JAKARTA, 15 Januari 2026. Para pakar ekonomi global kembali membunyikan alarm tanda bahaya. Sebuah periode tantangan ekonomi berat diprediksi akan menghantam dunia dalam kurun 2026 hingga 2030. Ancaman inflasi tinggi, penyempitan lapangan kerja, dan daya beli yang tergerus menjadi bayang-bayang yang mengintai. Namun, di balik setiap reruntuhan krisis, sejarah kerap mencatat lahirnya raksasa-raksasa bisnis baru. Pertanyaannya, di posisi manakah kita akan berdiri saat badai itu datang? Apakah menjadi korban yang tergilas atau menjadi peselancar yang mahir menari di atas ombak?
“Krisis bukan berarti kiamat finansial. Krisis adalah momen transfer kekayaan dari mereka yang panik ke mereka yang siap,” demikian salah satu poin kunci dalam sebuah diskusi terbatas mengenai strategi bertahan hidup bisnis di tengah gejolak. Analisis terhadap pola ekonomi sebelumnya mengungkap, bukan bisnis dengan modal terkuat yang selalu bertahan, melainkan yang paling cepat dan lincah beradaptasi. Berdasarkan kajian tersebut, setidaknya ada lima jenis usaha yang diprediksi bukan hanya mampu bertahan, tetapi akan sangat dicari oleh pasar di tengah himpitan ekonomi.
1. Sektor “Bensin Tubuh”: Pangan Pokok yang Efisien dan Terjangkau
Ketika daya beli terkikis, manusia mungkin menunda membeli baju baru, mengganti gawai, atau berlibur. Namun, satu hal yang tidak bisa dikompromikan: makan. Yang berubah adalah pola konsumsinya. Restoran mewah dan kafe estetik yang mengandalkan gengsi diperkirakan akan sepi. Sebaliknya, bisnis yang fokus pada pangan pokok dengan harga terjangkau, porsi mengenyangkan, dan jaminan kebersihan akan menjadi primadona.
Konsep seperti catering rantang rumahan, warung makan dengan comfort food murah, atau penyedia paket sembako hemat diprediksi akan “diserbu”. Logikanya simpel: “Perut tidak bisa diajak kompromi,” tulis analis dalam naskah kajian tersebut. Bisnis yang mampu mengenyangkan perut rakyat dengan harga masuk akal akan selalu memiliki antrean panjang.
2. Benteng Kesehatan: Fokus pada Preventif dan Solusi Harian
Pandemi telah mengubah kesadaran masyarakat secara kolektif tentang kesehatan. Kini, banyak orang lebih rela mengeluarkan uang untuk pencegahan daripada menghadapi biaya rumah sakit yang sangat besar. Karena itu, bisnis di sektor kesehatan preventif diperkirakan akan mengalami kenaikan permintaan. Yang mengemuka bukanlah rumah sakit besar, melainkan solusi kesehatan harian.
Penjualan suplemen berbahan herbal alami, madu, jamu modern dalam kemasan praktis, hingga catering diet khusus untuk menjaga imunitas tubuh akan memiliki pasar yang kuat. “Orang akan berpikir dua kali untuk beli sepatu mahal, tapi akan langsung bayar untuk vitamin yang menjamin mereka tetap bisa bekerja besok pagi,” demikian bunyi kajian tersebut. Kombinasi antara produk kesehatan dan edukasi yang tulus akan membangun loyalitas pelanggan yang kuat.
3. “Jualan Cangkul” di Tambang Emas: Edukasi dan Pelatihan Keterampilan Praktis
Masa sulit ekonomi sering kali diiringi dengan peningkatan angka pengangguran dan ketakutan akan pemutusan hubungan kerja (PHK). Kondisi ini memicu keinginan banyak orang untuk mempelajari keterampilan baru agar tetap kompetitif. Di sinilah bisnis edukasi dan pelatihan keterampilan praktis menjadi “tambang emas”.
Kursus daring yang mengajarkan keterampilan seperti berjualan, digital marketing, pemrograman, atau keahlian teknis lainnya diprediksi akan laku keras. Kunci suksesnya adalah tidak menjual teori yang membosankan, tetapi “menjual harapan dan jalan keluar.” Menjadi mentor atau membuka kelas kecil untuk keterampilan spesifik dinilai sebagai cara cerdas untuk mengambil untung dari kepanikan pasar yang positif untuk membantu orang lain meningkat sambil mengisi rekening sendiri.
4. Kebangkitan Ekonomi Reparasi: Mentalitas “Perbaiki, bukan Beli Baru”
Ketika uang menipis, kebiasaan konsumtif beli barang baru bergeser ke mentalitas memperbaiki yang rusak. Toko elektronik dan showroom mobil bisa sepi, tetapi bengkel servis dan jasa reparasi justru ramai. Inilah era kebangkitan tukang servis yang terampil.
Mulai dari servis ponsel dan laptop, perbaikan perabot rumah tangga, hingga jasa permak pakaian akan banyak dicari. “Orang akan memilih mengeluarkan Rp100.000 untuk memperbaiki blender rusak daripada Rp1 juta untuk beli baru,” demikian ilustrasi dalam naskah. Keterampilan teknis untuk memperbaiki barang rusak akan menjadi salah satu keahlian paling dicari, karena bisnis ini bermain di area penghematan pengeluaran masyarakat dan bersifat sangat tahan banting.
5. Oase Ketenangan: Industri Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Jiwa
Tekanan hidup yang berat, tumpukan tagihan, dan ketidakpastian masa depan berpotensi menciptakan satu “penyakit” massal: stres. Pasar kemudian akan membutuhkan “obat penenang jiwa”—bukan dalam bentuk kimia, tetapi layanan yang memberikan rasa damai dan ketenangan.
Industri kesehatan mental, aplikasi meditasi, konten-konten spiritual yang menyejukkan, atau jasa konsultasi psikologi daring diprediksi akan mengalami lonjakan. “Manusia butuh didengar dan butuh ditenangkan. Siapa yang bisa menyediakan ruang nyaman bagi jiwa-jiwa yang lelah ini akan memenangkan pasar yang sangat loyal,” tulis analis. Layanan ini tidak lagi dianggap sebagai kebutuhan sekunder, melainkan sebagai kebutuhan dasar untuk menjaga produktivitas dan kualitas hidup di tengah tekanan.
Kesimpulan: Adaptasi adalah Kunci
Masa 2026 hingga 2030 diprediksi bukanlah waktu untuk berdiam diri dalam ketakutan, melainkan sebuah “panggung seleksi alam” di dunia usaha. Yang bertahan bukan yang paling kuat modalnya, tetapi yang paling cepat dan cermat adaptasinya. Pesan yang mengemuka adalah ajakan untuk proaktif: “Jangan menunggu badai datang baru sibuk mencari payung. Siapkan perahunya sekarang.”
Masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah, didorong untuk memilih salah satu dari lima sektor potensial ini, mendalaminya, dan memulai dengan langkah-langkah kecil. Sebab, di balik setiap krisis selalu tersembunyi peluang bagi mereka yang matanya terbuka lebar dan pikirannya siap berinovasi. Menjadi pemenang di masa sulit berarti memilih untuk menyiapkan strategi, alih-alih hanya sibuk mengeluh.
Artikel ini telah dikompilasi dari berbagai sumber dan kajian strategis para pelaku usaha serta ekonom, sebagai bahan edukasi dan pertimbangan bagi publik dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan. (red)