Bandung Barat, 2 November 2025. Kabut tipis masih menggantung di atas Waduk Saguling pagi itu. Dari kejauhan, deru alat berat berpadu dengan gemericik air, menciptakan harmoni yang jarang terdengar di kawasan yang mulai sesak oleh eceng gondok dan sampah. Di antara deretan seragam hijau dan cokelat, sosok berseragam cokelat muda tampak mencuri perhatian — AKP Indriyani, Kapolsek Cililin, yang berdiri tegap di sisi Wakapolres Cimahi, Kompol Rizki Syawaludin, SH. Keduanya hadir bukan sekadar untuk dinas rutin, melainkan untuk memastikan gerakan peduli lingkungan di Waduk Saguling benar-benar hidup dan berlanjut.
“Air ini adalah kehidupan,” kata AKP Indriyani pelan, sambil menatap ke arah perahu yang membawa tumpukan eceng gondok ke daratan. “Kalau kita biarkan, waduk ini akan mati perlahan. Dan saat itu terjadi, bukan hanya listrik yang padam, tapi juga harapan warga di sekitarnya.”

Wanita di Tengah Lumpur dan Logistik Berat
Hari itu, AKP Indriyani mendampingi Wakapolres Cimahi menghadiri launching pembersihan eceng gondok dan sampah di Waduk Saguling, kegiatan lintas instansi yang melibatkan TNI, Polri, dan Indonesia Power. Di lapangan, ia tidak hanya berdiri di belakang podium. Ia turun langsung, berinteraksi dengan warga, bahkan membantu mengatur jalannya kegiatan.
Bagi sebagian orang, melihat seorang perempuan perwira polisi berbaur dengan pekerja lapangan di tepi waduk adalah pemandangan yang tidak biasa. Namun bagi AKP Indriyani, inilah bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Polisi itu bukan hanya soal penegakan hukum,” ujarnya. “Kami juga punya tanggung jawab moral menjaga keberlanjutan alam, karena dari sanalah keamanan sejati berasal.”
Ia menuturkan, Polsek Cililin kerap menerima laporan warga tentang tumpukan sampah yang terbawa arus ke waduk. Dalam banyak kasus, limbah itu berasal dari hulu sungai yang melewati permukiman padat. “Masyarakat sering kali tidak sadar bahwa satu plastik yang mereka buang di selokan bisa berakhir di sini,” katanya, sembari menunjuk permukaan waduk yang tertutup gulma air.

Dari TNI hingga Indonesia Power: Gerakan Lintas Batas
Kegiatan yang diinisiasi Komandan Kodim 0609/Cimahi, Letkol Inf Ratno, SH, dan Komandan Sektor 3, Kolonel Arh Dodo M, ini merupakan lanjutan dari aksi serupa di Situ Bagendit. Aksi pembersihan di Saguling direncanakan berlangsung selama dua bulan, dengan fokus mengangkat eceng gondok dan sampah rumah tangga yang mengancam daya tampung waduk.
Dalam sambutannya, Letkol Ratno menekankan pentingnya edukasi lingkungan yang dimulai dari rumah. “Jangan biarkan sungai menjadi tempat pembuangan terakhir,” katanya. “Kita mulai dari keluarga, dari kesadaran memilah sampah.”

Sementara itu, Taufan, perwakilan Indonesia Power PLTA Saguling, mengingatkan tentang dampak ekologis dan ekonomi jika waduk dibiarkan kotor. “Setiap hari sekitar 200 ton sampah masuk ke waduk. Excavator kami hanya mampu menangani sebagian kecil,” ungkapnya. “Jika terus begini, produksi listrik bisa berhenti pada 2084.”

Kolaborasi yang Menghidupkan Harapan
Di sela kegiatan, AKP Indriyani terlihat berbincang dengan sejumlah warga pesisir waduk. Ia mendengarkan keluhan mereka tentang bau busuk dan nyamuk yang kerap muncul dari tumpukan eceng gondok. “Kalau waduk ini bersih, warga juga yang menikmati hasilnya,” ucapnya kepada seorang ibu yang tinggal di sekitar lokasi.
Ia menyadari, perubahan besar tidak lahir dari instruksi, tetapi dari kesadaran. Karena itu, ia mendorong pendekatan edukatif, terutama di sekolah dan komunitas lokal. “Anak-anak harus tumbuh dengan kebiasaan mencintai lingkungan. Itu investasi masa depan,” katanya.

Kehadiran AKP Indriyani dalam kegiatan ini menghadirkan warna baru. Di tengah dominasi tokoh laki-laki berseragam, ia tampil dengan ketegasan yang menenangkan — suara yang menghubungkan disiplin aparat dengan nurani warga.
Di hari itu, waduk yang dulu tampak lesu mulai berdenyut kembali, seperti mengucapkan terima kasih. Sebuah kolaborasi lintas batas, dan di dalamnya, keteguhan seorang perempuan yang percaya bahwa menjaga bumi adalah bagian dari menjaga kehidupan. (nk)