Milangkala ke-41 Desa Sukajaya: Rempug Sauyunan Ngawangun Jati Diri Sunda yang Agamis dan Mandiri

165 Desa KBB Bandung Barat

Lembang. 19 Desember 2025. Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, memperingati Milangkala ke-41 pada Jumat–Sabtu, 19–20 Desember 2025. Peringatan hari jadi desa tahun ini mengusung tema “Rempug Dukung Sauyunan Ngawangun Desa Nyunda Nyantri Pikeun Ngawangun Jati Diri”, sebuah ajakan kolektif untuk memperkuat gotong royong, menjaga nilai budaya Sunda, serta meneguhkan kehidupan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan.

Milangkala ke-41 Desa Sukajaya berlangsung lebih panjang dan meriah dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada 2024 kegiatan hanya digelar satu hari satu malam, tahun ini rangkaian acara dilaksanakan selama dua hari dua malam, dengan porsi kegiatan keagamaan, sosial, kesehatan, budaya, dan olahraga yang lebih seimbang.

Kepala Desa Sukajaya, Asep Jembar Rahmat, menjelaskan bahwa peringatan milangkala kali ini dirancang sebagai ruang kebersamaan seluruh elemen masyarakat. “Alhamdulillah, Milangkala ke-41 ini berbeda cukup signifikan. Pada hari pertama, sekitar 90 persen kegiatan bernuansa keagamaan dan sosial, sementara hiburan disesuaikan agar tetap edukatif dan humanis,” ujar Asep Jembar saat diwawancarai di sela kegiatan.

Rangkaian acara hari pertama diawali dengan penampilan seni tradisional Singa Depok dari Kampung Pemecelan, yang melibatkan enam grup dengan sekitar 60 personel di bawah pimpinan Wowon. Pertunjukan ini menjadi bentuk syukuran sekaligus hiburan bagi anak-anak peserta khitanan massal. Sebanyak 14 anak warga Desa Sukajaya telah mengikuti khitanan massal yang pelaksanaannya dilakukan pada 29 November 2025, sementara pesta syukurannya digelar bertepatan dengan Milangkala Desa.

Selain itu, kegiatan sosial berupa santunan anak yatim piatu dan dhuafa kembali dilaksanakan. Asep Jembar menyebut, dukungan dari para donatur masih terjaga dengan baik. “Alhamdulillah, kepedulian para donatur tetap ada, sebagaimana tahun lalu. Ini menunjukkan semangat berbagi dan solidaritas sosial masyarakat masih sangat kuat,” katanya.

Menjelang malam, kegiatan dilanjutkan dengan istighosah dan doa bersama yang dilaksanakan selepas Magrib, berbeda dari tahun sebelumnya yang digelar siang hari. Keputusan ini, menurut Asep Jembar, merupakan hasil musyawarah dengan tokoh-tokoh agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Sukajaya. Menariknya, setiap perwakilan RW membawa nasi tumpeng sebagai simbol rasa syukur, yang kemudian dinilai panitia dan diberikan apresiasi kepada ibu-ibu dari masing-masing RW.

Usai doa bersama dan salat Isya berjamaah di halaman Kantor Desa Sukajaya, acara dilanjutkan dengan tabligh akbar. Hadir sebagai penceramah antara lain Muhammad Samsaul Hafidz Maulana, Lc., M.A., Ustaz Endang Syaripudin, serta Ustaz Aup Syaripudin, S.H. Salah satu momen yang paling menyentuh adalah tausiah dari Ustaz Hafidz, putra daerah Desa Sukajaya yang baru kembali setelah menempuh pendidikan keagamaan selama empat tahun di Kairo, Mesir. “Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami, karena beliau untuk pertama kalinya tampil sebagai penceramah di desa sendiri,” ungkap Asep Jembar.

Memasuki hari kedua, kegiatan Milangkala ke-41 Desa Sukajaya diisi dengan gerak jalan santai, senam bersama, serta berbagai kegiatan kebersamaan warga. Puncak peringatan digelar pada malam hari melalui pagelaran Wayang Golek dengan dalang Yogaswara Sunandar Sunarya dari Giri Harja 3 Putra, yang menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat lintas generasi.

Selain kegiatan keagamaan dan budaya, aspek kesehatan juga mendapat perhatian serius. Ketua TP PKK Desa Sukajaya, Mia Sutejawati, S.Pd., menyampaikan bahwa pihaknya menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis khusus perempuan, terutama untuk deteksi dini kanker serviks atau kanker rahim. “Pemeriksaan ini lebih canggih dibandingkan pap smear. Potensi kanker bisa terdeteksi jauh lebih dini, bahkan lima sampai sepuluh tahun sebelumnya,” jelas Mia Sutejawati.

Pelayanan kesehatan tersebut dilaksanakan selama dua hari di Klinik Bidan Hj. Rita Mekarsari, yang berlokasi di depan Kantor Desa Sukajaya. Antusiasme warga terbilang tinggi, dengan jumlah peserta berkisar antara 30 hingga 50 orang. “Harapannya, ibu-ibu semakin sadar pentingnya pemeriksaan rutin. Deteksi dini sangat menentukan keberhasilan penanganan,” ujarnya.

Dari sisi pendanaan, Asep Jembar menegaskan bahwa kegiatan Milangkala ke-41 dibiayai dari sebagian kas desa serta donasi murni masyarakat dan pihak swasta, tanpa adanya kewajiban sumbangan dari warga. Donatur yang berpartisipasi berasal dari berbagai unsur, mulai dari pelaku usaha lokal, komunitas, hingga sektor swasta, di antaranya Wangsa Club Motor, KPSBU Lembang, Lembang Park Zoo, hingga sejumlah pelaku UMKM.

“Partisipasi masyarakat justru meningkat. Ada yang menyumbang dana, ada pula yang menyumbang hasil bumi seperti beras, sayuran, pisang, singkong, hingga produk UMKM. Ini bukti bahwa semangat gotong royong masih hidup,” kata Asep Jembar.

Ia berharap, semangat Milangkala ke-41 dapat menjadi penguat kolaborasi antara pemerintah desa, lembaga desa, dan masyarakat. “Makna tema tahun ini adalah membangun jati diri kita sebagai masyarakat Sunda yang agamis, mandiri, dan guyub. Kami ingin Desa Sukajaya terus tumbuh dengan kekuatan sendiri, tanpa melupakan nilai kebersamaan,” pungkasnya.

Dengan rangkaian kegiatan yang sarat nilai religius, sosial, budaya, dan kesehatan, Milangkala ke-41 Desa Sukajaya tidak sekadar menjadi perayaan seremonial, melainkan momentum refleksi dan penguatan identitas desa menuju masa depan yang lebih mandiri dan berkarakter. (red-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *