BRI Insurance/BRINS Serahkan Bantuan CSR bagi Warga Terdampak Longsor di Cisarua

Bandung Barat Nasional

Cisarua, 6 Maret 2026. Bantuan sosial bagi warga terdampak tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, kembali disalurkan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Bantuan tersebut berupa sarana sanitasi air bersih serta perlengkapan sekolah untuk anak-anak korban bencana.

Penyaluran bantuan dilakukan oleh PT BRI Asuransi Indonesia (BRI Insurance/BRINS), anak perusahaan Bank Rakyat Indonesia, yang bergerak di bidang asuransi kerugian. Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail, Anggota DPR RI daerah pemilihan Jawa Barat II Rajiv Singh, Direktur Utama BRI Insurance Rahmat Budi Legowo, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Barat Asep Sehabudin, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Moch. Lukmanul Hakim, Weda Wardiman sebagai Kaban Kesbangpol, serta Kepala Desa Pasirlangu Nur Awaludin Lubis.

Bantuan yang diberikan difokuskan pada dua kebutuhan dasar yang sering menjadi persoalan pascabencana: akses air bersih dan keberlanjutan pendidikan anak. Sarana pengairan disiapkan untuk menyalurkan air dari penampungan menuju rumah-rumah warga, sementara paket perlengkapan sekolah disalurkan kepada anak-anak yang terdampak longsor.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemulihan awal bagi masyarakat yang masih menghadapi dampak sosial dan ekonomi akibat bencana.

Solidaritas di Tengah Masa Pemulihan

Direktur Utama BRI Insurance Rahmat Budi Legowo mengatakan kehadiran perusahaan di Pasirlangu tidak dimaksudkan sekadar sebagai kunjungan formal, tetapi sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang sedang mengalami masa sulit.

“Kehadiran kami tidak menjadi tamu, tetapi memberikan sedikit bantuan bagi warga yang terdampak longsor,” kata Budi dalam sambutannya.

Ia mengakui bantuan tersebut tidak dapat menggantikan kerugian yang dialami warga. Namun, perusahaan berharap dukungan tersebut dapat membantu kebutuhan dasar masyarakat serta menjaga semangat anak-anak untuk tetap melanjutkan pendidikan.

“Kami memahami bahwa pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat merupakan prioritas utama dalam kondisi seperti ini,” ujarnya.

Budi juga menyampaikan bahwa perusahaan yang dipimpinnya merupakan anak usaha dari Bank Rakyat Indonesia yang bergerak dalam layanan perlindungan risiko. Dalam konteks lebih luas, ia menilai perlindungan terhadap risiko bencana menjadi isu yang semakin penting.

Menurut dia, asuransi kerugian dapat membantu masyarakat memitigasi dampak finansial dari kejadian tak terduga. Ia menyebutkan premi perlindungan tertentu dapat berada pada kisaran Rp50.000 hingga Rp100.000 per tahun dengan proses penggantian klaim yang relatif cepat.

“Dalam tempo sekitar lima hari penggantian bisa dilakukan bila terjadi kerugian,” kata Budi.
Pemerintah Daerah: Waspada Cuaca Ekstrem

Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail menyampaikan apresiasi kepada BRI Insurance yang telah memberikan bantuan bagi masyarakat terdampak.
“Terima kasih kepada BRI Insurance yang bersedia membantu masyarakat Bandung Barat,” ujar Asep.

Ia menjelaskan Bupati Bandung Barat tidak dapat hadir dalam kegiatan tersebut sehingga dirinya mewakili pemerintah daerah.

Menurut Asep, hingga saat kegiatan berlangsung, sejumlah warga terdampak maupun ahli waris korban telah menerima bantuan dan santunan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun organisasi sosial.

Namun, ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan. Kondisi cuaca yang tidak menentu, terutama pada musim hujan, masih berpotensi memicu pergerakan tanah di wilayah lereng.
“Menghimbau kepada ahli waris dan warga tetap berjaga-jaga karena cuaca yang tidak bersahabat,” kata Asep.

Dimensi Kebijakan dan Lingkungan

Anggota DPR RI Rajiv Singh menyampaikan bahwa dirinya telah beberapa kali datang ke wilayah terdampak sejak bencana terjadi. Ia bahkan mengaku hadir dua hari setelah peristiwa longsor.
Rajiv menilai pemulihan ekonomi masyarakat, khususnya petani, perlu mendapat perhatian serius. Ia berharap para petani dapat kembali bertani setelah proses relokasi dilakukan di lokasi yang lebih aman.

“Saya mau bertemu dengan kelompok tani yang terdampak. Harapan saya petani bisa bertani lagi dengan relokasi tempat yang baru tapi tidak di tempat bencana yang sekarang,” kata Rajiv.
Menurut dia, proses relokasi masih menunggu regulasi dari pemerintah provinsi. Namun DPR akan mendorong agar kebijakan tersebut segera terbit sehingga masyarakat memiliki kepastian tempat tinggal.

Rajiv juga menyinggung aspek struktural dari bencana tersebut. Ia menilai perubahan penggunaan lahan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko longsor di kawasan pegunungan.
“Bencana terjadi karena alih fungsi lahan, oleh karenanya ke depan harus kita cegah,” ujarnya.

Dukungan Pendidikan bagi Anak Korban

Selain bantuan fisik, Rajiv juga menjanjikan dukungan pendidikan bagi anak-anak terdampak. Ia menyebutkan bahwa Program Indonesia Pintar (PIP) akan diberikan kepada anak-anak korban pada tahun mendatang.
Bantuan pendidikan juga direncanakan bagi anak-anak yang kehilangan orang tua akibat bencana.

“Khusus untuk anak yatim piatu akan diberi bantuan sampai sekolah SMA atau pendidikan lanjutan,” katanya.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa dampak bencana tidak hanya menyangkut kerusakan fisik, tetapi juga berpotensi mempengaruhi masa depan generasi muda jika tidak diantisipasi sejak awal.

Solidaritas Sosial dan Tantangan Pemulihan

Prosesi penyerahan bantuan dari BRI Insurance kepada masyarakat dilakukan secara simbolis di hadapan warga dan perangkat desa.

Kepala Desa Pasirlangu Nur Awaludin Lubis menyatakan bahwa perhatian dari berbagai pihak telah membantu masyarakat menghadapi masa pemulihan. Namun ia mengingatkan bahwa proses pemulihan pascabencana membutuhkan waktu panjang.

Dalam konteks yang lebih luas, bencana longsor di wilayah pegunungan Bandung Barat menyoroti dua isu sekaligus: ketahanan masyarakat terhadap bencana dan pengelolaan ruang wilayah.

Solidaritas sosial seperti yang terlihat dari keterlibatan pemerintah, lembaga legislatif, perusahaan, dan masyarakat itu menjadi modal penting dalam fase tanggap darurat. Namun pada saat yang sama, upaya mitigasi jangka panjang tetap diperlukan untuk mencegah peristiwa serupa di masa depan.

Bagi warga Pasirlangu, bantuan sarana air bersih dan perlengkapan sekolah mungkin hanya satu bagian kecil dari proses pemulihan. Tetapi kehadiran berbagai pihak di tengah situasi sulit memberikan pesan bahwa mereka tidak menghadapi masa sulit itu sendirian. (aq-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *