Lembang. 16 Desember 2025. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus memperkuat komitmennya dalam menekan angka stunting melalui program terintegrasi berbasis intervensi gizi dan kolaborasi lintas sektor. Salah satu wujud nyata komitmen tersebut ditandai dengan pelaksanaan Gebyar Simbolis Pemberian Tambahan Protein Hewani Telur Ayam (PELITA BENING) bagi Ibu Hamil dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan bagi Balita, yang digelar di Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, pada 2025.

Kegiatan yang diinisiasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat ini menjadi bagian dari upaya strategis daerah dalam mendukung visi dan misi pembangunan AMANAH, khususnya pada sektor kesehatan ibu dan anak. Acara berlangsung sejak pagi hari dengan rangkaian kegiatan yang diawali registrasi peserta, pembukaan oleh pembawa acara, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan doa, hingga laporan pelaksanaan program oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat.

Dalam laporan resminya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat, dr. Lia Nurliana Sukandar, menyampaikan bahwa stunting masih menjadi isu prioritas yang membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan. Ia mengungkapkan, meskipun angka stunting di KBB pada 2020 tergolong tinggi, pemerintah daerah terus melakukan berbagai upaya percepatan penurunan melalui intervensi yang terukur dan menyasar kelompok rentan.

“Pemerintah Kabupaten Bandung Barat berkomitmen kuat untuk mempercepat penurunan angka stunting. Kami menargetkan hasil yang signifikan pada 2026, karena masa depan generasi penerus bangsa sangat bergantung pada tumbuh kembang mereka yang sehat dan optimal,” ujar dr. Lia.

Sejak Mei 2025, program PELITA BENING dan PMT Pemulihan telah berjalan secara bertahap di berbagai wilayah. Hingga akhir tahun 2025, Dinas Kesehatan mencatat 19.097 balita telah menerima intervensi gizi berupa telur ayam dan PMT lokal, serta 7.379 ibu hamil mendapatkan tambahan protein hewani dengan dosis dua butir telur per hari selama 60 hari. Seluruh program tersebut didukung pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).

Menurut dr. Lia, pemberian telur ayam dipilih karena merupakan sumber protein hewani yang mudah diakses, bernilai gizi tinggi, dan berperan penting dalam mendukung perkembangan janin serta pertumbuhan balita. Sementara PMT berbasis pangan lokal diharapkan dapat melengkapi kebutuhan gizi anak sekaligus memberdayakan potensi pangan daerah.

Puncak kegiatan ditandai dengan sambutan sekaligus peresmian program oleh Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail didampingi Wakil Bupati Asep Ismail yang secara simbolis menyerahkan bantuan telur ayam dan PMT Pemulihan kepada ibu hamil dan balita penerima manfaat. Dalam sambutannya, Bupati menekankan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun kualitas sumber daya manusia Bandung Barat.

“Program ini bukan hanya pembagian bahan makanan, tetapi wujud nyata komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kesehatan keluarga sejak masa kehamilan hingga seribu hari pertama kehidupan, yang merupakan fase krusial dalam menentukan masa depan anak-anak kita,” kata Jeje Ritchie Ismail.

Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan penurunan stunting membutuhkan kolaborasi semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, hingga partisipasi aktif masyarakat. “Anak-anak kita adalah investasi masa depan. Karena itu, upaya ini harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh setiap keluarga,” ujarnya.

Senada dengan itu, Camat Lembang, Bambang Eko Setyowayudi, menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Desa Cikahuripan sebagai lokasi pencanangan kegiatan. Menurutnya, Kecamatan Lembang memiliki sejumlah desa yang menjadi perhatian dalam upaya percepatan penurunan stunting, sehingga kehadiran langsung Bupati dan jajaran pemerintah daerah menjadi penyemangat tersendiri bagi masyarakat.

“Desa Cikahuripan merupakan salah satu desa yang terpilih sebagai lokasi pencanangan kegiatan ini. Kami berharap melalui kerja sama lintas sektor, angka stunting di Kecamatan Lembang dan Kabupaten Bandung Barat dapat terus menurun,” tutur Bambang Eko.

Selain intervensi gizi, Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat juga menaruh perhatian pada aspek perlindungan kesehatan. Upaya dilakukan dengan memastikan seluruh ibu hamil dan balita memiliki jaminan kesehatan, sehingga dapat mengakses layanan kesehatan tingkat pertama maupun rujukan. Kerja sama dengan rumah sakit pemerintah dan swasta pun terus diperkuat guna mencegah balita stunting mengalami komplikasi kesehatan.

Di luar program stunting, dr. Lia turut melaporkan capaian lain yang membanggakan, yakni pembentukan Emergency Medical Team (IMT) Kabupaten Bandung Barat. Tim ini menjadi satu-satunya IMT tingkat kabupaten/kota di Jawa Barat yang telah diresmikan oleh Kementerian Kesehatan dan disiapkan untuk penanganan bencana serta kondisi gawat darurat. Bahkan, empat anggota IMT direncanakan mengikuti misi kemanusiaan sebagai relawan kesehatan ke Aceh Tamiang selama 14 hari.

Melalui program PELITA BENING, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat berharap upaya pencegahan stunting dapat berjalan lebih masif, terukur, dan berkelanjutan. Dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan, pemerintah optimistis dapat mewujudkan generasi Bandung Barat yang sehat, cerdas, dan berdaya saing di masa mendatang. (red-nk)