Kabupaten Bandung Barat, 28 Oktober 2025. Di pagi yang cerah di lapangan kecil SDN 4 Cimareme (Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat), tawa siswa dan siswi menggema bukan hanya karena permainan yang baru dimulai, tetapi karena sesuatu yang berbeda dari biasanya. Di sinilah mereka, anak-anak kelas satu hingga enam, berkumpul untuk merayakan hari bersejarah: Hari Sumpah Pemuda. Namun acara hari ini lebih dari sekadar upacara atau lagu kebangsaan: ada games seru, ada pembagian snack sehat bernama “Jagi-Jagi” dari produk Momogi, wafer buah manis dibalut coklat tebal, yang mengundang senyum sumringah di ratusan wajah anak-anak.


Kepala sekolah, Engkur Kuraesin, M.Pd, berdiri di halaman dengan mata yang memantau penuh harap. Ia menjelaskan bahwa kolaborasi sekolah dengan Momogi sengaja digelar hari ini, “karena bertepatan dengan tanggal 28 Oktober” — hari Sumpah Pemuda — “maka kami ingin meriahkan, tapi juga bermakna.” Acara seperti ini memang rutin dilakukan setiap hari besar di SDN 4 Cimareme lewat kerja sama dengan berbagai pihak.
Tapi di balik keceriaan pembagian snack dan games, ada cerita yang lebih dalam: cerita soal perjuangan memaknai program besar bernama Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini turut mengalir ke sekolah dasar ini. Program ini, sebagaimana dicatat oleh pemerintah melalui Badan Gizi Nasional, bertujuan menyediakan asupan gizi yang cukup bagi siswa — sekaligus mendukung agar mereka bisa konsentrasi belajar lebih baik dan tumbuh kembang sehat.


Kepala sekolah Engkur tak menyembunyikan tantangannya. Pada masa awal program MBG, siswa SDN 4 Cimareme masih berebut ketika mobil program datang — anak-anak menatap penuh harapan, bahkan “beranjak dari tempat duduknya menyongsong rangsum,” kata beliau. Namun, kondisi ini bukan tanpa masalah. Suatu waktu, ketika terjadi keracunan massal di sekolah lain akibat makanan basi, kekhawatiran melanda juga di sini. Di SDN 4 Cimareme, ketika rangsum MBG tiba, tiba-tiba tidak ada siswa yang ingin makan; porsi makanan penuh tak tersentuh. Bahkan, salah satu staf sekolah akhirnya membawa pulang makanan tersebut untuk ternaknya daripada mubazir.


Kejadian ini menjadi momen penting: “Di sinilah komunikasi antar semua pihak menjadi sangat penting,” ujar Engkur.
“Setelah Kepala Sekolah, Komite, dan pihak MBG (Makanan Bergizi) duduk berdiskusi, ada upaya untuk sementara waktu membangun kembali kepercayaan orang tua siswa. Hal ini dilakukan karena adanya kekhawatiran yang muncul setelah melihat kejadian di sekolah lain. Sebagai tindakan awal, menu MBG untuk sementara diganti dengan makanan ringan (snack) bergizi selama satu minggu. Menu ini terdiri dari susu, keju, roti, dan buah-buahan.


Alhamdulillah, setelah satu minggu berjalan dan kepercayaan orang tua kembali pulih terhadap program MBG, kegiatan makan bersama pun kembali berjalan seperti biasa. Anak-anak kembali menikmati MBG dengan senang hati. Bahkan, ada salah satu orang tua siswa yang menyampaikan pendapat positif, yaitu: ‘Sebelumnya, anak saya susah makan di rumah. Alhamdulillah, setelah ada program MBG dengan menu basah dan makan bersama teman-teman di sekolah, makannya menjadi lahap.’“
Kisah ini punya getaran human-interest yang kuat: bukan hanya soal distribusi makanan gratis, tetapi soal kepercayaan, koreksi, tanggung jawab bersama, dan anak-anak yang diam-diam memperhatikan.

Hari ini, ketika snack “Jagi-Jagi” dibagikan, di balik coklat yang manis itu ada harapan: harapan bahwa anak-anak SDN 4 Cimareme tumbuh tidak hanya sehat, tetapi juga cerdas, berdaya saing. Engkur berbicara dengan lembut: “Harapan saya ke depan, supaya SDN 4 Cimareme tetap maju jaya dalam segala hal, baik dalam proses belajar maupun kegiatan ekstrakurikulernya.”


Momen hari ini pun jadi simbol: snack, permainan, bendera merah-putih di latar belakang — semua berpadu menjadi sebuah kisah bahwa sekolah bukan sekadar tempat belajar, tetapi tempat tumbuhnya karakter, kesadaran, dan kepedulian kolektif.

Ketika Engkur menutup percakapan dengan, “Komunikasi dan kontrol adalah hal yang sangat penting agar program ini dapat terlaksana,” terasa ada suara lembut dari sebuah sekolah kecil yang ingin menjadi bagian besar dari perubahan: generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya. Dari SDN 4 Cimareme, dari anak-anak yang bermain dan tertawa tadi — kita bisa melihat bahwa di balik setiap program nasional, di balik setiap makanan yang dibagi, ada kisah kecil yang bermakna, dan harapan besar yang mengalir. (aq-nk)