Istighotsah Milangkala ke-41 Desa Sukajaya, Merajut Spirit Keagamaan untuk Desa yang Berkah dan Berjati Diri

Bandung Barat Nasional

Bandung Barat. 19 Desember 2025. Rangkaian peringatan Milangkala ke-41 Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, diisi dengan kegiatan istighotsah dan tausiah sebagai refleksi spiritual sekaligus penguat nilai kebersamaan masyarakat. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 19 Desember 2025, ini mengusung tema “Rempug Dukung Sauyunan Ngawangun Desa Nyunda Nyantri Pikeun Ngawangun Jati Diri”, yang menegaskan pentingnya sinergi budaya Sunda dan nilai keislaman dalam pembangunan desa.

Istighotsah yang digelar secara khidmat tersebut dihadiri unsur pemerintah desa, tokoh agama, keluarga besar Haji Jajang beserta keluarga besar dari Nina Ros Florist Bandung, tokoh masyarakat, serta ratusan warga dari berbagai kalangan. Antusiasme masyarakat terlihat sejak awal kegiatan, mencerminkan kuatnya tradisi religius yang telah mengakar di Desa Sukajaya.

Kepala Desa Sukajaya, Asep Jembar, menyampaikan bahwa kegiatan keagamaan ini menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan desa. Menurutnya, pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan penguatan spiritual masyarakat.

“Semoga kegiatan ini menambah keberkahan. Kita diberikan kesehatan, kelancaran, dan kesuksesan. Mudah-mudahan saya dalam memimpin bisa memajukan Desa Sukajaya, baik dari segi pembangunan maupun peningkatan kesejahteraan masyarakatnya,” ujar Asep Jembar.


Ia menegaskan bahwa nilai keagamaan tidak boleh terpisah dari kehidupan masyarakat, terlebih dalam menjalankan roda pemerintahan desa. “Intinya, kita tidak bisa jauh dari keagamaan. Walaupun aktivitas kita di dunia, pada akhirnya kita akan kembali kepada Yang Maha Kuasa. Maka segala sesuatu harus nyambung dengan nilai keagamaan,” katanya.
Asep Jembar juga mengapresiasi tingginya partisipasi warga dalam setiap kegiatan keagamaan. Ia menyebut, antusiasme masyarakat Desa Sukajaya terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, kehadiran warga dalam kegiatan keagamaan kerap menjadi yang terbesar dibandingkan desa lain di wilayah sekitar.

“Alhamdulillah, antusiasme warga sangat baik dan terus meningkat. Di Masjid Besar Lembang pun, jemaah dari Desa Sukajaya termasuk yang paling banyak,” ungkapnya.

Menurutnya, setiap program dan kegiatan desa selalu diupayakan memiliki muatan nilai religius. Hal ini menjadi ciri khas sekaligus kekuatan sosial Desa Sukajaya. “Nilai keagamaan di Sukajaya selalu dihadirkan dalam setiap kegiatan. Insyaallah itu yang menjadi pondasi kita bersama,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Lembang, Undang Ubaidillah, dalam tausiahnya menjelaskan makna istighotsah sebagai bentuk ikhtiar batin untuk memohon keselamatan dan keberkahan bagi desa dan seluruh warganya.
“Istighotsah ini adalah doa bersama untuk meminta keselamatan, bukan hanya selamat secara lahiriah, tetapi juga agar Desa Sukajaya menjadi desa yang penuh berkah,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya sinergi antara ulama dan umara dalam membangun desa. Kolaborasi tersebut, menurutnya, tidak hanya terbatas pada aspek birokrasi, tetapi juga harus menyentuh dimensi religius dan sosial kemasyarakatan.

“Kami berharap terjalin sinergi yang kuat antara ulama dan umara, bergotong royong membangun Sukajaya, bukan hanya di bidang pemerintahan, tetapi juga di bidang keagamaan,” kata Undang.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menjadikan momentum milangkala sebagai sarana meningkatkan kualitas diri di berbagai bidang. “Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan bisa meningkatkan kualitas pendidikan agama, pendidikan umum, serta kehidupan bermasyarakat secara keseluruhan,” tuturnya.

Tingginya antusiasme warga dalam kegiatan istighotsah, menurut Undang, menunjukkan meningkatnya kesadaran religius masyarakat. Ia menilai hal tersebut sebagai modal sosial yang sangat berharga bagi pembangunan desa yang berkelanjutan.

“Ketika banyak orang berkumpul dan berdoa bersama, kita berharap ada keberkahan yang Allah berikan. Kita memohon keselamatan, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat,” ucapnya.

Selain solat isya berjamaah, Istighosah dan tausyiah, tidak kalah unik dan menarik pada malam ini diadakan lomba kreasi tumpeng, yang diikuti 16 RW se desa Sukajaya. Sebagai rasa syukur melengkapi tali silaturahmi yang agamis serta harmonis diakhir acara dilanjutkan dengan tukar nasi tumpeng dan makan nasi tumpeng bersama tentunya dengan penuh suka cita dan bahagia mengiringi rangkaian demi rangkaian acara malam ini

Peringatan Milangkala ke-41 Desa Sukajaya ini tidak hanya menjadi ajang seremonial tahunan, tetapi juga momentum refleksi kolektif untuk memperkuat jati diri desa. Melalui perpaduan nilai budaya Sunda dan ajaran Islam, Desa Sukajaya terus berupaya meneguhkan diri sebagai desa yang religius, harmonis, dan berorientasi pada kesejahteraan warganya.

Dengan semangat kebersamaan dan doa yang dipanjatkan, masyarakat berharap Desa Sukajaya ke depan semakin maju, sejahtera, serta senantiasa berada dalam lindungan dan keberkahan Tuhan Yang Maha Esa. (red-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *