Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, 17 Januari 2026. Suara lonceng ring pertama bergema di Batujajar, menandai dimulainya sebuah babak baru bagi dunia olahraga tinju amatir di wilayah tersebut. Untuk pertama kalinya, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, menyelenggarakan pertandingan tinju bertajuk “Skenabox Fighting Series” yang diikuti oleh puluhan pelajar SMA dan mahasiswa. Lebih dari sekadar ajang adu fisik, event perdana ini digagas sebagai sarana positif untuk menyalurkan energi dan potensi generasi muda setempat.
Acara ini merupakan puncak dari proses panjang yang dimulai dengan technical meeting sehari sebelumnya. Dengan peserta yang mencapai 36 orang, melebihi ekspektasi awal panitia yakni 25-30 orang, antusiasme anak muda terhadap olahraga tinju ternyata cukup besar. Para peserta berasal tidak hanya dari Kabupaten Bandung Barat, tetapi juga dari Kota Cimahi.

Jonathan, selaku Ketua Pelaksana, mengungkapkan latar belakang sosial yang mendasari penyelenggaraan event ini. “Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh potensi sumber daya remaja di masyarakat yang sering terlibat dalam hal-hal negatif. Oleh karena itu, kami menciptakan sarana untuk menyalurkan hobi baru yang positif, yaitu olahraga tinju atau boxing,” ujarnya. Proses sosialisasi yang dilakukan selama lima bulan melalui media sosial Instagram membuahkan hasil dengan partisipasi yang menggembirakan.
Meski dikenai biaya pendaftaran sebesar Rp150.000, para peserta mendapatkan fasilitas berupa sertifikat dan medali. Juara pertama akan memperoleh medali dan piagam, sedangkan juara kedua mendapatkan piagam penghargaan. Sistem pertandingan yang diterapkan adalah sparring season atau ekshibisi, bukan kejuaraan resmi, di mana lawan tanding telah dipasangkan dan menggunakan sistem gugur sekali kalah.

“Pertandingan ini namanya Sparring Season, bukan kejuaraan. Kalau kejuaraan biasanya berlangsung 3 sampai 5 hari. Kalau Sparring Season, lawan sudah dipasangkan. Sistemnya sekali kalah langsung gugur,” jelas Cirikiwa, yang bertindak sebagai Technical Delegate (T.D.) dalam event ini. Ia menambahkan bahwa kategori yang dipertandingkan khusus untuk kelas Youth (usia 17-18 tahun) yang setara dengan pelajar SMA, sementara mahasiswa umumnya masuk kategori Elite.
Dalam wawancara, Cirikiwa yang merupakan perwakilan teknis, menyoroti pentingnya event semacam ini sebagai batu pijakan regenerasi atlet. “Saya sangat senang dan setuju anak-anak muda mengadakan kegiatan seperti ini. Namun untuk jenjang prestasi, pembinaan harus melalui kejuaraan resmi, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional,” paparnya. Ia memberi contoh jenjang seperti POPDA (Pekan Olahraga Pelajar Daerah), POPNAS (Pekan Olahraga Pelajar Nasional), hingga PORPROV (Pekan Olahraga Provinsi) Jawa Barat yang akan digelar November 2026.

Ia juga menekankan aspek keselamatan yang menjadi prinsip utama. “Yang paling penting, dalam tinju wajib ada dokter dan ambulans. Kalau dokter atau ambulans tidak ada, pertandingan tidak boleh dilaksanakan. Semua itu sudah disiapkan,” tegas Cirikiwa. Panitia telah berkoordinasi dengan kepolisian, Koramil, dan pihak terkait lainnya. Wasit yang bertugas juga berasal dari pengurus Provinsi Jawa Barat, memastikan standar teknis pertandingan.
Jonathan berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan dan berkembang. “Harapannya, kegiatan ini bisa berkembang menjadi lebih besar dan lebih baik, serta meningkatkan antusiasme remaja untuk mengikuti kegiatan positif. Khususnya bagi remaja yang sering terlibat konflik di masyarakat, kegiatan ini bisa menjadi wadah hobi yang positif,” harapnya. Bahkan, ia mengungkapkan rencana ke depan untuk membentuk sekretariat atau camp latihan di wilayah Batujajar jika kegiatan ini terus berlanjut.

Dukungan dari Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Kabupaten Bandung Barat dan KONI setempat menjadi penguat legitimasi acara ini. Cirikiwa memberikan apresiasi sekaligus masukan untuk peningkatan kualitas. “Saya juga sangat mengapresiasi kegiatan ini. Harapannya, panitia bisa meningkatkan kualitas penyelenggaraan pada event berikutnya, baik dari segi sarana maupun jumlah pertandingan. Untuk sementara masih menggunakan matras, ke depannya semoga bisa menggunakan ring,” sarannya.
Event perdana Skenabox Fighting Series ini tidak hanya berhasil menggelar lima pertandingan dengan didukung empat wasit, tetapi juga berhasil menancapkan makna yang lebih dalam. Ia menjadi bukti bahwa olahraga, khususnya tinju, dapat menjadi media efektif untuk pembinaan karakter, penggalian bakat, dan pencegahan perilaku negatif di kalangan remaja. Suara lonceng yang berdentang di Batujajar Timur sore itu bukan sekadar tanda dimulainya sebuah pertarungan, melainkan simbol dimulainya sebuah perjalanan panjang mencari bibit-bibit petinju berprestasi yang berkarakter untuk masa depan Bandung Barat dan Indonesia. (nk)