Hujan Syukur di Ngamprah: Manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani Menggema, Menguatkan Ruhani dan Ukhuwah Warga Bandung Barat

Bandung Barat

Kabupaten Bandung Barat. 4 Januari 2026. Hujan yang turun sejak pagi tidak menyurutkan langkah ratusan jamaah untuk menghadiri kegiatan Manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani Q.S. yang digelar di Masjid Agung Ash-Shiddiq, Kompleks Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kecamatan Ngamprah, Minggu (4/1/2026). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah (LDTQN) KBB Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, ini berlangsung khidmat sejak pukul 08.00 WIB hingga selesai.

Manaqib yang bertepatan dengan 15 Rajab 1447 Hijriah tersebut mengusung semangat penguatan nilai-nilai keimanan dan keteladanan para wali Allah, khususnya Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani, seorang ulama besar yang dikenal luas sebagai simbol keteguhan iman, keluhuran akhlak, dan pengabdian tanpa pamrih. Tema besar kegiatan dirangkai dalam slogan “Amalkan, Amankan, dan Lestarikan”, serta dimaknai melalui motto khas Suryalaya, KATARA (katingali nyata), KARASA (karasa manfaatna), dan KARAMPA (karampa hasilna).

Acara ini menghadirkan mubaligh dari Pondok Pesantren Suryalaya, H. Toras Zainuddin Nasution, Lc., yang menyampaikan tausyiah dengan pendekatan ilmiah, reflektif, dan menyentuh sisi terdalam spiritual jamaah. Dalam ceramahnya, ia mengajak umat untuk kembali menata kesadaran ruhani di tengah dinamika kehidupan modern yang kerap menggerus ketenangan batin.

“Hujan dan rasa syukur di setiap jembatan keyakinan. Masing-masing di alam dunia ini dipersiapkan untuk kehidupan, menenangkan jiwa dan mendekatkan jiwa kepada Allah,” ujar H. Toras dalam pengantar tausyiahnya. Ia menekankan pentingnya menghadirkan rasa syukur yang sedalam-dalamnya sebagai fondasi iman, karena dengan iman, kehidupan akan melahirkan keselamatan, baik secara ritual maupun sosial.

Menurutnya, zikir adalah jalan kesadaran dan penguatan iman. Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Aku dan seluruh nabi sebelumku mengucapkan: La ilaha illallah.” Kalimat tauhid tersebut, kata dia, menjadi titik awal perjalanan hidup manusia. “Barang siapa telah mengucapkan La ilaha illallah, maka di situlah proses hidupnya bermula,” tuturnya.

Dalam konteks bulan Rajab yang termasuk salah satu dari empat bulan haram, H. Toras juga mengulas peristiwa besar Isra dan Mi’raj yang dialami Nabi Muhammad SAW satu tahun sebelum hijrah ke Madinah. Peristiwa itu, lanjutnya, terjadi setelah Nabi melewati masa yang sangat berat, yakni wafatnya dua sosok penopang utama dakwah Islam, Khadijah RA dan Abu Thalib, yang dikenal sebagai ‘Amul Huzn atau tahun kesedihan.

“Dua insan ini adalah pilar kekuatan dakwah: harta dan kekuasaan. Ketika keduanya tiada, perjuangan Rasulullah SAW menjadi sangat berat,” ungkapnya. Namun, justru dalam titik terendah itulah Allah SWT memperjalankan Nabi dalam Isra dan Mi’raj sebagai bentuk penguatan spiritual dan penghiburan Ilahi.

Ia menegaskan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang dimuliakan, bukan semata-mata karena jasad, melainkan karena ruh. “Esensi sejati manusia adalah ruhnya. Ruh Nabi Muhammad SAW adalah ruh pertama yang Allah ciptakan, dan dari ruh itulah seluruh ruh manusia diciptakan,” jelasnya, merujuk pada konsep perjanjian primordial (mitsaq) antara Allah dan seluruh ruh manusia.

Kegiatan manaqib ini dihadiri oleh sekitar 300 jamaah dari berbagai majelis taklim dan unsur organisasi keagamaan. Tampak hadir perwakilan LDTQN, keluarga besar Pondok Pesantren Suryalaya, Generasi Muda Pondok Pesantren Suryalaya (GMPS), serta sejumlah tokoh masyarakat. Hadir pula perwakilan BNN Kabupaten Bandung Barat sebagai bentuk sinergi moral dan spiritual dalam membangun masyarakat yang sehat dan berakhlak.

Rangkaian acara berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan. Dimulai dengan khataman Al-Qur’an yang dipimpin oleh Kuswara, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ustadz Dadang. Majelis doa dipimpin oleh Ustadz Aji, sementara tanbih disampaikan oleh Ustadz Zulkarnain. Acara juga diisi dengan tawasul oleh Ustadz Kus, markobah oleh Ustadz Syafaat, sebelum ditutup dengan tausyiah utama oleh H. Toras Zainuddin Nasution.

Panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kesinambungan dakwah tarekat yang berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, sekaligus memperkuat ukhuwah islamiyah di Kabupaten Bandung Barat. Melalui manaqib, jamaah diajak tidak hanya mengenang karamah para wali, tetapi juga meneladani perjuangan dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah tantangan sosial, ekonomi, dan budaya yang semakin kompleks, kegiatan keagamaan seperti ini dinilai relevan sebagai ruang perenungan dan penguatan moral masyarakat. Manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani di Masjid Agung Ash-Shiddiq bukan sekadar ritual, melainkan momentum kolektif untuk meneguhkan kembali jati diri manusia sebagai makhluk ruhani yang bertauhid, berakhlak, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Dengan semangat “Amalkan, Amankan, dan Lestarikan”, gema zikir dan doa yang mengalun di pagi hari itu seolah menjadi penanda bahwa nilai-nilai spiritual tetap hidup dan berdenyut di jantung Kabupaten Bandung Barat, menyatukan iman, tradisi, dan harapan dalam satu ikatan kebersamaan. (nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *