Petani Menjerit di Musim Kemarau, Desa Tanjungjaya Menanti Normalisasi Irigasi Harapan Panen Bisa Tiga Kali

165 Desa KBB Bandung Barat

Tanjungjaya, Bandung Barat. 6 Januari 2026. Wajah para petani di Desa Tanjungjaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat tampak harap-harap cemas. Mereka masih bergulat dengan keterbatasan air irigasi untuk pertanian, padahal kebutuhan pasokan air menjadi penentu utama keberlangsungan usaha tani padi di wilayah itu. Saat ini padi menghijau seperti terlihat di foto berita, pada musih kemarau akan berbeda sawah mengering.

Program normalisasi irigasi yang digagas pemerintah untuk pemerataan pembangunan infrastruktur pertanian terutama dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan dan produktivitas pertanian sudah direalisasikan di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung Barat, termasuk di Desa Citapen dan beberapa wilayah lainnya. Namun kehadiran program ini belum sampai ke Desa Tanjungjaya, padahal para petani di desa tersebut mengalami kesulitan air setiap musim kemarau tiba.

Kondisi ini membuat persawahan di Tanjungjaya hampir sepenuhnya bergantung pada curah hujan atau pasokan air dari sumber lain dengan biaya tinggi, terutama Waduk Saguling yang terletak di hulu kawasan. “Mayoritas di sini petani padi, tetapi program normalisasi irigasi belum sampai di desa kami,” ujar Kepala Desa Tanjungjaya, Tintin Marlina, S.IP, saat ditemui media, Selasa (6/1/2026).

Menurut Tintin Marlina, normalisasi irigasi sangat dinantikan oleh petani karena akan membantu mengalirkan air secara reguler ke lahan. Ia menjelaskan, jika jaringan irigasi berfungsi dengan baik di wilayahnya, warga bisa meningkatkan frekuensi panen dari dua kali menjadi tiga kali setahun. “Kalau irigasi berjalan, warga bisa panen tiga kali. Saat ini hanya dua kali karena kendala air,” katanya.
Biaya Air Tinggi Jadi Beban Petani
Selama ini, sebagian besar petani terpaksa menyedot air dari Waduk Saguling dengan menggunakan pompa. Menurut keterangan kepala desa, biaya menyedot air dari waduk tersebut mencapai sekitar Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per jam, yang secara signifikan menambah beban biaya produksi bagi petani skala kecil.

“Biaya itu sangat memberatkan. Ketika musim kemarau panjang tiba, biaya ini bukan hanya berdampak pada hasil panen tetapi juga pada pendapatan keluarga petani,” tutur salah satu petani setempat, yang memilih tidak menyebutkan namanya.

Kondisi ini kian memprihatinkan karena sebagian besar sawah di wilayah itu tergolong sawah tadah hujan, yang sangat bergantung pada pasokan air yang tidak menentu. “Persawahan di Desa Tanjungjaya seperti terisolasi, bak anak tiri di tengah pembangunan normalisasi irigasi di wilayah lain,” ungkap Kades Tintin.

Upaya Desa dan Harapan Petani
Kepala Desa menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan langkah administratif dengan mengajukan usulan normalisasi irigasi kepada instansi terkait, termasuk melalui musyawarah dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan sudah diajukan ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung melalui proposal resmi. “Kami sudah bersurat, semacam proposal, kepada BPWS. InsyaAllah sudah sampai. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin,” katanya.

Permintaan normalisasi ini tak hanya datang dari Gapoktan, tetapi juga dari petani kecil di desa tersebut yang ingin merasakan manfaat pembangunan irigasi seperti yang sudah dirasakan petani di wilayah lain di Bandung Barat.

Kondisi Irigasi dan Tantangan di Bandung Barat

Masalah irigasi seperti yang terjadi di Desa Tanjungjaya bukan hal baru di Kabupaten Bandung Barat. Sejumlah laporan media lokal dan pemerintahan menyebut banyak lahan persawahan mengalami kekeringan karena irigasi yang tidak berfungsi dengan baik atau bahkan tidak sampai ke area pertanian, terutama pada musim kemarau. Target tanam padi pemerintah pusat di daerah ini juga diperkirakan sulit tercapai jika kondisi irigasi tidak diperbaiki secara menyeluruh.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) mencatat terdapat ribuan hektar lahan yang kini berstatus sawah tadah hujan akibat tidak berfungsinya jaringan irigasi. Faktor-faktor seperti pendangkalan saluran, sedimentasi dan infrastruktur irigasi yang sudah tua membuat jaringan ini sering gagal mendistribusikan air ke persawahan.

Program Normalisasi Irigasi di Indonesia
Secara nasional, normalisasi irigasi menjadi program prioritas pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan. Pekerjaan normalisasi dilakukan di berbagai wilayah untuk mengatasi kekeringan lahan pertanian, mencegah puso (gagal panen), serta meningkatkan produktivitas petani. Di beberapa daerah seperti Kabupaten Bekasi, normalisasi saluran irigasi telah membantu ratusan hingga ribuan hektare sawah kembali produktif setelah sebelumnya mengalami keterbatasan air.

Menurut data Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung, kegiatan normalisasi dilakukan tidak hanya untuk mendukung produktivitas tetapi juga untuk memperkuat pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan sesuai amanat kebijakan nasional.

Sumber Daya Air

Harapan Masa Depan Petani Tanjungjaya
Di tengah tantangan tersebut, petani Desa Tanjungjaya tetap berharap pada kepedulian pemerintah daerah dan pusat agar normalisasi irigasi segera terealisasi di wilayah mereka. Harapan itu untuk mewujudkan pertanian yang lebih produktif, meningkatkan hasil panen, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan keluarga petani.
“Desa lain sudah dinormalisasi irigasinya. Kenapa kami tidak? Kami juga warga Kabupaten Bandung Barat,” pungkas Tintin Marlina. Permintaan yang sederhana ini mencerminkan harapan besar masyarakat lokal yang ingin melihat masa depan pertanian yang lebih baik. (nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *