Bandung Barat. 29 Desember 2025. Upaya memperkuat fondasi pendidikan karakter bagi insan pendidikan terus digalakkan di Kabupaten Bandung Barat. Salah satunya melalui kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Pendidikan Karakter bagi Insan Pendidikan Kabupaten Bandung Barat yang diselenggarakan oleh Paguyuban Pasundan Cabang Kabupaten Bandung Barat, Senin (29/12/2025), bertempat di Bale Gempungan, Lantai 4 Gedung B Kompleks Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat.

Kegiatan ini diikuti oleh 125 peserta yang terdiri dari pengawas pendidikan serta pendidik jenjang PAUD, SD, dan SMP. Hadir sejumlah tokoh penting, di antaranya Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Bandung Barat, Weda Wardiman, S.STP., M.Si., Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat, Asep Dendih, S.Pd., M.M., Ketua PC Paguyuban Pasundan Kabupaten Bandung Barat, H. Ernawan Natasaputra, serta Dr. Kunkun R.A.T. dari Bidang Organisasi Paguyuban Pasundan.

Sebagai narasumber utama, hadir Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat, Rustiyana, dan Guru Besar Universitas Pasundan, Prof. Dr. Hj. Erni Rusyani, M.M., yang memberikan pemaparan mendalam terkait urgensi pendidikan karakter di tengah dinamika sosial dan kemajuan teknologi.

Dalam pemaparannya, Rustiyana menegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan pondasi utama dalam membentuk kualitas manusia Indonesia. Menurutnya, karakter adalah sifat dan nilai yang melekat pada diri seseorang sepanjang hidup, sehingga pembentukannya harus dimulai sejak usia dini melalui pembiasaan yang konsisten.

“Karakter tidak bisa hadir dengan sendirinya. Karakter harus dibentuk melalui pembiasaan-pembiasaan. Baik dan buruknya seseorang sangat ditentukan oleh karakter yang dikenalkan dan dibiasakan sejak dini,” ujar Rustiyana.

Ia menjelaskan, Kementerian Pendidikan telah mendorong penerapan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat sebagai upaya memperkuat nilai dasar peserta didik. Kebiasaan tersebut meliputi bangun pagi, beribadah, sarapan, belajar, berolahraga, bermasyarakat, serta tidur teratur. Meski kebijakan pemerintah dapat berubah seiring pergantian kepemimpinan, Rustiyana menegaskan bahwa pendidikan karakter merupakan nilai universal yang tidak boleh ditinggalkan.

Rustiyana juga menautkan penguatan karakter dengan visi Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, salah satunya terkait nilai amanah. Menurutnya, amanah harus menjadi pesan yang terus disampaikan oleh pengawas kepada kepala sekolah dan guru, untuk kemudian diteruskan kepada peserta didik.
“Visi Bupati adalah amanah, dan amanah ini harus kita laksanakan bersama-sama. Bapak dan Ibu pengawas memiliki peran penting untuk mengawal dan menyampaikan visi ini secara konsisten,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengaitkan pendidikan karakter dengan konsep Pancawaluya di tingkat Provinsi Jawa Barat, yang mencakup lima nilai menuju kemuliaan, salah satunya cageur atau sehat, baik jasmani maupun rohani. Nilai tersebut dinilai sejalan dengan penguatan religiusitas dan moral peserta didik.
Dalam konteks aparatur sipil negara, Rustiyana juga menyinggung nilai BerAKHLAK yang berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif yang selaras dengan pendidikan karakter di sekolah.

Ia memaparkan bahwa pendidikan karakter mencakup empat dimensi utama, yakni olah hati (keagamaan dan moral), olah rasa (etika, seni, dan budaya), olah pikir (literasi dan intelektual), serta olah raga atau kinestetik (aktivitas fisik dan kerja sama). Menurutnya, teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), harus ditempatkan sebagai pendamping, bukan pengganti peran guru.
“Anak-anak boleh menggunakan teknologi, tetapi tetap harus didampingi. Ide dan pemikiran harus tetap berasal dari anak dan guru, sementara teknologi hanya membantu prosesnya,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bakesbangpol Kabupaten Bandung Barat, Weda Wardiman, menekankan bahwa pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor pendidikan semata. Ia menyebutkan bahwa pembentukan karakter melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah wilayah, hingga masyarakat.
“Kadang-kadang kita lupa bahwa sesungguhnya kita sedang melaksanakan pendidikan karakter. Contohnya pembentukan pasukan pengibar bendera. Itu adalah bagian dari pendidikan karakter yang terus kita lakukan,” ujarnya.

Menurut Weda, kunci penguatan karakter terletak pada komunikasi dan kolaborasi antarpemangku kepentingan, termasuk sekolah, orang tua, pemerintah, dan organisasi kemasyarakatan. Ia mengapresiasi inisiatif Paguyuban Pasundan yang dinilainya berani mengambil peran strategis dalam isu pendidikan karakter.
“Proses ini memang tidak instan. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dapat dirasakan. Yang penting adalah kekuatan dan kesinambungan komunikasi,” katanya.
Ketua PC Paguyuban Pasundan Kabupaten Bandung Barat, H. Ernawan Natasaputra dan Prof.Dr. Hj.Erni Rusyani, M. M Guru Besar Universitas Pasundan dalam sesi wawancara menegaskan bahwa penguatan teknis dan karakter harus berjalan beriringan. Ia menyebut karakter generasi muda saat ini sangat dinamis di tengah kompleksitas dunia dan gempuran media sosial.

Paguyuban Pasundan, yang telah berusia 112 tahun, memiliki misi utama ngaronjatkeun ajén diri, nguatkeun rasa, merangan kamiskinan, jeung merangan kabodohan. Dalam bidang pendidikan, Paguyuban Pasundan mengelola empat perguruan tinggi dan sekitar 120 sekolah di Jawa Barat dan Banten.
“Kami siap menyelaraskan program dengan pemerintah daerah. Apa yang bisa dioperasikan oleh Paguyuban Pasundan akan kami sinergikan dengan kebijakan pemerintah,” ujar Ernawan.
Ia berharap, melalui kegiatan seperti ini, penguatan pendidikan karakter tidak hanya berhenti pada tataran wacana, tetapi benar-benar membumi dan diterapkan secara konsisten di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan demikian, pendidikan karakter dapat menjadi fondasi kokoh dalam membangun generasi Bandung Barat yang beriman, berakhlak, cerdas, dan berdaya saing. (nk)