Kolaborasi Kopdes-BUMDes Cikahuripan, Model Pemberdayaan Ekonomi Desa Berbasis Produksi dan Distribusi

165 Desa KBB KDMP Bandung Barat

Cikahuripan, Lembang, 3 Februari 2026. Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, menjadi salah satu lokasi kunjungan lapangan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendesa PDT) dalam rangka peninjauan langsung pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) serta program ketahanan pangan berbasis kolaborasi Koperasi Desa (Kopdes) dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Kunjungan ini dilakukan oleh tim Direktorat Penyerasian Pembangunan Daerah Khusus sebagai bagian dari penguatan kebijakan pembangunan desa berbasis ekonomi produktif.

Rombongan Kemendesa PDT dipimpin oleh Heldo Marta, Analis Kebijakan Ahli Madya yang mewakili Direktur Penyerasian Pembangunan Daerah Khusus, didampingi Dahlia selaku Analis Kebijakan Ahli Madya, bersama jajaran Kepala Subbagian Tata Usaha, pejabat fungsional, serta staf teknis. Tim melakukan peninjauan ke gedung Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang telah dibangun, sekaligus mengunjungi lokasi pengembangan ketahanan pangan desa.

Kepala Desa Cikahuripan Oman Haryanto menilai kunjungan tersebut sebagai bentuk nyata kehadiran negara dalam memastikan program pembangunan desa berjalan sesuai kondisi lapangan. “Dengan Kementerian Desa turun langsung ke lapangan, ini menjadi bentuk penilaian dan peninjauan sejauh mana program berjalan secara riil. Di Cikahuripan, salah satunya sudah terbangun gedung KDMP yang insyaallah sebentar lagi akan segera diisi. Kami menunggu dukungan lanjutan dari pemerintah, bukan hanya gedung, tetapi juga penguatan aset dan sarana lainnya agar koperasi segera beroperasi,” ujarnya.

Oman menjelaskan bahwa KDMP Cikahuripan dirancang memiliki tujuh gerai layanan ekonomi desa, termasuk salah satunya gerai apotek desa. Konsep ini diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi lokal yang terintegrasi, mulai dari produksi hingga distribusi. Dalam konteks tersebut, Desa Cikahuripan mengembangkan model kolaborasi antara BUMDes dan Kopdes.

“Di Cikahuripan, kami mengambil tematik tomat untuk BUMDes. BUMDes berperan sebagai produsen atau penanam, sementara koperasi berperan sebagai penjual. Jadi ada kolaborasi nyata antara program BUMDes dan Kopdes, saling menunjang, saling berkaitan. Produksi oleh BUMDes, distribusi dan penjualan oleh koperasi,” lanjut Oman.

Selain tomat, desa juga mengembangkan tanaman hortikultura berusia pendek seperti pakcoy sebagai bagian dari program ketahanan pangan. Menurutnya, sistem tanam cepat panen ini memungkinkan perputaran ekonomi yang lebih dinamis serta menjaga kesinambungan produksi. “Pakcoy ini usia tanamnya sekitar satu bulan, sehingga siklus produksi bisa cepat. Harapannya, BUMDes Cikahuripan tidak hanya berjalan, tetapi bisa menjadi salah satu BUMDes yang maju dan diakui di Kabupaten Bandung Barat,” ucapnya.

Terkait capaian produksi, ia menyampaikan bahwa penguatan sektor pertanian desa mulai menunjukkan hasil. “Untuk 2025, alhamdulillah sudah mulai panen. Panen perdana sudah dilakukan, hasilnya sudah bisa dirasakan oleh pengurus BUMDes dan mulai memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes). Kami tidak ingin hanya bergantung pada dana desa, tetapi berupaya menggali potensi agar desa mampu menghasilkan PADes yang lebih besar secara mandiri,” kata Oman Haryanto.

Produk hasil pertanian desa saat ini telah memiliki akses pasar, termasuk ke jaringan supermarket dengan harga yang telah ditetapkan. Namun, tantangan produksi masih menjadi perhatian. “Permintaan pasar cukup tinggi, tetapi produksi masih terbatas. Itu artinya kami harus menambah kapasitas tanam dan memperluas lahan agar daya gedor ekonomi desa semakin kuat,” tambahnya.

Dari pihak Kemendesa PDT, Ranal menyampaikan apresiasi terhadap potensi Desa Cikahuripan. “Potensinya luar biasa, terutama di sektor hortikultura. Dengan adanya gerai KDMP yang sudah terbentuk, diharapkan potensi ini bisa semakin dimaksimalkan. Kunjungan ini diharapkan membuka wawasan dan semangat baru bagi masyarakat desa agar ke depan semakin berkembang,” ujarnya.

Ketua KDMP Desa Cikahuripan, Enda Sumarna, menegaskan bahwa pengembangan koperasi diarahkan pada program pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya penguatan warung-warung lokal. Konsep yang dikembangkan mencakup distribusi langsung barang dan layanan ke warung desa, pemangkasan rantai distribusi, serta penyediaan produk berbasis pertanian, termasuk sistem hidroponik. “Tujuannya agar harga lebih terjangkau, distribusi lebih efisien, dan masyarakat desa menjadi pelaku utama dalam rantai ekonomi,” jelasnya.

Sementara itu Ketua BUMDes Desa Cikahuripan, Toto Liswanto, menyampaikan bahwa potensi pertanian hidroponik di wilayahnya memiliki daya saing tinggi di pasar nasional. Tomat bit hidroponik menjadi salah satu komoditas unggulan, meski jumlah petani yang menguasai teknologinya masih terbatas. Ia berharap dukungan pemasaran dan penguatan kapasitas produksi dapat mempercepat terwujudnya swasembada hortikultura desa serta meningkatkan kesejahteraan petani dan perekonomian lokal secara berkelanjutan.

Secara kebijakan nasional, langkah ini sejalan dengan Rencana Aksi Kemendesa PDT Tahun 2025, yang menargetkan percepatan pembentukan 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sesuai Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025, serta pembangunan fisik dan infrastruktur koperasi berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 17 Tahun 2025. Program ini juga terintegrasi dengan transformasi Indeks Desa, optimalisasi Dana Desa, dan penguatan pemberdayaan masyarakat melalui pendamping desa.

Kolaborasi Kopdes dan BUMDes di Desa Cikahuripan menunjukkan model pembangunan desa yang tidak hanya berbasis bantuan, tetapi berbasis produksi, distribusi, dan kemandirian ekonomi. Sinergi ini menempatkan desa sebagai subjek pembangunan, sekaligus membangun fondasi ekonomi lokal yang berkelanjutan, terukur, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. (nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *