“Durenkeun” dan Eksperimen Ruang Publik: Dari Pesta Rasa ke Percakapan Kolektif

Bandung Barat Kuliner

Kabupaten Bandung Barat, 16 Februari 2026. Bazar durian bertajuk “Durenkeun” digelar di The Food Market, Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, menghadirkan rangkaian kegiatan yang melampaui praktik jual beli buah musiman. Selama sepekan, 11–17 Februari 2026, acara ini memadukan pesta durian dengan bazar buku, klinik bisnis, diskusi kesehatan, diskusi buku, musikalisasi puisi, lomba lukis bertema durian, hingga pertunjukan musik langsung.

Kegiatan yang didukung sejumlah sponsor, antara lain Kotabaru Parahyangan Bale Pare, Mizan, Bintang Nusantara, dan ESB Indonet, menghadirkan beragam unsur komunitas: pedagang durian dari berbagai daerah, konten kreator, pegiat literasi, serta masyarakat umum dari beragam latar belakang. Kehadiran musisi Adew Habtsha dan penyair Kang Heri Eriandi Budiman menambah dimensi kultural dalam agenda yang pada mulanya berangkat dari momentum musim durian.

Ketua pelaksana, Wildan, menjelaskan bahwa gagasan acara muncul dari percakapan sederhana beberapa pekan sebelumnya. “Acara ini awalnya berangkat dari obrolan sekitar dua atau tiga minggu lalu. Kami berpikir bagaimana caranya bisa berkumpul, ngobrol di satu tempat, beraktivitas, dan tetap happy. Kebetulan saat ini sedang musim durian, jadi muncul ide untuk membuat acara bertema durian,” ujarnya.

Menurut Wildan, durian dipilih bukan sekadar sebagai komoditas kuliner, tetapi sebagai medium sosial yang memungkinkan interaksi lintas komunitas. Ia menilai bahwa aktivitas makan bersama dapat menjadi pintu masuk bagi percakapan yang lebih luas, termasuk diskusi pengetahuan dan ekspresi budaya.
“Ternyata durian bukan hanya soal makan bersama. Dari durian, kita bisa membangun komunikasi, menghadirkan aktivitas musik, diskusi, bahkan literasi. Ada puisi, ada karya tulis, dan berbagai aktivitas lainnya,” kata dia.

Dalam praktiknya, bazar ini memang dirancang sebagai ruang publik sementara. Pengunjung tampak tidak hanya menikmati durian, tetapi juga mengikuti diskusi, berbincang santai, atau sekadar mendengarkan musik. Wildan menegaskan bahwa pendekatan ini berbeda dari bazar durian pada umumnya.

“Jujur saja, biasanya bazar durian itu hanya jual beli. Tapi kali ini kami ingin mengolahnya menjadi ruang berkegiatan yang tetap menyenangkan,” ucapnya.
Keterlibatan komunitas menjadi salah satu unsur penting. Wildan menyebut adanya partisipasi perwakilan masyarakat Bandung Barat, PKK, komunitas penulis dan penyair, hingga rekan media. Ia melihat kegiatan ini sebagai upaya memperluas ruang partisipasi publik.

“Durian ini kami jadikan sebagai salah satu media untuk berkumpul, berpikir, berdiskusi, menikmati suasana, sekaligus mengajak keluarga untuk liburan bersama,” katanya.

Dari sisi ekonomi, bazar ini mempertemukan pelaku usaha durian dengan konsumen secara langsung. Berbagai jenis durian dipamerkan, mulai dari Durian Mawor yang dikenal bertekstur tebal dan rasa manis pahit seimbang, Durian Premium sebagai kategori kualitas seleksi, Durian Bali dengan karakter tradisional, hingga Durian Montong Bali yang berukuran besar dan berdaging tebal. Selain itu, tersedia pula durian lokal dari berbagai daerah dan durian Medan yang dikenal memiliki rasa kuat dan kompleks.

Keragaman varietas tersebut mencerminkan luasnya ekosistem durian di Indonesia. Perbedaan rasa dan tekstur umumnya dipengaruhi faktor genetik, kondisi tanah, iklim, serta teknik budidaya. Dalam konteks pasar, jenis seperti montong sering memiliki harga lebih tinggi karena ukuran dan konsistensi kualitas, sementara durian lokal menawarkan karakter rasa yang lebih variatif.

Wildan menilai bahwa aspek literasi menjadi bagian penting dari kegiatan ini. “Kami ingin menguatkan literasi bahwa apa pun aktivitasnya, termasuk soal makanan, perlu pengetahuan. Kadang orang lupa dengan apa yang mereka makan,” ujarnya.

Ia juga menyinggung pentingnya memahami rantai nilai durian secara menyeluruh, mulai dari budidaya hingga pemanfaatan limbah. “Bahkan dari diskusi dengan teman-teman, biji durian pun bisa dimanfaatkan, misalnya untuk budidaya maggot. Jadi tidak hanya daging buahnya saja yang bernilai,” kata dia.

Dalam kerangka kebijakan pangan lokal, pendekatan semacam ini dapat dipandang sebagai upaya memperkuat kesadaran konsumsi berbasis pengetahuan sekaligus mendukung pelaku usaha kecil. Kegiatan komunitas yang menggabungkan edukasi dan ekonomi kerap menjadi strategi informal dalam memperluas jaringan pasar.

Dari sisi sosial, bazar ini juga memperlihatkan bagaimana ruang komunal dapat terbentuk melalui kegiatan tematik. Pengunjung terlihat datang bersama keluarga atau teman, menghabiskan waktu berjam-jam di lokasi. “Respons pengunjung sejauh ini cukup baik. Terlihat dari antusiasme mereka yang betah berlama-lama,” ujar Wildan.

Promosi kegiatan dilakukan melalui media sosial, jaringan komunitas, serta penyebaran informasi dari mulut ke mulut. Menurut Wildan, keterlibatan konten kreator muda membantu memperluas jangkauan informasi sekaligus menarik minat generasi muda.

Ia menambahkan bahwa tujuan utama kegiatan bukan semata keuntungan finansial. “Kalau berbicara soal profit, bukan itu tujuan utama kami. Yang penting kegiatan ini berjalan, operasional tertutup, dan semua bisa menikmati,” katanya.

Ke depan, panitia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dan memberi ruang lebih besar bagi produk lokal Bandung Barat. “Harapannya sederhana: semoga kegiatan ini semakin baik, berkembang, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” ujar Wildan.

Fenomena bazar tematik seperti “Durenkeun” menunjukkan bahwa komoditas pangan dapat berfungsi sebagai titik temu antara ekonomi, budaya, dan pengetahuan. Dalam konteks masyarakat urban yang semakin beragam, ruang semacam ini berpotensi menjadi sarana membangun jejaring sosial sekaligus memperkuat identitas lokal.

Melalui pendekatan yang memadukan konsumsi, diskusi, dan ekspresi, kegiatan ini mencerminkan upaya komunitas dalam menciptakan ruang publik alternatif sebagai tempat di mana percakapan tentang rasa dapat berlanjut menjadi percakapan tentang pengetahuan dan kebersamaan. (nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *