Bandung Barat, 22 Desember 2025. Suasana baru menyambut setiap orang yang melangkah ke halaman SMP Yayasan Pendidikan Islam (YPII) di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Dinding kelas yang segar, perpustakaan yang tertata rapi, dan ruang administrasi yang lebih fungsional menjadi pemandangan yang kontras dengan kondisi bangunan sebelumnya. Transformasi ini merupakan buah dari program revitalisasi fasilitas pendidikan yang diinisiasi pemerintah, di mana SMP YPII menjadi salah satu penerima manfaatnya..
Dalam wawancara eksklusif, Kepala Sekolah SMP YPI, Hilman Firmansyah, S.Pd., M.M., mengonfirmasi bahwa seluruh proses rehabilitasi telah rampung. “Alhamdulillah, sudah selesai dan sudah beres,” ujarnya dengan senyum lebar.
Proyek revitalisasi yang menelan waktu kurang lebih empat bulan, dari 1 Agustus hingga 28 November 2025, berfokus pada perbaikan signifikan terhadap empat aspek utama infrastruktur sekolah. “SMP YPII mendapatkan empat menu rehabilitasi, yaitu: rehabilitasi 10 ruang kelas, rehabilitasi perpustakaan, rehabilitasi ruang administrasi, dan rehabilitasi toilet,” jelas Hilman. Selain itu, tiga dari delapan unit toilet siswa juga mengalami perbaikan menyeluruh.

Yang menarik dari pelaksanaan proyek ini adalah pemberdayaan masyarakat lokal. Hilman mengungkapkan bahwa tenaga kerja yang terlibat sebagian besar berasal dari warga sekitar, termasuk orang tua siswa yang memiliki keahlian di bidang pembangunan. “Kami memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekolah,” katanya. Meski sempat terkendala cuaca, proses pembangunan berjalan lancar dan tepat waktu berkat koordinasi yang baik antara pelaksana, perencana, dan pengawas.
Keberhasilan proyek ini tidak lepas dari dukungan pemerintah pusat. Hilman menyampaikan apresiasinya. “Saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah, khususnya Presiden Bapak Prabowo Subianto, Dinas Pendidikan, serta seluruh pihak yang terlibat dalam program revitalisasi ini. Untuk wilayah Bandung Barat, kurang lebih ada sekitar 10 sekolah yang mendapatkan bantuan, dan alhamdulillah SMP YPII menjadi salah satunya.”

Dampak positif langsung dirasakan oleh 284 siswa dan 20 tenaga pendidik. Hilman menyebut respons orang tua dan siswa sangat membanggakan. “Harapan saya, setelah direhabilitasi, baik sarana maupun prasarana ini bisa menjadi motivasi bagi siswa agar lebih semangat dalam belajar,” ujarnya. Fasilitas baru itu bahkan telah langsung diujicoba dalam pelaksanaan ujian PSAS.
Proses belajar mengajar selama masa rehabilitasi menjadi tantangan tersendiri. Sekolah yang berdiri sejak 1987 ini menunjukkan kelenturan dengan memindahkan sementara aktivitas pembelajaran ke fasilitas warga sekitar. “KBM tetap berjalan secara luring, tidak daring. Kami memanfaatkan fasilitas warga sekitar, seperti madrasah dan masjid. Walaupun tidak sepenuhnya efektif karena tidak berada di lingkungan sekolah, proses pembelajaran tetap berlangsung,” tutur Hilman.
Sebagai sekolah berbasis keislaman, SMP YPII memiliki sejumlah program unggulan yang kini dapat diselenggarakan dengan dukungan sarana yang lebih memadai. “Setiap pagi ada pembiasaan salat dhuha, kegiatan pidato atau ceramah siswa dari kelas 7 sampai 9, serta program hafalan Al-Qur’an,” paparnya. Kurikulum keagamaan di sekolah ini juga lebih komprehensif, mencakup Al-Qur’an Hadis, Akidah Akhlak, di samping Pendidikan Agama Islam (PAI) standar.

Masyarakat sekitar, termasuk para alumni yang telah mencapai 34 angkatan telah banyak yang berkiprah di TNI, Polri, dan dunia wirausaha mereka ikut bangga dengan transformasi ini. Keberadaan SMP YPII yang tetap eksis dan kompetitif menjadi kebanggaan tersendiri.
Menatap ke depan, Hilman berharap kemajuan fisik ini diiringi dengan peningkatan kualitas pendidikan secara holistik. “Harapannya SMP YPII bisa semakin maju dan berkembang, jumlah siswa bertambah, guru semakin meningkatkan kualitas pembelajaran, dan menghasilkan alumni yang berkualitas serta bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya penuh harap.
Revitalisasi SMP YPI merupakan contoh nyata bagaimana investasi di sektor pendidikan dasar tidak hanya memperbaiki gedung, tetapi juga membangkitkan semangat belajar, memberdayakan komunitas sekitar, dan memperkuat fondasi untuk mencetak generasi penerus yang unggul dan berkarakter. (red-nk)