BUMDes Cihideung Bangun Ketahanan Pangan Lewat Sapi Perah, Desa Kembangkan Ekonomi Berbasis Peternakan

Blog

Cihideung Kabupaten Bandung Barat, 3 Februari 2026. Pemerintah Desa Cihideung, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mulai membangun fondasi ketahanan pangan berbasis ekonomi desa melalui pengembangan sektor peternakan sapi perah yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Program ini menjadi bagian dari implementasi kebijakan nasional alokasi 20 persen dana desa untuk ketahanan pangan, yang di Desa Cihideung difokuskan secara strategis pada sektor peternakan produktif dan berkelanjutan.

Ketua BUMDes Cihideung, Dedi Komarna, menjelaskan bahwa program tersebut mulai direalisasikan pada September 2025 melalui pengadaan sapi perah bunting usia delapan bulan. “Sesuai RAB dari alokasi dana 20 persen program ketahanan pangan, kami membeli delapan ekor sapi perah bunting usia delapan bulan,” ujar Dedi dalam wawancara bersama media.

Langkah ini dirancang sebagai investasi jangka menengah dan panjang desa, tidak hanya untuk memenuhi aspek ketahanan pangan, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi desa yang berkelanjutan. Pada Desember 2025, hampir seluruh sapi tersebut melahirkan, menghasilkan pedet, dan mulai memasuki masa produksi susu.

“Alhamdulillah sudah berproduksi. Memang belum maksimal karena baru melahirkan, tetapi sapi sudah mulai menghasilkan susu,” kata Dedi.

Secara teknis, produksi normal sapi perah idealnya mencapai sekitar 15 liter per ekor per hari. Namun pada fase awal laktasi, produksi belum stabil. Sebagian hasil produksi juga dialokasikan untuk kebutuhan pedet. “Sekitar lima liter per ekor per hari dialokasikan untuk anak sapi, sehingga yang dijual belum seluruhnya,” jelasnya.

Pengelolaan peternakan dilakukan secara profesional dengan melibatkan tenaga ahli. BUMDes mengangkat kepala unit dan anak buah kandang (ABK) yang memiliki latar belakang profesi sebagai mantri sapi. Model pengelolaan ini dirancang agar usaha desa tidak berjalan secara tradisional, tetapi berbasis kompetensi dan standar teknis peternakan.

Untuk pemasaran, BUMDes Cihideung telah menjalin kerja sama dengan Koperasi Puspa Mekar di wilayah setempat. “Kami menjual susu ke koperasi. Dari koperasi juga kami membeli kebutuhan pakan, konsentrat, obat-obatan, serta kebutuhan lainnya,” ujar Dedi.

Harga jual susu ke koperasi saat ini berada pada kisaran Rp7.550 per liter, naik dari harga awal Rp7.400 per liter. Pemerahan dilakukan dua kali sehari, pagi dan sore, dengan rata-rata produksi sekitar 15 liter per ekor, meskipun fluktuatif tergantung kondisi sapi.

Untuk pakan hijauan, BUMDes bekerja sama dengan kelompok tani di wilayah Sikalong, Desa Citagumati, yang membudidayakan rumput odot sebagai pakan utama. Setiap sapi membutuhkan sekitar 10 kilogram rumput odot per hari serta 10 kilogram konsentrat (kargil). Pola pakan ini dirancang untuk menjaga produktivitas sekaligus kesehatan ternak.

Dari sisi operasional, usaha peternakan sapi perah di fase awal memang belum menghasilkan keuntungan. “Kalau dihitung biaya operasional, satu ekor sapi rata-rata baru menghasilkan sekitar 12 liter susu yang dijual. Itu masih untuk menutup biaya, belum menghasilkan keuntungan,” ungkap Dedi. Ia menyebut, secara bisnis, usaha baru mulai menunjukkan margin positif setelah dua hingga tiga bulan produksi stabil.

Kandang sapi saat ini masih berstatus sewa dan berlokasi di wilayah Sapitra. Biaya sewa mencapai Rp12 juta per tahun dengan kontrak dua tahun, meskipun kerja sama pengelolaan dirancang hingga lima tahun. “Ke depan, kami berharap bisa memiliki lahan sendiri, baik untuk kandang maupun penanaman rumput,” katanya.

BUMDes juga mulai merancang pengembangan usaha lanjutan, termasuk rencana pengemasan dan pengolahan susu, serta pengembangan wisata edukasi peternakan. Konsep ini mencakup edukasi pakan, pengolahan susu, hingga pengenalan dunia peternakan kepada masyarakat dan pelajar sebagai bagian dari ekonomi edukatif desa.

Dalam aspek tata kelola ekonomi desa, sistem bagi hasil telah diatur secara formal melalui Musyawarah Desa dan AD/ART BUMDes. Sebanyak 50 persen dari Sisa Hasil Usaha (SHU) BUMDes dialokasikan untuk Pendapatan Asli Desa (PAD), sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh desa secara kelembagaan.

“Harapan kami, program ketahanan pangan melalui BUMDes ini terus berkembang, jumlah sapi bertambah, dan ada penambahan modal, terutama untuk pengadaan lahan,” tutur Dedi.

Model pengembangan peternakan sapi perah yang diterapkan Desa Cihideung mencerminkan pendekatan pembangunan desa berbasis potensi lokal, kelembagaan ekonomi desa, dan keberlanjutan usaha. Program ini tidak hanya menjadi instrumen ketahanan pangan, tetapi juga strategi transformasi ekonomi desa yang terukur, terstruktur, dan berorientasi jangka panjang, sejalan dengan arah pembangunan desa nasional berbasis kemandirian dan pemberdayaan masyarakat. (nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *