Kota Bandung, 17 Januari 2026. Udara siang di Cafe Green Fine Dago Pojok, Kota Bandung, Kamis (17/1/2026), terasa hangat bukan hanya oleh terik matahari. Suasana keakraban dan rasa syukur mengisi ruang pertemuan yang dihadiri sekitar 30 orang anggota Komunitas Sarumpi Nada Entertainment atau Perkumpulan Komunitas Sauyunan Rumah Tangga Penuh Doa. Pertemuan itu menandai kebangkitan kembali komunitas tersebut setelah hampir dua setengah tahun mengalami masa vakum.
Acara yang bertajuk silaturahmi itu diisi dengan doa bersama, santap makan, dan performa musik live, mengembalikan kehangatan persaudaraan yang sempat tertunda. Bagi komunitas yang mengusung semangat “sauyunan” atau kebersamaan, pertemuan ini bukan sekadar reuni, melainkan titik tolak baru untuk memperkuat fondasi organisasi dan merancang langkah ke depan.

Ketua Sarumpi, Hermawan, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur dapat kembali mempertemukan para anggota. “Setelah kurang lebih dua setengah tahun, Alhamdulillah hari ini kita dapat berkumpul lagi dan mempererat tali silaturahmi,” ujarnya. Ia juga menyambut hangat anggota baru, seperti Riki yang datang dari Padalarang, sebagai bukti bahwa ikatan persaudaraan tetap terjalin.
Hermawan memaparkan struktur kepengurusan baru Sarumpi yang terdiri dari Diki sebagai Wakil Ketua, Bram dan Aya sebagai Sekretaris, serta Enik yang menangani Seksi Konsumsi. Struktur ini diharapkan dapat menggerakkan roda organisasi dengan lebih baik. Dalam kesempatan itu, Hermawan juga menjelaskan filosofi lambang Sarumpi yang diilhami oleh padi. “Padi yang berisi akan semakin merunduk. Artinya, semakin kita berilmu dan berisi, semakin kita harus rendah hati,” katanya, menekankan pentingnya kerendahan hati dalam kebersamaan.

Harapan untuk menjaga kekompakan dan menghindari kesalahpahaman juga disampaikan oleh Iwan, salah seorang anggota yang bertindak sebagai pemandu acara. “Saya berharap tidak ada lagi obrolan-obrolan di luar yang menimbulkan kesalahpahaman seperti yang pernah terjadi sebelumnya,” ucapnya. Iwan mengibaratkan kekompakan komunitas dengan grup musik legendaris God Bless, di mana setiap anggota memiliki peran penting dan saling mendukung. “Walaupun ada perbedaan posisi dan peran, namun selama saling mendukung, kelompok tersebut tetap bisa berjalan dan berkembang,” tambahnya.
Dalam dialog dengan awak media, Hermawan dan perwakilan anggota, Ibu Asih, membeberkan lebih dalam tentang Seluk-beluk Sarumpi. Nama “Sarumpi” sendiri berasal dari bahasa Sunda yang berarti “sauyunan”, mencerminkan semangat keselarasan, keterpaduan, dan kebersamaan. Komunitas yang berdiri sekitar tahun 2018 ini sempat vakum cukup lama akibat pandemi dan kondisi kesehatan ketuanya.

“Sarumpi terbentuk dari kebiasaan kami yang sering berkumpul, bersilaturahmi, dan berkomunikasi. Dari situ terbentuklah orang-orang yang sauyunan,” jelas Hermawan. Saat ini, anggota aktif Sarumpi tercatat sekitar 75 orang dari total kurang lebih 100 anggota, yang berasal dari berbagai kalangan dan wilayah, tidak terbatas di Kota Bandung.
Pasca-kebangkitan ini, Sarumpi berencana mengaktifkan kembali berbagai program, terutama di bidang sosial dan budaya. Ibu Asih menyebutkan, Sarumpi bergerak di ranah sosial budaya. “Misalnya dalam kebencanaan, seni, dan budaya. Jika ada anak-anak dari keluarga Sarumpi yang memiliki bakat menari atau seni peran, insya Allah Sarumpi akan membantu mengembangkan dan memfasilitasi bakat tersebut,” ujarnya.

Hermawan menambahkan, tujuan akhir dari semua kegiatan Sarumpi adalah menjaga silaturahmi. “Ujung dari Sarumpi ini tetap silaturahmi,” tegasnya. Ke depan, komunitas ini berharap dapat melakukan kegiatan gotong royong, membantu anggota yang sakit, hingga kegiatan kebersihan lingkungan. Mereka juga terbuka untuk kolaborasi dengan pemerintah daerah setelah program-program mereka terdokumentasi dan berjalan dengan baik.
Pemikiran strategis juga disampaikan oleh senior Sarumpi di bidang budaya, Abah Deddy Mansyur. Ia menekankan bahwa aktivitas di Sarumpi bukan sekadar “rumpi” atau obrolan tanpa arah. “Yang dimaksud berbicara di sini adalah menyampaikan kepentingan masyarakat umum. Karena itu, seni dan budaya juga menjadi bagian penting di dalamnya,” katanya. Ia melanjutkan, “Seni adalah budaya. Seni adalah adat. Seni juga merupakan kepentingan, baik kepentingan nasional maupun kepentingan sosial. Melalui seni budaya, nilai-nilai itu bisa disampaikan.”

Dengan sekretariat yang berlokasi di Jalan Linggawastu Nomor 21, Bandung, kebangkitan Sarumpi kali ini diharapkan dapat menjadi awal yang baru. Komunitas ini tidak hanya ingin dikenal di lingkungan sekitar, tetapi juga memberikan dampak positif yang lebih luas di Kota Bandung. Semangat “sauyunan”, sebagaimana terlihat dalam pertemuan penuh tawa dan kehangatan itu, menjadi modal utama untuk mewujudkan harapan tersebut: menjadi wadah yang menumbuhkan rasa, jiwa, dan tujuan bersama dalam kebersamaan. (nk)