Fitur Hari Guru Nasional bersama Hj. Ike Hikmawati, S.S., M.Pd.
Di setiap ruang kelas, selalu ada satu momen kecil yang hanya disaksikan oleh dua pihak: seorang guru dan muridnya. Mungkin hanya tatapan singkat, dorongan pelan, atau senyum menenangkan saat dunia terasa terlalu luas untuk dipahami. Namun dari momen kecil itulah, sebuah keberanian baru dapat tumbuh. Dan keberanian itulah yang menjadi fondasi bagi masa depan.
Hj. Ike Hikmawati, S.S., M.Pd., Ketua Komisi IV DPRD Kota Cimahi, memahami hal ini lebih daripada banyak orang. Ia tumbuh bersama banyak guru, bertemu lebih banyak lagi ketika berkarier di dunia pendidikan dan kebijakan, dan kini menjadi saksi betapa peran seorang guru semakin berat namun semakin mulia.
“Hari Guru bukan sekadar peringatan,” ujarnya dalam sebuah pertemuan sederhana namun penuh makna. “Ini adalah jeda sejenak agar bangsa menyadari bahwa masa depan kita lahir dari ruang kelas yang kadang sunyi, kadang penuh tawa, tapi selalu penuh kasih.”
Pada Hari Guru Nasional tahun ini, Ike membawa pesan yang lebih personal. Bukan hanya soal sistem pendidikan atau regulasi yang harus dibenahi, tetapi tentang jiwa seorang guru—jiwa yang sering kali tidak terlihat, namun terasa dampaknya pada kehidupan banyak orang.
Dalam unggahan reflektifnya, ia menulis: “Di balik setiap anak yang berani bermimpi, ada seorang guru yang lebih dulu percaya… dari tangan merekalah lahir generasi yang kuat.”
Kalimat sederhana namun mengandung kebenaran yang menyentuh banyak orang.
Kisah-kisah Kecil yang Membentuk Bangsa
Jika kita menengok ke berbagai kisah inspiratif di tanah air, hampir selalu ada satu tokoh penting di balik proses tumbuhnya seseorang: guru.
Di sebuah desa di Jawa Tengah, seorang guru honorer tetap mengajar meskipun harus menempuh perjalanan puluhan kilometer.
Di pelosok Kalimantan, ada guru yang menyiapkan makanan sendiri untuk murid-muridnya agar mereka tidak belajar dalam keadaan lapar.
Di kota-kota besar, ada guru yang diam-diam membeli paket internet bagi siswa yang kesulitan belajar daring saat pandemi lalu.
Kisah-kisah ini mungkin tak masuk berita besar, tetapi itulah fondasi kemajuan bangsa.
Ike menyadari pentingnya menghargai sisi kemanusiaan itu. Ia menyampaikan bahwa setiap guru adalah penjaga nilai—bukan hanya pendidik mata pelajaran. “Mereka tidak hanya mengajar dari buku, tetapi dari keteladanan,” katanya. Keteladanan itulah yang diam-diam membentuk cara kita bersikap, cara kita memandang orang lain, bahkan cara kita memperjuangkan sesuatu.
Amal yang Tak Pernah Putus
Dalam pesannya, Ike mengutip sebuah hadis yang kerap menjadi pegangan para pendidik:
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim)
Ia menekankan bahwa guru berada dalam lingkaran amal yang tidak terputus itu—setiap ilmu yang ditanamkan akan hidup jauh melampaui usia mereka.
Mungkin di situlah letak keindahan profesi ini: guru tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hidup dalam nilai yang kita pegang, dalam cara kita mengambil keputusan, dalam cara kita memperlakukan orang lain.
Dan ketika seorang murid tumbuh menjadi pemimpin atau pribadi bermanfaat, sesungguhnya ada doa seorang guru di dalamnya.
Harapan dari Cimahi untuk Indonesia
Sebagai Ketua Komisi IV, Ike membawa harapan agar Cimahi semakin kuat dalam memperjuangkan mutu pendidikan dan kesejahteraan guru. Tetapi di balik gagasan kebijakan itu, yang muncul dari wajahnya adalah rasa hormat.
“Hari Guru adalah pengingat agar kita, sebagai masyarakat, ikut menjaga mereka,” ujarnya. “Karena mereka telah menjaga masa depan kita.”
Ia pun mengajak warga Cimahi dan siapa pun yang membaca pesannya untuk memberikan penghormatan sederhana: menulis harapan, menyampaikan terima kasih, atau sekadar membagikan cerita tentang guru yang membentuk diri kita.
Pada akhirnya, Hari Guru Nasional bukan hanya milik para pendidik. Hari ini adalah milik siapa saja yang pernah dibentuk oleh perhatian, teguran, pelukan spiritual, atau keyakinan seorang guru, yaitu kita semua.
Mereka yang tak pernah lelah menunjukkan arah, kini saatnya kita menyinari kembali jalan mereka. (Ike Hikmawati)