BATUJAJAR, 24 Januari 2026. Di tengah gempuran tren modernitas yang kian deras, sebuah pemandangan kontras namun menyejukkan terpampang nyata di kawasan Babakansari, Desa Batujajar Barat, Kabupaten Bandung Barat. Suara tabuhan kendang dan melodi saron yang magis memecah kesunyian malam, saat ribuan pasang mata dari berbagai generasi terpaku pada panggung megah pagelaran Wayang Golek Putra Giri Harja 3.
Acara yang dipandu oleh Ki Dalang Dadan Sunandar Sunarya ini bukan sekadar pertunjukan seni biasa. Gelaran kolosal ini merupakan bagian dari syukuran “Unduh Mantu” pernikahan Muhammad Syahrul Hanafi, S.M dan Hepi Janwaristia Rahmat, S.Pd., putra-putri dari keluarga besar pemilik Toko Emas Rahayu. Bapak Haji Aang dan Ibu Hajah Tati.

Sejak sore hari, atmosfer kegembiraan sudah terasa. Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Camat Batujajar, Agus Ahmad Setiawan, dan Kepala Desa Batujajar Barat, Erfan Hariawan, bersama jajaran Babinsa serta Bhabinkamtibmas, menegaskan bahwa acara ini merupakan representasi dari kuatnya dukungan pemerintah terhadap pelestarian budaya lokal.

Mendekatkan Tradisi kepada Gen Z
Ada yang menarik dalam resepsi kali ini. Alih-alih memilih hiburan populer masa kini, keluarga besar Toko Emas Rahayu justru memilih Wayang Golek sebagai suguhan utama. Keputusan ini berbuah manis; penonton yang hadir didominasi oleh anak muda, atau yang akrab disapa Gen Z.
Mempelai wanita, Hepi Janwaristia, mengungkapkan rasa syukurnya atas konsep acara yang tidak hanya merayakan cinta mereka, tetapi juga kecintaan pada tanah air. “Kami sangat bersyukur. Terlebih bagi generasi muda seperti kami, wayang golek sudah jarang ditonton. Dengan adanya acara ini, kami ikut berperan dalam pelestarian budaya. Alhamdulillah, dalang yang dihadirkan juga masih muda sehingga lebih mudah diterima oleh generasi sekarang,” ungkap Hepi dengan nada haru.

Hal senada disampaikan oleh sang suami, Syahrul Hanafi. Ia mengaku sempat merasa gugup menyelenggarakan acara sebesar ini, namun kebanggaan menyelimuti hatinya saat melihat antusiasme warga. “Menurut saya, ini sangat keren. Dengan adanya kombinasi modernisasi, cerita wayang bisa kembali diminati oleh anak muda yang mungkin selama ini jarang bersentuhan dengan seni tradisional,” tambahnya.
Pesan Kemanusiaan dan Kewaspadaan
Di balik kemeriahan lampu panggung, unsur humanis dan empati tetap dijunjung tinggi. Plt. Camat Batujajar, Agus Ahmad Setiawan, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada keluarga penyelenggara. Namun, ia juga menyelipkan pesan moral yang menyentuh terkait kondisi alam saat ini.

”Kami turut mendoakan para korban bencana yang terjadi di wilayah sekitar agar diberikan ketabahan dan keselamatan. Di tengah kondisi cuaca yang kurang bersahabat, kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Mari kita jadikan momentum ini untuk memperkuat gotong royong dan kepedulian sosial,” ujar Agus Ahmad Setiawan di hadapan para tamu undangan.

Senada dengan Camat, Kanit Binmas Polsek Batujajar, Agus S., menekankan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Ia mengingatkan agar para pemuda menjaga kondusivitas acara dan tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor di musim penghujan ini.

Ekonomi Kerakyatan yang Berdenyut
Keberhasilan acara ini tidak hanya diukur dari sisi budaya, tetapi juga dampak ekonominya. Ketua Panitia, Agus Maulana Yusuf, mengungkapkan bahwa gelaran ini berhasil menggerakkan roda ekonomi lokal secara masif. Tercatat lebih dari 300 stan UMKM turut memeriahkan acara, membentang dari Jalan SMP Batujajar hingga area depan Pesantren Asalavia.
”Kami memfasilitasi para pelaku UMKM, baik dari lokal maupun luar Kabupaten Bandung Barat. Kehadiran mereka diharapkan dapat memotivasi pelaku usaha lokal agar semakin berkembang dan mampu berkolaborasi,” jelas Agus Maulana Yusuf. Ia juga menambahkan bahwa panitia membawa amanah dari Haji Aang Mavruh untuk menjaga “keguyuban” antar-warga, terutama dari RW 5, 6, dan 7 yang bersatu dalam kepanitiaan.

Menjaga Warisan untuk Masa Depan
Pagelaran Wayang Golek malam itu menjadi bukti sahih bahwa tradisi tidak akan mati selama ada pihak yang berani memberi ruang. Kolaborasi antara Ki Dalang Dadan Sunandar Sunarya dengan unsur modernitas dalam bercerita, terbukti mampu menyedot perhatian warga dari berbagai lapisan.
Keluarga besar Toko Emas Rahayu telah memberikan contoh nyata bahwa sebuah perayaan pribadi dapat bertransformasi menjadi manfaat kolektif bagi masyarakat mulai dari hiburan gratis yang berkualitas, penggerak ekonomi kecil, hingga penguatan identitas budaya bagi generasi muda.

Malam semakin larut di Batujajar, namun sorak-sorai penonton saat menyaksikan banyolan Cepot dan petuah bijak dari para ksatria wayang masih menggema. Ada harapan besar yang tertitip di sana: bahwa nilai-nilai karakter bangsa akan terus terjaga, seiring dengan doa bagi kedua mempelai yang kini memulai lembaran baru dalam kehidupan mereka. (nk)