Dugaan Keracunan Massal Program MBG di Lembang: Korban Capai 236 Orang, Camat dan TP-PKK Bergerak Cepat Tinjau Penanganan

Bandung Barat Nasional

Bandung Barat, 30 Oktober 2025 — Kasus dugaan keracunan massal akibat konsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mengguncang wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB). Kali ini, peristiwa tersebut menimpa ratusan warga di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, yang sebagian besar adalah pelajar sekolah dasar dan menengah. Pemerintah Kecamatan dan Desa pun bergerak cepat, sementara aparat kewilayahan turut mengambil langkah tanggap untuk memastikan penanganan berjalan maksimal..

Data Terbaru: 236 Korban, Sebagian Besar Sudah Pulih

Berdasarkan laporan resmi Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat per Kamis (30/10/2025) pukul 10.00 WIB, total korban yang telah ditangani akibat dugaan keracunan MBG mencapai 236 orang.
Dari jumlah tersebut, 222 orang (sekitar 94%) telah menjalani rawat jalan, dipulangkan, atau dinyatakan sembuh. Adapun 14 orang masih menjalani perawatan intensif, terdiri dari 8 orang di Posko Desa Cibodas dan 6 orang di RSUD Lembang.

Gejala yang dialami para korban meliputi mual, muntah, sakit perut, pusing, dan diare — gejala klasik keracunan makanan. Sebagian besar korban adalah siswa dari SMPN 4 Lembang, SDN 1 dan SDN 2 Cibodas, SDN Buahbatu, serta SMK PNC, sementara beberapa korban lainnya berasal dari kalangan guru, orang tua, dan ibu hamil yang turut mengonsumsi menu program MBG hari itu.

Menu yang diduga menjadi pemicu kejadian terdiri atas nasi, rolade ayam, tempe goreng, tumis capcay, dan buah lengkeng. Hingga kini, penyebab pasti masih menunggu hasil uji laboratorium dari Labkesda Jawa Barat, yang diperkirakan keluar dalam sepekan mendatang.

Penanganan Cepat dan Penutupan Dapur Produksi

Sebagai langkah tanggap, Dinas Kesehatan KBB bersama Satgas MBG segera melakukan investigasi dan pengambilan sampel makanan untuk diuji. Dapur produksi milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cibodas 2, yang menjadi pemasok menu MBG di wilayah tersebut, juga telah ditutup sementara hingga hasil uji laboratorium keluar, langkah ini diambil sebagai upaya pencegahan agar kejadian serupa tidak meluas ke wilayah lain.

“Kami ingin memastikan keamanan pangan sebelum dapur beroperasi kembali. Semua menu, bahan, dan proses pengolahan akan dievaluasi menyeluruh,” ujarnya.

Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan segera membawa anak-anak atau anggota keluarga ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala serupa.

Langkah Cepat Pemerintah Kecamatan Lembang

Di tengah situasi darurat ini, Camat Lembang Bambang Eko bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Lembang, Maya Ekawati, turut turun langsung ke lapangan. Keduanya meninjau lokasi kejadian dan mendatangi rumah sakit tempat korban dirawat. Dalam kunjungan tersebut, mereka memberikan bantuan berupa biskuit dan air minum bagi para korban dan keluarga yang menunggu, sebagai bentuk empati dan dukungan moral.

Namun lebih dari sekadar simbolis, kunjungan tersebut juga dimanfaatkan untuk mengkoordinasikan langkah-langkah teknis di lapangan, seperti memastikan distribusi logistik kesehatan, mengatur jadwal piket petugas, serta memastikan seluruh fasilitas medis tetap siap siaga.

“Kami fokus pada penanganan korban dan koordinasi lintas instansi agar langkah medis dan sosial berjalan cepat dan tepat,” ujar Camat Lembang Bambang Eko saat ditemui di Posko Cibodas.
“Ini bukan hanya soal kerja nyata, tapi soal tanggung jawab kami memastikan masyarakat mendapat pelayanan dan perhatian segera,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua TP-PKK Lembang, Maya Ekawati, menekankan pentingnya peran serta semua pihak dan sekolah dalam menjaga keamanan makanan di lingkungan sekolah.

“Kami mengingatkan agar semua pihak, baik penyedia maupun penerima MBG, memastikan kebersihan dan kelayakan makanan sebelum dikonsumsi. Kesehatan anak-anak adalah prioritas bersama,” ucapnya.

Konteks Lebih Luas: Rentetan Kasus MBG di Bandung Barat

Peristiwa di Lembang ini menambah daftar panjang kasus keracunan yang terjadi di Bandung Barat dalam dua bulan terakhir. Berdasarkan catatan media nasional, lebih dari 2.000 penerima MBG di lima kecamatan sebelumnya juga mengalami gejala serupa.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, sempat menyoroti lemahnya disiplin dalam penerapan SOP dapur MBG.

“Banyak kasus diakibatkan kesalahan teknis dan pelanggaran SOP, mulai dari pengolahan hingga distribusi makanan,” ujarnya seperti dikutip dari IDN Times Jabar.

Harapan dan Evaluasi

Masyarakat berharap hasil uji laboratorium dapat segera diketahui agar penyebab pasti dapat diungkap dan evaluasi dilakukan secara menyeluruh. Program MBG sejatinya memiliki niat baik — menyediakan asupan bergizi untuk pelajar dan warga rentan — namun insiden seperti ini menunjukkan pentingnya pengawasan ketat dan akuntabilitas.

Kasus di Lembang menjadi peringatan keras bahwa program sosial tanpa pengawasan mutu yang ketat dapat berubah menjadi ancaman kesehatan. Dengan kerja cepat dari berbagai pihak, diharapkan seluruh korban dapat pulih sepenuhnya dan kejadian serupa tidak terulang.

Di akhir kunjungannya, Camat Lembang menegaskan komitmennya:

“Kejadian ini adalah tanggung jawab bersama. Kita harus belajar dari peristiwa ini agar ke depan, setiap piring yang disajikan benar-benar membawa manfaat, bukan mudarat.”

Dengan 236 korban yang kini sebagian besar telah pulih, Lembang masih berduka — namun juga berbenah, memastikan pelajaran berharga dari tragedi ini menjadi titik balik menuju sistem pelayanan publik yang lebih aman dan manusiawi. (aq-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *