berubah menjadi institut, dan ke depannya kita berharap dapat terus berkembang hingga menjadi universitas,” tutur Asep Ismail. Ia juga berpesan kepada para lulusan baru, “Wisuda bukan akhir, tetapi merupakan awal dari perjuangan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh.”

Harapan serupa disampaikan Abdul Mun’im. Ia berharap transformasi ke institut dapat memperluas kontribusi lembaga. “Saya berharap Institut Darul Falah dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dalam dunia pendidikan, bukan hanya dalam bidang pendidikan agama saja tetapi juga dalam pendidikan vokasi,” jelasnya, menyebut rencana pembukaan program studi seperti Manajemen Bisnis dan Psikologi Islam.

Sarjana sebagai Awal Perjalanan

Di tengah kemeriahan dan kebahagiaan para wisudawan, Dr. H. Saca Suhendi, M.Ag., Sekretaris Bidang Kelembagaan, memberikan orasi ilmiah yang penuh motivasi sekaligus renungan. Ia mengingatkan bahwa gelar sarjana adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

“Sarjana adalah kebahagiaan sekaligus tantangan. Tidak cukup berhenti di satu titik, karena banyak ilmu pengetahuan yang harus ditemukan. Dengan berpengetahuan, insya Allah kita akan berilmu, beramal, dan menjadi manusia yang berakhlak. Kunci dari ilmu adalah akhlak,” tegasnya.

Dengan gaya bercerita yang humanis, Dr. Saca mengajak para lulusan untuk memiliki impian besar, bergaul dengan orang-orang sukses, dan membangun keyakinan. “Kalau Anda berpikir sukses, maka temuilah orang-orang sukses. Jangan mencari orang-orang gagal, karena orang gagal tidak mungkin bisa menjelaskan cara sukses,” pesannya.

Ia juga mengingatkan agar pendidikan tidak mengubah akhlak dan rasa syukur seseorang, khususnya kepada orang tua. “Janganlah pendidikan mengubah akhlak kita. Jangan biarkan pendidikan mengubah karakter kita. Pendidikan seharusnya membuat kita semakin bersyukur kepada Allah dan berakhlak kepada kedua orang tua yang membesarkan kita.”

Pesan tentang kontribusi disampaikannya dengan metafora yang menyentuh. “Bermanfaatlah menjadi sarjana. Kalau kita tidak bisa menjadi pohon besar di hutan belantara, jadilah tanaman hias di depan rumah yang indah dipandang mata tetapi kalau kita tidak bisa membuat jalan besar untuk orang lain, buatlah jalan kecil agar orang lain menemukan jalan besar. Itulah fungsi menjadi sarjana.”

Suara Generasi Penerus

Salah satu representasi dari lulusan terbaik adalah Siti Rodiah, penerima penghargaan Organisasi Terbaik. Selama menempuh studi di Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), ia aktif memimpin berbagai organisasi kemahasiswaan.

“Selama berkuliah di STAI Darul Falah, saya pernah dipercaya menjadi Ketua Himpunan, Ketua DEMA/BEM, dan juga Presiden Mahasiswa. Penghargaan ini sangat berarti bagi saya karena memimpin organisasi bukan hal yang mudah,” ungkap Siti, yang berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.

Ia pun berpesan kepada adik-adik tingkatnya untuk tidak menjadi “kupu-kupu” (kuliah-pulang). “Ikutilah proses, bergabung dalam organisasi, kembangkan potensi, dan berikan kontribusi untuk kemajuan STAI Darul Falah ke depan.”

Prosesi wisuda yang dimulai sejak pagi itu ditutup dengan pembacaan doa, penyerahan penghargaan kepada wisudawan terbaik akademik dan non-akademik, serta ramah tamah. Dengan diwisudanya 81 sarjana dari tiga program studi—Pendidikan Agama Islam (PAI), PGMI, dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD)—STAI Darul Falah menutup satu chapter-nya dengan gemilang.

Kini, tantangan baru telah menanti: bagi para sarjana baru untuk membuktikan ilmu dan akhlaknya di masyarakat, dan bagi almamater yang telah melahirkan mereka untuk mengemban amanah baru sebagai institut, terus berkontribusi mencetak generasi yang tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga berkarakter dan bermanfaat bagi negeri. Seperti pesan Dr. Saca, “Kesuksesan bisa diraih sejauh mana kita melakukan kreativitas, aktivitas, kesabaran, ketekunan, dan keyakinan dengan usaha yang kita bangun.” Semoga. (red-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *