Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 31 Januari 2026. Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Pencak Silat Indonesia (DPD PPSI) Kota Bandung resmi melantik jajaran pengurus masa bakti 2025–2030 dalam sebuah prosesi yang berlangsung khidmat di Pendopo Wali Kota Bandung, Jalan Dalem Kaum No. 56, Kecamatan Regol, Kota Bandung. Kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga momentum konsolidasi budaya untuk memperkuat pelestarian pencak silat sebagai warisan budaya bangsa.
Acara pelantikan dihadiri berbagai unsur, mulai dari jajaran DPW PPSI Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kota Bandung, unsur TNI-Polri, DPRD Kota Bandung, perangkat daerah terkait, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, hingga perwakilan paguron dan padepokan pencak silat se-Kota Bandung. Rangkaian acara diawali dengan registrasi tamu undangan, pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, kidung PPSI, sambutan-sambutan, prosesi pelantikan dan pengukuhan, pagelaran pencak silat, hingga penutup dan doa bersama.

Prosesi inti pelantikan ditandai dengan pembacaan surat keputusan, pengucapan sumpah janji pengurus, penyerahan pataka PPSI, serta upacara adat sebagai simbol estafet kepemimpinan dan tanggung jawab organisasi. Suasana berlangsung tertib, khidmat, dan penuh nuansa budaya, memperlihatkan kuatnya ikatan antara pencak silat, nilai tradisi, dan kehidupan sosial masyarakat Kota Bandung.
Ketua DPD PPSI Kota Bandung, Tonny Sukmana, S.E., dalam sambutannya menekankan bahwa PPSI lahir dari semangat persatuan dan tanggung jawab sejarah. Ia mengingatkan bahwa pencak silat bukan sekadar seni bela diri, tetapi identitas budaya bangsa yang telah diakui dunia. “Alhamdulillah, pencak silat tradisi sudah diakui sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO. Itu adalah pengakuan dunia bahwa pencak silat merupakan budaya asli Indonesia yang harus kita jaga, kembangkan, dan majukan bersama,” ujarnya.
Tonny juga menegaskan pentingnya dukungan lintas sektor dalam membangun PPSI yang kuat dan berkelanjutan. “Kami sangat membutuhkan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, swasta, maupun seluruh anggota PPSI. PPSI tidak akan berkembang tanpa kebersamaan dan persatuan. Semua DPC harus solid agar PPSI Kota Bandung bisa lebih maju,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pelestarian budaya tidak bisa berjalan sendiri. Menurutnya, pengakuan internasional terhadap pencak silat harus diiringi dengan komitmen nasional dan daerah dalam menjaga, membina, serta mengembangkannya. “Kalau dunia sudah mengakui pencak silat, maka sudah seharusnya kita sebagai bangsa Indonesia menjadi garda terdepan dalam menjaganya,” tegasnya.
Dari unsur pemerintah, sambutan disampaikan oleh Ratna Rahayu, Kepala Bidang pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung. Ia menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi PPSI dalam melestarikan pencak silat sebagai warisan budaya takbenda. Ia juga menyampaikan pesan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung yang berhalangan hadir karena tugas kedinasan.

“PPSI memiliki peran penting dalam Indeks Pembangunan Kebudayaan, khususnya pada aspek pelestarian seni bela diri tradisional. Pencak silat bukan hanya olahraga, tetapi juga seni, budaya, dan sarana pendidikan karakter,” kata Ratna. Ia menjelaskan bahwa PPSI lebih menitikberatkan aspek seni dan budaya, sementara ranah olahraga berada di bawah IPSI, namun keduanya saling melengkapi dalam pembangunan kebudayaan daerah.
Ratna menekankan pentingnya tata kelola organisasi yang tertib dan terstruktur. Pemerintah Kota Bandung, menurutnya, mendorong agar seluruh padepokan pencak silat memiliki legalitas yang jelas dan terdaftar resmi di ujarny “Dengan database yang jelas, pemerintah dapat mengetahui persebaran padepokan pencak silat di Kota Bandung. Ini penting untuk perencanaan program pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan budaya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPW PPSI Provinsi Jawa Barat, Dadang Hermansyah, dalam sambutannya menegaskan bahwa PPSI dibangun di atas nilai persatuan. Ia mengingatkan bahwa sesuai dengan namanya, Persatuan Pencak Silat Indonesia bertujuan menyatukan berbagai unsur dan elemen bangsa dalam satu ikatan kebersamaan. “Persatuan harus terus dijaga. Jangan sampai ego dan kepentingan pribadi merusak kebersamaan. PPSI harus tetap solid dan kompak,” katanya.
Dadang juga mengangkat pentingnya tata kelola organisasi modern melalui pendataan dan penguatan kelembagaan. Menurutnya, DPW PPSI Jawa Barat saat ini tengah membangun database anggota, pelatih, murid, dan sasana sebagai dasar perencanaan jangka panjang. “Data adalah fondasi organisasi yang kuat. Dengan data yang akurat, PPSI bisa mandiri, profesional, dan mudah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh anggota PPSI untuk aktif mendukung penguatan citra organisasi melalui media digital, website, dan media sosial resmi PPSI. “Dengan jaringan yang kuat, PPSI akan lebih mudah membangun kolaborasi, termasuk dengan sponsor dan mitra strategis lainnya,” tambahnya.

Pelantikan ini sekaligus menegaskan peran PPSI sebagai organisasi budaya yang berakar kuat di Jawa Barat. Secara historis, PPSI lahir dari kebutuhan menyatukan berbagai aliran pencak silat Sunda yang berkembang secara mandiri sejak ratusan tahun lalu, seperti Cimande, Cikalong, Syahbandar, dan aliran-aliran lainnya. Pada 17 Agustus 1957 di Bandung, dengan dukungan tokoh-tokoh pencak silat dan Kodam VI Siliwangi, PPSI dibentuk sebagai wadah persatuan untuk melestarikan seni budaya pencak silat dan memperkuat persaudaraan antarperguruan.
Seiring waktu, pencak silat berkembang tidak hanya sebagai bela diri, tetapi juga sebagai seni pertunjukan, sarana pendidikan moral, dan bagian dari identitas budaya masyarakat. Pengakuan UNESCO terhadap pencak silat sebagai warisan budaya takbenda dunia semakin mempertegas posisinya sebagai aset budaya bangsa yang bernilai tinggi.

Melalui pelantikan pengurus DPD PPSI Kota Bandung masa bakti 2025–2030 ini, PPSI diharapkan mampu menjadi motor penggerak pelestarian pencak silat tradisi di tingkat kota, sekaligus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Lebih dari sekadar organisasi, PPSI diposisikan sebagai ruang persatuan, pembinaan karakter, serta penjaga nilai budaya lokal yang berkelanjutan.
Dengan semangat persatuan, kebersamaan, dan pengabdian budaya, pelantikan ini menjadi titik awal penguatan peran PPSI Kota Bandung dalam menjaga marwah pencak silat sebagai identitas budaya, warisan sejarah, dan kebanggaan bangsa Indonesia. (nk)