Ketahanan Pangan Berbasis BUMDes, Cikande Kembangkan Domba Dorper F1 dan Pertanian Pakan Mandiri

Bandung Barat Bumdes KBB

Cikande, KBB, 9 Februari 2026. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) “Berkibar Cikande” mulai mengembangkan program ketahanan pangan berbasis peternakan melalui budidaya domba Dorper F1. Program ini menjadi bagian dari pemanfaatan alokasi 20 persen Dana Desa untuk ketahanan pangan, sekaligus diarahkan sebagai model usaha produktif desa yang terintegrasi antara peternakan, pertanian pakan, dan pengelolaan limbah organik.

Sebanyak 33 ekor domba Dorper F1 saat ini dipelihara di kandang BUMDes Cikande. Domba-domba tersebut merupakan hasil persilangan antara pejantan Dorper asal Afrika Selatan dengan induk domba lokal Indonesia, seperti domba Garut dan domba ekor tipis. Jenis ini dikenal memiliki pertumbuhan cepat, badan besar dan berotot, adaptif terhadap iklim tropis, serta produktivitas daging yang tinggi. Selain itu, bulunya pendek dan mudah rontok sehingga tidak memerlukan proses pencukuran, menjadikannya relatif efisien dalam perawatan.

Direktur BUMDes Berkibar Cikande, Ahmad Tarsudi, menjelaskan bahwa unit usaha ini baru berjalan sekitar satu bulan. “Kami menerima SK akhir November, lalu Desember mulai membangun kandang. Domba-domba didatangkan tanggal 31 Desember, jadi ini masih sangat awal,” ujarnya.

Ia menjelaskan, alokasi awal program seharusnya digunakan untuk pengadaan 35 ekor domba. Namun, BUMDes memilih membeli 33 ekor dengan kualitas lebih baik karena sebagian besar sudah dalam kondisi bunting. “Atas inisiatif sendiri, saya membeli domba yang harganya sedikit lebih mahal, tapi dalam kondisi sudah hamil. Sekarang totalnya 33 ekor,” kata Tarsudi. Dari jumlah tersebut, sekitar 15 ekor di antaranya dalam kondisi bunting, dengan harga rata-rata sekitar Rp4 juta per ekor.

Domba Dorper F1 tersebut didatangkan dari Berkah Farm, Kediri, Jawa Timur. Komposisi ternak terdiri dari 30 betina dan tiga jantan, dengan rasio sekitar 10:1. Program yang dijalankan tidak difokuskan pada penggemukan semata, melainkan pembibitan. “Program dari desa ini adalah untuk pengembangbiakan. Jadi bukan langsung dijual, tapi membentuk unitnya dulu. Penjualan nanti hanya sebagian untuk menutup biaya operasional,” ujarnya.

Kandang yang telah dibangun memiliki kapasitas tampung hingga sekitar 60 ekor, sehingga masih memungkinkan pengembangan populasi. Ke depan, BUMDes menargetkan pembentukan unit-unit usaha baru berbasis peternakan desa secara bertahap.

Dalam pengelolaan pakan, BUMDes Berkibar Cikande menerapkan sistem terpadu. Pakan utama berasal dari hijauan dan silase (pakan fermentasi). BUMDes juga menanam tiga jenis rumput pakan, yakni rumput pakchong, rumput gajah, dan rumput odot. Rumput pakchong dinilai sebagai salah satu jenis terbaik karena produktivitas dan kandungan nutrisinya tinggi untuk ternak ruminansia.

Untuk mendukung efisiensi pakan, BUMDes telah memiliki mesin pencacah rumput. “Kalau dicacah sampai lembut, pakan lebih mudah dicerna dan tidak banyak terbuang,” kata Tarsudi. Secara rata-rata, satu ekor domba menghabiskan sekitar 4 kilogram pakan per hari.

Sekretaris BUMDes Berkibar Cikande, Cahaya Kurniawan, yang menangani operasional harian, menjelaskan bahwa limbah peternakan juga dimanfaatkan secara produktif. “Kotorannya kami jadikan pupuk untuk penanaman rumput pakan sendiri. Ke depan, tidak menutup kemungkinan diproduksi dan dijual,” ujarnya.

Kotoran ternak tersebut difermentasi menggunakan molase dan EM4 untuk menghasilkan pupuk organik, sehingga tercipta siklus produksi yang saling terhubung antara peternakan dan pertanian. Menurut Tarsudi, pendekatan ini lahir dari kondisi sosial ekonomi desa. “Cikande ini basisnya pertanian. Banyak limbah pertanian yang sebenarnya bisa diolah jadi silase. Saya ingin masyarakat lebih kreatif, sehingga limbah tidak terbuang percuma,” katanya.

Dalam aspek kesehatan hewan, BUMDes telah menjalin komunikasi awal dengan Dinas Peternakan setempat melalui unsur kesejahteraan rakyat desa. Meski pemeriksaan medis rutin belum dilakukan secara menyeluruh, pengelola mengaku terus belajar secara mandiri terkait perawatan, pakan, dan manajemen ternak.

Ke depan, pengembangan BUMDes ini tidak hanya diarahkan pada sektor hulu, tetapi juga hilir. Jika populasi ternak sudah stabil dan berkembang, BUMDes berencana membangun jejaring pemasaran, termasuk potensi kerja sama dengan rumah makan dan usaha kuliner berbasis olahan daging domba. “Kalau populasinya sudah banyak, kita bisa promosi ke rumah makan. Sate domba Dorper itu katanya rasanya lebih empuk dan baunya lebih ringan,” kata Tarsudi.

Program ini juga diproyeksikan dapat mendukung kebijakan ketahanan pangan nasional, termasuk potensi keterkaitannya dengan program pemenuhan gizi masyarakat. Melalui integrasi peternakan, pertanian pakan, dan pengelolaan limbah, BUMDes Berkibar Cikande menempatkan dirinya sebagai model usaha desa yang berkelanjutan.

Lebih dari sekadar usaha ekonomi, inisiatif ini menjadi ruang partisipasi warga desa dalam membangun kemandirian pangan. “Harapannya, masyarakat berminat ikut bergabung, sehingga bisa menambah unit usaha baru. Usaha ini tidak hanya soal ternak, tapi tentang membangun ekosistem ekonomi desa,” ujar Tarsudi.

Dengan pendekatan berbasis potensi lokal, integrasi sumber daya, dan manajemen usaha kolektif, program ketahanan pangan BUMDes Berkibar Cikande menunjukkan bahwa desa memiliki peran strategis dalam membangun sistem pangan nasional yang berkelanjutan, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. (nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *