Haul Akbar ke-235 Eyang Dalem Haji Kaputihan, Merawat Barokah Leluhur dan Meneguhkan Spirit Ibadah di Desa Cihanjuang

165 Desa KBB Bandung Barat

Cihanjuang. 4 Rajab 1447 Hijriah. Haul Akbar ke-235 Eyang Dalem Haji Kaputihan Lemah Suci Nagara Tengah Pakuwon Cibaligo dirangkaikan dengan Hajat Lembur Cihanjuang berlangsung khidmat dan sarat makna spiritual. Kegiatan bernuansa religi dan islami ini digelar di kompleks Makam Eyang Dalem Haji Kaputihan, Desa Cihanjuang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, dan dihadiri ratusan jamaah dari berbagai lapisan masyarakat.

Sejak pagi, masyarakat tampak memadati area makam untuk mengikuti rangkaian doa, tawasul, dan pengajian. Haul ini tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan, tetapi juga momentum refleksi kolektif untuk mengenang jasa para leluhur yang telah berjasa menyebarkan nilai-nilai Islam, akhlak, dan keteladanan hidup di tengah masyarakat Sunda.

Hadir dalam kesempatan tersebut mubalig ternama, Kiai Haji Ubaidillah, yang menyampaikan tausiyah dengan bahasa yang sejuk dan penuh hikmah. Turut hadir Kepala Desa Cihanjuang, Gagan Wirahma, S.IP., beserta jajaran pemerintah desa, perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Cihanjuang, para kiai, ulama, sesepuh, majelis taklim, serta tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Cihanjuang menegaskan bahwa Haul Akbar ini bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga warisan spiritual para pendahulu. “Haul ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak memutus mata rantai doa kepada para leluhur yang telah berjasa, sekaligus meneladani akhlak dan perjuangan mereka dalam membangun masyarakat yang religius dan rukun,” ujarnya.

Sementara itu, dalam tausiyahnya, Kiai Haji Ubaidillah mengajak jamaah untuk memahami sejarah para wali sebagai sumber pelajaran berharga dalam dakwah dan kehidupan beragama. Ia menjelaskan bahwa para wali memiliki keterkaitan yang sangat erat satu sama lain. Pada masa Wali Songo, arah dakwah tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan berdasarkan petunjuk dan musyawarah para wali, khususnya Sunan Gunung Jati dalam konteks dakwah di tanah Sunda.

“Sunan Ampel memang wali sepuh yang sangat luhur ilmunya. Namun, dalam pengaturan wilayah dakwah di tanah Sunda, rujukannya adalah Sunan Gunung Jati. Hal ini diakui oleh para ulama di Banten, Jawa Barat, hingga Cirebon,” tutur Ubaidillah di hadapan jamaah.

Menurutnya, Sunan Gunung Jati bukan hanya seorang wali, tetapi juga sosok panutan dan orang tua bagi para wali lainnya. Karena itulah, setiap langkah dakwah para wali selalu diliputi keberkahan. Dari sinilah umat Islam diajak untuk memahami makna barokah yang sesungguhnya.

“Orang pintar bisa mendapatkan barokah. Orang sederhana pun bisa mendapatkan barokah. Bahkan orang yang merasa dirinya bodoh, jika hatinya lurus dan tawadhu, tetap bisa mendapatkan barokah,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa kunci utama bukanlah kepintaran semata, melainkan keistikamahan dalam menjalani perintah Allah Swt.

Lebih jauh, Ubaidillah mengingatkan jamaah agar tidak terjebak pada simbol dan seremonial belaka, termasuk dalam menyikapi pergantian tahun. “Sekarang kita sering bertanya, bagaimana menyambut tahun baru? Padahal yang paling penting bukan perayaan tahun barunya, tetapi apakah sholat kita diperbaiki atau tidak,” katanya.

Ia menekankan bahwa sholat merupakan fondasi utama kehidupan seorang muslim. Jika sholat terjaga, maka kehidupan akan tertata. Gotong royong, kerja bakti, dan menjaga kebersihan lingkungan adalah hal baik, tetapi semua itu harus dibarengi dengan upaya membersihkan hati dan ruh melalui ibadah yang khusyuk.

“Percuma lingkungan bersih kalau sholat ditinggalkan. Percuma kerja bakti kalau ibadah lalai,” ucapnya. Bahkan, menurutnya, rezeki yang terasa sempit atau sering “kelewat” bukan semata karena kurang usaha, melainkan karena kelalaian dalam menjaga sholat.

Dalam bagian lain ceramahnya, Ubaidillah mengingatkan bahwa musibah terbesar bukanlah kehilangan harta atau kegagalan duniawi. “Musibah yang paling besar adalah rusaknya hati dan jauhnya manusia dari Allah,” tegasnya. Ia juga menyinggung realitas sosial saat ini, di mana perbedaan pandangan dan kepentingan sering kali memicu konflik hingga melalaikan urusan agama dan akhlak.

Padahal, Rasulullah Saw. bersabda, ikhtilāfu ummatī raḥmah—perbedaan di umatku adalah rahmat. Karena itu, perbedaan tidak seharusnya dipertentangkan, melainkan disikapi dengan bijaksana dan lapang dada, selama tidak keluar dari koridor syariat.
Menutup tausiyahnya, Kiai Haji Ubaidillah mengajak seluruh jamaah untuk menundukkan hati dalam doa. “Allahumma inni as’aluka nafsan bika muthmainnah—Ya Allah, kami mohon kepada-Mu jiwa yang tenang, hati yang tenteram, dan ibadah yang khusyuk,” ucapnya.

Haul Akbar ke-235 Eyang Dalem Haji Kaputihan ini menjadi pengingat bahwa keberkahan hidup tidak lahir dari gemerlap dunia, melainkan dari hati yang dekat dengan Allah, sholat yang terjaga, serta akhlak yang terus diperbaiki. Melalui doa dan kebersamaan, masyarakat Cihanjuang berharap nilai-nilai luhur para leluhur senantiasa hidup dan menuntun generasi masa kini menuju kehidupan yang penuh rahmat dan keberkahan. (nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *