NGAMPRAH, BANDUNG BARAT. 5 Januari 2026. Langkah nyata menuju sumber daya manusia (SDM) unggul dan berakhlak dimulai dari pondasi yang kokoh. Semangat itu diwujudkan melalui peletakan batu pertama (ground breaking) pembangunan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Tazkiya di Desa Tanimulya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Senin (5/1/2026). Acara yang diresmikan langsung oleh Bupati Bandung Barat, H. Jeje Ritchie Ismail, ini bukan sekadar seremonial, melainkan bukti sinergi antara pemerintah, lembaga filantropi, dan masyarakat dalam mengelola dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) untuk masa depan bangsa.
Bupati Jeje Ritchie Ismail, didampingi oleh Camat Ngamprah Agnes Virganty, S.Sos., M.Si., dan Kepala Desa Tanimulya Omin Effendi, menegaskan bahwa pembangunan sekolah ini selaras dengan visi Bandung Barat Amanah, khususnya pilar Agamis. “Hal ini bertujuan untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berakhlak dan berkarakter, sejalan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045,” ujar Bupati, seperti disampaikan kembali oleh Camat Agnes Virganty dalam wawancara.

Sekolah yang berlokasi di Jalan Somawinata No. 30 ini dikembangkan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Mizan Amanah. Direktur LAZ Mizan Amanah, Dadan Rohman, menyatakan kebanggaan dan syukurnya atas terealisasinya cita-cita panjang lembaganya. “Ini merupakan salah satu cita-cita kami yang akhirnya dapat terlaksana. Pembangunan SDIT Tazkiya ini adalah bagian dari program Lembaga Amil Zakat Nasional Mizan Amanah,” jelas Dadan.
Pendidikan Inklusif, Berbekal Akhlak dan Teknologi
SDIT Tazkiya bukan sekolah biasa. Konsepnya dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan (bullying). Sekolah juga mengintegrasikan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Namun, yang lebih utama adalah komitmennya untuk memberikan akses pendidikan yang berkualitas secara inklusif.

“Selain menerima siswa umum dengan sistem berbayar, SDIT Tazkiya juga memfasilitasi anak-anak yatim dan dhuafa yang membutuhkan akses pendidikan. Untuk siswa dari kalangan tersebut, pembiayaan ditanggung oleh LAZ Mizan Amanah,” papar Dadan Rohman. Model ini merupakan perwujudan nyata dari prinsip keadilan sosial dalam pendidikan, di mana dana ZIS dari masyarakat dialihkan menjadi investasi masa depan bagi anak-anak kurang mampu.
Kepala Sekolah SDIT Tazkiya, Rega Loviandhy, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas momen bersejarah ini. “Tanggapannya tentu sangat positif. Alhamdulillah, hari ini peletakan batu pertama dilakukan dan dihadiri langsung oleh Bapak Bupati beserta jajarannya, ini merupakan hal yang luar biasa bagi kami,” ucap Rega.

Sekolah yang telah beroperasi sejak 2021 dan kini memiliki 195 siswa ini telah menunjukkan prestasi, salah satunya di tingkat ASEAN pada bidang taekwondo. Dengan penambahan empat ruang kelas baru pada tahap pertama pembangunan fisik, sekolah ini menargetkan dapat melayani lebih banyak calon generasi emas.
Dalam sambutannya K.H. Miftah Faridl hadir pula dalam acara dan menyampaikan bahwa pembangunan SDIT Tazkiya merupakan wujud amal jariyah di bidang pendidikan, yang pahalanya terus mengalir. Ia mengajak seluruh pihak menjaga niat, keikhlasan, serta menjadikan pendidikan sebagai jalan membangun peradaban.
Sinergi Membangun dari Desa
Dukungan terhadap kehadiran SDIT Tazkiya juga mengalir kuat dari tingkat pemerintahan paling akar rumput. Kepala Desa Tanimulya, Omin Effendi, menyambut gembira bertambahnya jumlah sekolah di wilayahnya. “Sekolah ini merupakan aset penting untuk membentuk generasi yang berakhlak mulia dan berilmu agama, serta memperkuat iman dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” tuturnya.

Ia berharap sekolah ini tak hanya menjadi pusat pendidikan formal, tetapi juga pusat pembinaan akhlak dan kegiatan sosial kemasyarakatan. “Saya juga mengajak seluruh masyarakat untuk turut menjaga, memanfaatkan, dan mendukung keberadaan sekolah ini, menanamkan kekompakan, serta menumbuhkan sikap toleransi,” imbuh Omin Effendi.
Harapan senada disampaikan Camat Agnes Virganty. Ia melihat kontribusi SDIT Tazkiya akan signifikan terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya pada komponen rata-rata lama sekolah. “Lebih dari itu, SDIT Tazkiya diharapkan mampu mencetak putra-putri yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak dan karakter yang kuat,” tegas Agnes.

Wakaf Pendidikan untuk Keberlanjutan
Keberadaan SDIT Tazkiya juga menjadi contoh konkret pengelolaan wakaf produktif di bidang pendidikan. Lahan sekolah sendiri telah dibebaskan melalui program wakaf yang dihimpun Mizan Amanah. Rega Loviandhy menyebut ini sebagai amal jariyah. “Wakaf di bidang pendidikan, terutama pembangunan sekolah yang merupakan amal jariyah dimana pahalanya terus mengalir,” katanya.
Dadan Rohman menambahkan, respons donatur terhadap program pendidikan sangat luar biasa. “Masyarakat sangat antusias karena pendidikan merupakan investasi untuk masa depan generasi penerus bangsa,” ujarnya. Meski saat ini Mizan Amanah masih memberikan dukungan penuh, harapannya ke depan SDIT Tazkiya dapat mandiri dan berkelanjutan.

Target penyelesaian lantai pertama adalah sebelum Juli 2026. Dengan dukungan yang terus mengalir, pembangunan hingga tiga lantai dalam setahun ke depan sangat dimungkinkan. “Jika semangat para donatur untuk berwakaf terus meningkat, insya Allah pembangunan bisa lebih cepat selesai,” harap Rega Loviandhy.
Dengan dimulainya pembangunan fisik ini, SDIT Tazkiya mengukuhkan perannya bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai monument hidup dari kekuatan kolaborasi. Kolaborasi antara niat baik para muzaki (pembayar zakat), pengelolaan amanah oleh LAZNAS, dukungan pemerintah, dan penerima manfaat dari masyarakat. Sebuah teladan bagaimana dana sosial keagamaan dapat dioptimalkan untuk membangun peradaban, dimulai dari sebuah sekolah dasar di Bandung Barat, menuju kontribusi untuk Indonesia Emas 2045. Seperti disimpulkan Dadan Rohman, “Kami berharap melalui SDIT Tazkiya ini, Mizan Amanah dapat berkontribusi nyata dalam mencetak generasi emas—anak-anak yang beriman, berakhlak, cerdas, dan siap menjadi penerus bangsa.” (red-nk)