Dana Desa untuk Peternakan: Upaya Cigugurgirang Menjawab Agenda Ketahanan Pangan Nasional

Bandung Barat Bumdes KBB

Bandung Barat, 19 Januari 2026. Pemerintah Desa Cigugurgirang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), mulai menggerakkan program ketahanan pangan berbasis peternakan sapi perah. Program ini menjadi bagian dari pemanfaatan alokasi Dana Desa sebesar 20 persen, sejalan dengan kebijakan nasional yang mendorong penguatan ketahanan pangan dari tingkat desa.

Pengelolaan peternakan sapi perah tersebut dijalankan oleh unit usaha BUMDes Cigugurgirang dengan total penyertaan modal mencapai sekitar Rp340.000.000. Meski telah berjalan kurang lebih empat bulan, program ini masih berada pada fase awal dan belum menghasilkan keuntungan bersih bagi desa.

Admin unit BUMDes Cigugurgirang, Sandi Sumirat, menjelaskan bahwa hingga saat ini pihaknya mengelola 10 ekor sapi perah. Dari jumlah tersebut, baru sebagian yang telah memasuki masa produktif dan menghasilkan susu.

“Kami bergerak di bidang peternakan hewan ternak, khususnya sapi perah. Dari 10 ekor sapi yang dikelola, saat ini baru tiga ekor yang benar-benar produktif. Sisanya masih dalam masa kering kandang,” ujar Sandi saat ditemui dalam sesi temu wicara, Senin (19/1/2026).
Ia menjelaskan, sapi yang berada dalam masa kering kandang tengah memasuki fase kehamilan dan akan kembali produktif setelah melahirkan. Oleh karena itu, produksi susu diperkirakan akan meningkat secara bertahap seiring berjalannya waktu.

Saat ini, rata-rata produksi susu dari sapi yang telah produktif mencapai sekitar 12 liter per ekor per hari. Susu segar tersebut dipasarkan melalui kerja sama dengan koperasi setempat yang secara rutin mengambil hasil perahan langsung dari kandang.
“Harga jual ke koperasi sebesar Rp7.500 per liter. Harga itu sudah termasuk asuransi dan pendampingan dari koperasi, seperti penanganan sapi yang sakit serta perawatan anakan,” kata Sandi.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa hasil penjualan susu saat ini belum menjadi keuntungan bersih bagi BUMDes. Seluruh pendapatan dari susu masih digunakan untuk menutup biaya operasional harian peternakan.

“Untuk sekarang, hasil susu hanya cukup untuk menutup biaya operasional. Keuntungan utama nantinya lebih diharapkan dari anakan sapi,” ujarnya.
Berdasarkan perhitungan biaya produksi, satu ekor sapi perah membutuhkan anggaran sekitar Rp96.500 per hari. Biaya tersebut mencakup kebutuhan pakan, upah tenaga kerja, listrik, serta biaya operasional lainnya. Dengan jumlah ternak yang dikelola sebanyak 10 ekor, total biaya harian mendekati Rp1.000.000.
Adapun komposisi pakan per ekor sapi per hari meliputi konsentrat sekitar 8 kilogram, ampas tahu atau pakan basah sekitar 20 kilogram, serta rumput sekitar 33 kilogram. Untuk pengadaan pakan basah dan konsentrat, BUMDes bekerja sama dengan koperasi yang sama sebagai mitra pemasaran susu.

Namun, lokasi kandang yang berada di Kampung Panyairan, RT 03 RW 02, Desa Cigugurgirang, menjadi salah satu tantangan tersendiri. Kandang yang saat ini masih berstatus sewa jangka panjang selama 10 tahun tersebut berada cukup jauh dari jalan utama, sehingga menambah biaya pengangkutan pakan.

“Selain biaya pembelian pakan, kami juga harus menanggung biaya tambahan untuk pengangkutan karena lokasi kandang tidak berada di pinggir jalan,” kata Sandi.

Di sisi sumber daya manusia, pengelolaan peternakan saat ini ditangani oleh dua orang tenaga aktif di lapangan, terdiri dari kepala unit dan satu pekerja harian. Keduanya bertanggung jawab atas perawatan kandang, pemberian pakan, serta pemeliharaan kesehatan ternak.

Menurut Sandi, hingga kini belum terdapat kendala berarti dalam pengelolaan sapi perah. Pengalaman pengelola kandang menjadi faktor penting yang menjaga stabilitas operasional, meskipun faktor cuaca tetap berpengaruh terhadap produksi susu.

“Menurut pengelola kandang, saat musim hujan biasanya produksi susu menurun. Itu dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan cuaca,” ujarnya.

Ke depan, BUMDes Cigugurgirang menargetkan dapat mengolah dan memproduksi susu secara mandiri dalam waktu satu tahun. Produk olahan susu tersebut direncanakan akan didistribusikan untuk mendukung program SPPG/MPG, sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai penerima manfaat.

“Harapannya, program ini bisa berjalan sesuai rencana dan sejalan dengan skema ketahanan pangan nasional. Kami juga berharap ada pengembangan lebih lanjut agar produksi peternakan di Desa Cigugurgirang bisa terus meningkat,” kata Sandi.

Langkah BUMDes Cigugurgirang ini mencerminkan upaya desa dalam menerjemahkan kebijakan nasional ke dalam praktik nyata di tingkat lokal. Meski masih menghadapi berbagai tantangan, program peternakan sapi perah tersebut diharapkan dapat menjadi fondasi ekonomi desa sekaligus mendukung ketahanan pangan berkelanjutan. (nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *