
Batujajar. 24 Oktober 2025. Di Lapangan Carik, Desa Batujajar, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, ratusan warga tampak antusias mengikuti acara Gerakan Pangan Murah (GPM) GAPURA AMANAH — sebuah program stabilisasi pasokan dan harga pangan yang digelar oleh Badan Pangan Nasional bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bandung Barat (DKPP KBB) serta Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Provinsi.
Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut bertujuan untuk meringankan beban masyarakat dalam hal kebutuhan pokok sekaligus menjaga stabilitas harga dan pasokan komoditas pangan. Dalam sambutannya, kepala DKPP KBB, Dr. HM Lukmanul Hakim, menyampaikan bahwa “Pemerintah mempunyai kewajiban menjaga harga murah, ini berkaitan dengan penurunan inflasi.” Hal ini menggambarkan bahwa program bukan sekadar bazaar, tetapi bagian dari kebijakan ekonomi makro pemerintah daerah dan pusat.

Dalam daftar penjualan komoditas di acara tersebut, tercatat harga-khusus yang cukup bersaing dibanding pasar umum: beras premium Rp 14.000/kg, sayuran “serba” Rp 5.000, bawang merah Rp 35.000/kg, bawang putih Rp 33.000/kg, cabe keriting Rp 60.000/kg, minyak goreng “Minyak Kita” Rp 15.500/liter, gula pasir Rp 15.500/kg, tepung terigu Rp 8.500/kg, serta telur ayam Rp 28.000/kg. Kerjasama lintas lembaga termasuk Bulog dan IdFood turut mendukung jalannya kegiatan ini.
Anggota DPR RI, Dr. H. Dede Yusuf M Effendi, yang turut hadir, menegaskan bahwa ini bukan pertama kalinya kegiatan digelar. “Saat ini saya sudah melakukan kegiatan seperti ini yang 6 kalinya, respon dan animo ibu-ibu luar biasa senangnya belanja di saat ini ada perbedaan harga 8.000 ribu tentunya mereka senang sekali dan antusias,” ujarnya. Cara pembagian kupon melalui kuis pertanyaan juga dilakukan agar masyarakat lebih terlibat dan merasakan manfaat secara langsung.

Sementara itu, sambutan dari kepala desa Batujajar Barat, Erfan Hariawan, S.H, mengungkapkan rasa syukur sekaligus harapan besar bagi warga: “Alhamdulillah menerima program ini menjadi momentum bersilaturahmi kami dan masyarakat yang tentunya mendapat manfaat dari pangan murah,” katanya. Visi misi desa baru “JUARA” (Jujur, Unggul, Agamis, Rasional, Aspiratif) turut dijadikan landasan untuk mendukung program dalam skala lokal.

Dari sisi implementasi, kegiatan semacam ini menjadi respons nyata terhadap naik-turunnya harga pangan pokok yang sering memberatkan rumah tangga berpenghasilan menengah ke bawah. Sebuah laporan menunjukkan bahwa di Kabupaten Bandung Barat terdapat peluang memperkuat distribusi dan suplai komoditas pokok lewat program GPM guna menjaga daya beli masyarakat dan menekan angka inflasi lokal.

Meski demikian, tetap ada tantangan. Stabilitas pasokan membutuhkan koordinasi antara produsen, distributor, dan pemerintah daerah terutama dalam menjaga kualitas, kelancaran distribusi, serta kesinambungan kegiatan. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa program seperti ini tidak hanya sesekali, tetapi berlangsung secara periodik agar efek terhadap inflasi dan kesejahteraan masyarakat terasa jangka panjang.

Ke depan, penting juga untuk memperluas jenis komoditas, menambah kuantitas kupon atau subsidi, serta melibatkan lebih banyak desa atau kecamatan. Keberadaan kegiatan di Batujajar menjadi model lokal yang bisa direplikasi di wilayah lain di Jawa Barat. Dengan demikian program GPM lewat GAPURA AMANAH bisa menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi mikro masyarakat luas.

Bagi warga, kehadiran program tersebut memberikan napas lega di tengah tekanan harga kebutuhan pokok. Misalnya, seorang warga bernama Ibu Neneng dalam acara menyampaikan kegembiraannya ketika berbelanja: “Semoga acara ini sering diadakan.” Ucapan sederhana ini menggambarkan betapa besar harapan masyarakat terhadap intervensi kebijakan yang menyentuh langsung ke kehidupan sehari-hari.

Secara keseluruhan, kolaborasi antara DPR RI, Badan Pangan Nasional, dan DKPP Provinsi serta DKPP KBB melalui program Gerakan Pangan Murah bukan sekadar program sosial, melainkan bagian integral dari upaya menjaga ketahanan pangan dan daya beli masyarakat. Bila dijalankan secara rutin dan sistematis, maka dampaknya tak hanya pada harga komoditas hari itu saja melainkan pada kualitas hidup masyarakat ke depan, terutama di kawasan yang rentan terhadap fluktuasi harga pangan. (aq-nk)