Bandung, Jawa Barat, Februari 2026. Di balik hiruk-pikuk Jalan Dago, terselip sebuah oase yang menawarkan keteduhan dan kedamaian. Green Pine, yang terletak di Dago Pojok, Bandung, bukan sekadar kafe atau taman wisata biasa. Di balik rimbunnya pepohonan dan sejuknya udara pegunungan, tersimpan narasi tentang kebangkitan, pemberdayaan, dan semangat berbagi rezeki. Dalam dua bulan terakhir, tempat ini mengalami transformasi di bawah tangan dingin Dandi, seorang pengusaha kuliner yang membawa visi humanis untuk menjadikannya ruang berkumpul yang terjangkau bagi semua kalangan.

Awalnya, lokasi yang kini ramai dikunjungi ini hanyalah halaman belakang rumah milik Ben. “Pak Ben punya ide untuk menjadikannya sebagai wedding house. Namun, konsep tersebut hanya berjalan sekitar satu tahun, kemudian tempat ini vakum kurang lebih dua tahun,” kisah Dandi, pengelola Green Pine. Kebangkitan tempat ini berawal dari sebuah kepercayaan pada Desember 2025. Melihat kesuksesan Dandi yang merintis usaha ayam geprek hingga memiliki beberapa outlet, Ben menawarkannya untuk menghidupkan kembali Green Pine. Dandi menyambut tawaran itu dan memulai pengelolaan dengan konsep yang segar.

Melalui media ini bagi yang mau reservasi tempat dan order Menu bisa menghubungi 0888 0186 8123
“Dengan konsep yang sekarang, khususnya di Kota Bandung, cukup sulit menemukan tempat yang masih asri. Dari situ saya melihat nilai yang dimiliki tempat ini,” ujar Dandi. Ia tidak ingin Green Pine menjadi tempat eksklusif. Sebaliknya, ia membidik pasar masyarakat menengah ke bawah dengan harga menu yang sangat terjangkau. “Untuk harga, kami menetapkan di bawah Rp25.000,00 per porsi. Target kami memang masyarakat menengah ke bawah, karena tidak semua kalangan memiliki akses ke tempat wisata yang nyaman untuk melepas penat, berkumpul bersama keluarga, atau sekadar bersilaturahmi,” paparnya. Menu yang disajikan tetap berusaha mempertahankan citra Sunda, menghadirkan rasa lokal dalam kemasan yang elegan dan sederhana.

Dalam waktu singkat, konsep ini mulai menunjukkan hasil. Green Pine berhasil menjalin kemitraan dengan beberapa perguruan tinggi di sekitarnya. “Alhamdulillah, dalam satu bulan terakhir kami sudah bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di sekitar sini, seperti Poltek pos, Polman, dan Unikom. Pada Februari nanti, menjelang Ramadan, sudah ada beberapa kegiatan kampus yang melakukan pemesanan tempat,” tutur Dandi dengan optimisme.

Namun, capaian yang paling membanggakan bagi Dandi bukan sekadar angka pengunjung, melainkan dampak sosial yang tercipta. Ia dengan sengaja melibatkan masyarakat sekitar dalam operasional Green Pine. Sistem yang dijalankan bukan kepemilikan penuh, melainkan kerja sama saling menguntungkan. “Menu makanan di sini tidak saya kelola sendiri, melainkan bekerja sama dengan warga, seperti penjual baso, lotek, dan makanan lainnya. Dengan begitu, perekonomian warga ikut terangkat,” jelasnya. Prinsip ini ia pegang teguh: “Prinsip saya, rezeki bisa dicari, tetapi silaturahmi itu yang harus dijaga.”
Saat ini, Green Pine dikelola oleh lima hingga enam karyawan, dengan rencana penambahan seiring peningkatan pengunjung. Kebijakan rekrutmen pun memprioritaskan warga sekitar tanpa memandang latar belakang pendidikan. Dukungan dari warga pun sangat positif. “Alhamdulillah, warga sangat mendukung. Tanggapannya positif, bahkan banyak yang merekomendasikan Green Pine kepada kerabat dan teman-teman mereka,” kata Dandi.

Operasional Green Pine dibuka setiap hari pukul 10.00 hingga 21.00 WIB. Ada rencana untuk memperluas layanan pasca-Lebaran dengan membuka sesi sarapan prasmanan setiap akhir pekan mulai pukul 06.00 WIB. Daya tarik tempat ini telah menjangkau pengunjung dari berbagai kota, tidak hanya dari Bandung. “Tidak hanya dari Bandung, ada juga pengunjung dari luar kota, bahkan dari Ambon dan Maluku. Banyak dari mereka datang berdasarkan rekomendasi masyarakat sekitar,” ungkap Dandi.
Sebagai pengusaha yang juga memiliki bisnis ayam geprek dan berencana menghidupkan kembali usaha kateringnya, Dandi memandang Green Pine sebagai lebih dari sekadar bisnis. Harapannya untuk tahun 2026 sederhana namun penuh makna: “Saya berharap apa yang saya kelola ini bisa memberikan manfaat bagi banyak orang, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit. Mudah-mudahan kehadiran Green Pine bisa membantu masyarakat sekitar dan membuka lebih banyak peluang.”

Green Pine Dago, dengan konsep “healing” yang ramah kantong dan komitmen pemberdayaan warga, telah menuliskan babak baru. Ia bukan hanya tentang makanan dan pemandangan, melainkan tentang membangun ekosistem ekonomi mikro yang inklusif. Di tengah tantangan ekonomi, Dandi dan Green Pine membuktikan bahwa bisnis yang berkelanjutan bisa dibangun dengan fondasi gotong royong dan kepedulian sosial, menciptakan ruang di mana silaturahmi dan kesejahteraan tumbuh bersama di antara rimbunnya pepohonan pinus Bandung. (nk)