Menjaga Napas Waduk Saguling: Dari Tangan Prajurit hingga Harapan Listrik Jawa-Bali-Madura”

Bandung Barat Nasional

Bandung Barat 1 November 2025. Di bawah terik matahari pagi yang mulai menembus kabut tipis di perairan Saguling, suara mesin perahu dan alat berat terdengar bersahutan. Di tengah hamparan hijau eceng gondok dan lautan sampah yang menutupi permukaan air, para prajurit TNI, bersama petugas dari Indonesia Power, kepolisian dan masyarakat sekitar, bergerak serempak. Bukan untuk latihan militer, melainkan untuk misi yang jauh lebih sunyi namun tak kalah penting — menyelamatkan waduk Saguling dari kepungan sampah dan gulma air.

Kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan lanjutan peduli lingkungan yang dipimpin langsung oleh Komandan Kodim 0609/Cimahi, Letkol Inf Ratno, SH, dan Komandan Sektor 3, Kolonel Arh Dodo M. Turut hadir Wakapolres Cimahi, Kompol Rizki Syawaludin, SH, serta perwakilan dari Indonesia Power, Taufan, yang menjadi saksi bahwa perjuangan menjaga waduk bukan sekadar urusan kebersihan, melainkan soal keberlangsungan hidup jutaan orang di Jawa, Bali, dan Madura.

“Pembersihan ini adalah bagian kecil dari upaya besar menjaga alam,” ujar Letkol Ratno dalam sambutannya. “Kita ingin masyarakat paham, menjaga lingkungan bukan tugas TNI semata. Semua harus dimulai dari rumah — dari cara kita memilah dan membuang sampah.”

Ucapan itu terasa sederhana, namun mengandung pesan mendalam. Di balik gulungan ombak kecil waduk Saguling, tersimpan ancaman yang nyaris tak terlihat: penurunan volume air akibat sedimentasi dan penumpukan sampah. Menurut Taufan dari Indonesia Power, setiap hari sekitar 200 ton sampah mengalir ke waduk. Excavator yang bekerja siang malam hanya mampu membersihkan sebagian kecil dari timbunan itu.

“Bayangkan, jika terus begini, waduk yang menjadi sumber listrik utama untuk Jawa, Bali, dan Madura bisa berhenti berproduksi pada tahun 2084,” kata Taufan. “Bukan hanya listrik yang terancam, tapi juga kehidupan ekosistem di dalamnya.”

Pernyataan itu menampar kesadaran banyak orang yang hadir hari itu. Saguling bukan sekadar waduk — ia adalah jantung energi yang diam-diam bekerja bagi kehidupan kita semua. Namun, jantung itu kini mulai sesak oleh sampah yang datang dari berbagai penjuru, dari selokan rumah tangga hingga pasar tradisional yang membuang limbah tanpa pikir panjang.

Dalam kegiatan ini, para prajurit TNI bersama personil Indonesia Power bukan hanya membersihkan eceng gondok dan sampah, tetapi juga memberikan edukasi kepada warga sekitar tentang pentingnya memilah dan mengelola limbah rumah tangga. Di sela-sela pekerjaan fisik yang berat, mereka menyapa ibu-ibu yang menonton dari pinggir waduk, mengajak mereka bercakap tentang menjaga kebersihan sungai. Ada sesuatu yang menyentuh di sana — pertemuan antara disiplin militer dan kepedulian lingkungan yang lembut.

Selama dua bulan ke depan, kegiatan ini akan terus berlanjut. Tak hanya membersihkan permukaan air, tapi juga melakukan penataan kembali area sekitar waduk agar lebih lestari. “Semoga Allah membantu kita dalam pelaksanaan ini,” ujar Letkol Ratno menutup sambutannya.

Di sisi lain, di balik keheningan air yang berharap kedepannya bisa bersih, terpantul harapan baru. Bahwa upaya kecil, ketika dilakukan bersama, bisa mengubah arah masa depan. Waduk Saguling bukan hanya sumber energi — ia juga cermin dari kepedulian manusia terhadap bumi yang menampungnya.

Dan di hari itu, di tepian waduk yang mulai terbebas dari gulma dan sampah, tampak sinar matahari menari di atas permukaan air — seolah ikut menyambut niat baik mereka yang memilih untuk peduli. Sebuah awal kecil, namun berarti, dalam menjaga napas kehidupan yang mengalir dari Saguling hingga ke seluruh Nusantara. (aq-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *