Cisarua, 5 Februari 2026. Upaya memperkuat ketahanan pangan berbasis desa terus berkembang di Desa Cipada, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mitra Saluyu, pemerintah desa mengembangkan unit usaha peternakan ayam petelur yang berlokasi di kawasan Gamlok, wilayah sekitar Desa Cipada. Program ini dirancang sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan desa sekaligus bentuk sinergi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuju visi Indonesia Emas 2045.
BUMDes Mitra Saluyu dipimpin oleh Yana sebagai ketua, dengan Iwan Nudin sebagai bendahara, Dian sebagai sekretaris, serta Dian sebagai ABK (petugas operasional lapangan). Unit usaha ayam petelur ini mulai aktif berjalan sekitar tiga bulan terakhir, seiring dengan kebijakan program ketahanan pangan nasional yang mengalokasikan 20 persen dana desa untuk kegiatan tematik pangan.

“BUMDes sebenarnya ada setiap tahun, tetapi baru tahun ini aktif karena ada program ketahanan pangan dari pemerintah pusat. Program tematik kami fokus pada ayam petelur, dan sudah berjalan sekitar tiga bulan,” ujar Dian, ABK BUMDes Mitra Saluyu, dalam wawancara di lokasi kandang.
Pada tahap awal, populasi ayam yang dikelola berjumlah 800 ekor. Ayam didatangkan dalam usia 18 minggu dan mulai berproduksi pada usia 19–20 minggu. Saat ini, produksi telur harian tercatat rata-rata sekitar 35 kilogram per hari. Sebelum memasuki musim hujan, produksi sempat mencapai 38 kilogram, namun mengalami penurunan hingga sekitar 30 kilogram saat curah hujan meningkat.

Dari sisi manajemen pakan, BUMDes menerapkan prinsip efisiensi tanpa mengorbankan kualitas. Dian menjelaskan bahwa pakan yang digunakan sempat berganti merek, menyesuaikan harga pasar dan kualitas nutrisi. “Untuk bulan pertama kami pakai pakan merek Haida, bulan kedua diganti Teki, dan sekarang pakai Sreya. Kualitas tetap jadi prioritas, tapi harga juga harus diperhitungkan karena ini BUMDes,” katanya.
Saat ini, pakan yang digunakan adalah pakan murni tanpa campuran konsentrat, dengan harga sekitar Rp6.700 per kilogram. Pola pemberian pakan dilakukan dua kali sehari, pukul 07.00 dan 15.30 WIB. Dengan kapasitas 800 ekor ayam, kebutuhan pakan mencapai sekitar 80 kilogram per hari, atau rata-rata 100 gram per ekor per hari.

Dalam hal kemitraan, BUMDes Mitra Saluyu bekerja sama dengan PT Mulyasari yang berlokasi di Cianjur, Jawa Barat, untuk penyediaan pakan dan berbagai kebutuhan operasional lainnya. “Hampir 99 persen kebutuhan, dari bahan bangunan hingga pakan, melalui PT tersebut. Mereka juga mendampingi kami dalam perawatan, vaksinasi, dan pemantauan kesehatan ayam,” ujar Dian. Kemitraan ini dibangun setelah proses studi banding ke sejumlah daerah seperti Bogor dan Subang, guna memastikan keberlanjutan produksi dan kualitas manajemen peternakan.
Produksi telur dari Desa Cipada diarahkan untuk memenuhi beberapa segmen pasar. Prioritas pertama adalah kebutuhan warga desa, kemudian pasar grosir, UMKM kecil, serta SPPG. Untuk kerja sama dengan SPPG, telah disepakati pengiriman dua kali dalam sepekan dengan total sekitar 170 kilogram per pengiriman. Skema ini diharapkan mendukung rantai pasok pangan bergizi untuk program MBG.

Dari sisi harga jual, BUMDes menerapkan kebijakan fleksibel. Masyarakat lokal mendapatkan harga di bawah rata-rata nasional, sementara harga grosir menyesuaikan pasar daerah. Warga desa juga memperoleh diskon khusus sebagai bentuk keberpihakan terhadap ekonomi lokal.
Meski demikian, pengelolaan peternakan ayam petelur tidak lepas dari tantangan. Kendala utama yang dihadapi meliputi penyakit ayam, kematian ternak, serta dampak perubahan iklim. Selama tiga bulan operasional, tercatat delapan ekor ayam mati, dengan faktor penyebab utama kondisi cuaca dan kualitas udara kandang. Upaya pencegahan dilakukan melalui vaksinasi dua kali, pemberian vitamin tiga kali, serta perawatan rutin lainnya.
Pengelolaan limbah kotoran ayam (kohe) juga diarahkan pada pendekatan ramah lingkungan. Kotoran ayam kini dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman sayuran, sejalan dengan karakter Desa Cipada yang mayoritas warganya berprofesi sebagai petani. Ke depan, BUMDes juga merencanakan integrasi usaha dengan budidaya ikan lele sebagai bagian dari sistem pertanian terpadu.
Dari sisi pengembangan, bangunan kandang yang ada saat ini memiliki kapasitas hingga 1.500 ekor ayam. Pengurus BUMDes berencana menambah populasi ayam secara bertahap dalam satu hingga dua tahun ke depan guna meningkatkan margin usaha dan memperkuat kontribusi ekonomi desa.
Lebih dari sekadar unit usaha, keberadaan peternakan ayam petelur ini diposisikan sebagai instrumen pembangunan desa. Sinergi dengan program nasional, pemberdayaan ekonomi lokal, serta integrasi dengan sektor pertanian dan gizi masyarakat menjadi fondasi utama pengembangannya. Harapannya, inisiatif ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan Desa Cipada, tetapi juga menjadi model pengelolaan BUMDes yang berkelanjutan, mandiri, dan berorientasi pada kesejahteraan warga. (nk)