Bandung Barat Bangun Jalur Ekspor Desa ke Malaysia, KDMP Cikole Tampil sebagai Etalase Potensi Daerah

165 Desa KBB KDMP Bandung Barat

Bandung, 4 Februari 2026. Kehadiran perwakilan Kabupaten Bandung Barat (KBB) dalam International Meeting Penyerasian Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dengan Institut Koperasi Malaysia di Ballroom Arion Suites Hotel Bandung menjadi momentum penting bagi penguatan peran daerah dalam jejaring ekonomi koperasi lintas negara. Partisipasi aktif unsur Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, pemerintah desa, serta Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menandai babak baru penguatan ekonomi desa berbasis ekspor dan kerja sama regional.

Perwakilan Kabupaten Bandung Barat yang hadir, terdiri atas unsur Dinas Koperasi dan UKM (Diskop UKM), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), kepala desa Cikole, Cikahuripan, dan Suntenjaya, serta para ketua KDMP, tidak hanya mengikuti rangkaian forum resmi, tetapi juga terlibat aktif dalam pameran produk, diskusi panel, hingga puncak acara gala dinner yang mempertemukan delegasi Indonesia dan Malaysia.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Bandung Barat, Dudi Supriadi, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut karena dinilai memberikan manfaat nyata serta membuka peluang pengenalan potensi daerah ke tingkat internasional, khususnya ke Malaysia. Ia berharap kerja sama ini dapat terjalin secara berkelanjutan dan memberikan dampak langsung bagi penguatan ekonomi desa di Bandung Barat.

Dalam forum tersebut, kegiatan tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antaranggota koperasi lintas negara, tetapi juga membuka ruang kolaborasi konkret antara koperasi Indonesia dan koperasi Malaysia, termasuk potensi kerja sama perdagangan, business matching, hingga barter produk unggulan desa di berbagai sektor, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, hingga produk olahan khas KDMP.

Produk yang dipamerkan dalam kegiatan ini berasal dari hasil produksi KDMP Desa Cikole, yang menjadi representasi KDMP di Kabupaten Bandung Barat. Desa Cikole tampil sebagai etalase potensi daerah, menampilkan berbagai produk unggulan yang mencerminkan kekuatan sektor pangan dan pertanian perdesaan Bandung Barat.

Salah satu potensi strategis yang mencuat dalam pertemuan tersebut adalah kebutuhan Malaysia terhadap suplai beras berkualitas, khususnya varietas Ciherang dari Kabupaten Bandung Barat. Beras ini dinilai memiliki kualitas yang sesuai untuk kebutuhan konsumsi pangan khas Malaysia, terutama sebagai bahan utama nasi lemak, makanan ikonik yang kerap disebut sebagai national dish Malaysia.

Nasi lemak dikenal sebagai hidangan khas yang dimasak dengan santan dan daun pandan, menghasilkan aroma harum dan rasa gurih, disajikan dengan sambal pedas-manis khas, serta aneka lauk pendamping. Kebutuhan beras berkualitas menjadi komponen utama dalam menjaga mutu cita rasa makanan tersebut, sehingga membuka peluang besar bagi petani dan koperasi desa di Bandung Barat.

Selain beras, berbagai komoditas lain dari Kabupaten Bandung Barat juga disiapkan untuk masuk pasar Malaysia melalui jalur kerja sama KDMP dengan Institut Koperasi Malaysia, seperti kopi, teh, gula aren, sayuran, buah-buahan, serta aneka makanan ringan dan produk olahan desa. Seluruh komoditas tersebut dinilai memiliki potensi ekspor karena berbasis produksi rakyat, berkelanjutan, dan memiliki keunikan lokal.

Kepala Desa Cikole, Tajuddin, menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam forum internasional ini memberikan manfaat strategis bagi desa dan masyarakat.

“Dengan mengikuti acara ini, kami mendapatkan manfaat besar. Pertama, mengenalkan Desa Cikole ke luar negeri. Kedua, kami bangga karena Desa Cikole menjadi desa pilihan dan terpilih mewakili hingga tingkat nasional. Ketiga, ini akan memicu desa kami untuk lebih aktif berperan dalam sektor ekonomi dan koperasi,” ujarnya.

Pernyataan senada disampaikan Komarudin, Ketua KDMP Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, yang dikenal sebagai KDMP percontohan secara nasional dan KDMP pertama yang memiliki gerai di wilayah Bandung Barat.

Kami, KDMP Cikole Kecamatan Lembang, menghaturkan apresiasi kepada Kemendes PDT atas inisiasi International Meeting dengan Malaysia. Jujur kami sampaikan, setelah sempat berada dalam situasi yang penuh tantangan dan ketidakpastian, kehadiran agenda ini membangkitkan kembali optimisme kami. Muncul harapan besar bahwa produk desa kami kini memiliki jalan untuk menembus pasar ekspor, khususnya ke Malaysia,” tutur Komarudin.

Ia menilai forum tersebut sebagai langkah strategis untuk menggali potensi desa hingga ke tingkat internasional.

“Ini acara yang sangat baik untuk menggali potensi desa sampai ke luar negeri. Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti pada seremoni, tetapi ada tindak lanjut nyata dari Kemendes PDT hingga benar-benar berhasil,” ujarnya.

Secara nasional, kegiatan ini merupakan bagian dari International Meeting Penyerasian yang diselenggarakan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia bersama Institut Koperasi Malaysia. Forum tersebut menjadi implementasi kebijakan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan dan Penguatan Koperasi Desa Merah Putih, yang menempatkan koperasi sebagai pilar utama hilirisasi produk desa dan penggerak ekonomi kawasan perdesaan.

Direktur Pengembangan Produk Unggulan Kemendes PDT, Dr. Muhammad Ridha Haykal Amal, menegaskan bahwa kedekatan geografis dan sosial budaya Indonesia–Malaysia merupakan modal strategis dalam membangun jejaring ekonomi koperasi regional.

Staf Khusus Menteri Desa dan PDT, Yaldi Abdi Harahap, juga menekankan bahwa forum ini diarahkan pada business matching antara koperasi desa dan mitra Malaysia, dengan konsep penyesuaian antara supply dan demand agar produk desa dapat menembus pasar luar negeri secara berkelanjutan.

Bagi Kabupaten Bandung Barat, forum ini menjadi pintu masuk penting dalam membangun jalur ekspor desa berbasis koperasi. KDMP tidak lagi diposisikan hanya sebagai lembaga ekonomi lokal, tetapi sebagai simpul strategis ekonomi desa yang terhubung dengan pasar regional.

Partisipasi aktif Bandung Barat dalam International Meeting ini menegaskan bahwa desa tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi subjek utama penggerak ekonomi. Dari sawah, kebun, kebun kopi, hingga dapur produksi rumah tangga desa, potensi ekonomi rakyat kini mulai terhubung langsung dengan pasar internasional, membuka harapan baru bagi kemandirian ekonomi desa dan penguatan kesejahteraan masyarakat perdesaan. (red-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *