Udara siang di RSUD Cibabat, Kota Cimahi, terasa sejuk. Di balik tembok rumah sakit yang bersih dan lorong yang sunyi, ada kisah-kisah kecil tentang kesembuhan, harapan, dan ketulusan. Di sanalah, Ike Hikmawati, S.S., M.Pd., Ketua Komisi IV DPRD Kota Cimahi, melangkah pelan menyapa satu per satu pasien yang tengah berjuang melawan penyakit mereka. Kunjungan sederhana di Hari Dokter Nasional itu ternyata menjadi jendela kecil untuk melihat makna kemanusiaan yang lebih luas.
Seorang pasien perempuan yang dirawat di ruang kelas III tampak sumringah ketika Ike menghampiri. Ia bercerita dengan nada lega, bahwa kekhawatiran semula tentang kondisi ruang perawatan tak terbukti. “Alhamdulillah, ternyata ruangannya nyaman, adem, dan bersih. Saya bersyukur dilayani dengan baik,” ujarnya pelan sambil tersenyum. Ike menatap hangat, mendengarkan dengan sabar, lalu menimpali lembut, “Insyaallah semua ruangan di RSUD Cibabat baik semua. Kalau ada saran dan kritik, sampaikan saja, supaya kami di DPRD bisa bekerja lebih baik lagi untuk warga Cimahi.”
Bukan sekadar basa-basi, tutur Ike, suara pasien adalah sumber inspirasi bagi setiap kebijakan yang lahir. “Kesehatan adalah hak dasar yang harus dirasakan dengan adil, dari ruang kelas satu hingga kelas tiga. Pelayanan yang manusiawi adalah bentuk penghargaan terhadap martabat warga,” ungkapnya saat berbincang dengan tenaga medis.
Langkahnya berlanjut ke ruang kemoterapi. Di sana, suasana terasa berbeda—lebih tenang, namun sarat emosi. Seorang pasien kanker yang tengah menjalani kemoterapi menuturkan kisahnya tentang rasa takut pada awal perawatan. “Waktu pertama kali kemoterapi, saya sangat tegang, rasanya takut sekali,” ujarnya lirih. “Tapi dokter ramah sekali, bikin saya tenang. Sekarang saya lebih semangat untuk sembuh.”
Ike menggenggam tangan pasien itu dengan penuh empati. “Syafakillah, semoga Allah angkat penyakitnya dan berikan kesembuhan,” katanya, menguatkan. Di momen itu, kehadirannya bukan hanya sebagai wakil rakyat, tetapi juga sebagai sesama manusia yang mengulurkan kehangatan.
Di ruang lain, Ike berbincang santai dengan keluarga pasien. Mereka mengaku kagum dengan pelayanan dokter dan perawat di RSUD Cibabat. “Alhamdulillah, dokter dan perawatnya baik. Kami merasa sangat terbantu,” kata seorang bapak yang menemani keluarganya dirawat. Saat memperkenalkan diri, keluarga pasien itu spontan tersenyum, “Oh, Ibu Ike? Kami tahu, sering lihat di kegiatan sosial. Terima kasih sudah sering turun ke masyarakat.”
Momen kecil itu menjadi pengingat bahwa kehadiran pejabat publik di tengah masyarakat bukan hanya tentang kebijakan, melainkan juga soal kedekatan hati. Ike sendiri dikenal aktif dalam kegiatan sosial, dari pendidikan hingga kesehatan. Baginya, interaksi langsung seperti ini adalah bentuk nyata dari amanah pelayanan.
Menutup kunjungan, Ike menyampaikan pesan sederhana namun bermakna:
“Selamat Hari Dokter Nasional. Kesehatan adalah karunia Allah. Terima kasih kepada seluruh dokter yang telah mengabdi, membantu, dan mendedikasikan diri bagi kesehatan masyarakat.”
Ia juga mengutip hadis Rasulullah SAW yang sarat makna, “Ilmu itu ada dua: ilmu agama dan ilmu dunia. Ilmu agama adalah fikih, dan ilmu dunia adalah kedokteran.” (HR. Bukhari). Sebuah pengingat bahwa profesi dokter adalah bagian dari ibadah yang menjaga kehidupan.
Hari itu, RSUD Cibabat bukan sekadar tempat penyembuhan fisik. Ia menjadi ruang refleksi—tentang arti syukur, tentang ketulusan tenaga medis, dan tentang pentingnya empati dalam pelayanan publik. Dari balik senyum pasien hingga kata-kata hangat Ike Hikmawati, kita diingatkan bahwa kesehatan bukan hanya soal fasilitas, tapi juga tentang hati yang hadir untuk sesama. (aq-nk)