Cimareme, 19 Sept 2026 Pengembangan potensi bambu di Desa Cimareme, Kabupaten Bandung Barat, dinilai perlu diarahkan menjadi ekosistem ekonomi yang melibatkan masyarakat, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, serta lembaga yang memiliki program pemberdayaan. Pendekatan tersebut dinilai penting agar kemampuan masyarakat menghasilkan produk bambu dapat berkembang menjadi usaha yang memiliki nilai tambah dan berkelanjutan.
Pandangan itu disampaikan Dr. Syafrizal Ikram, S.E., M.Si., Ak., C.A. Ketua Program Studi (Kaprodi) S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama dalam talkshow yang membahas pengembangan potensi masyarakat, inovasi bambu, serta peluang kolaborasi lintas sektor. Menurut Syafrizal, bambu memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan apabila didukung pendampingan, tata kelola usaha, inovasi, dan akses terhadap jejaring.
“Seperti yang saya sampaikan di talkshow, bambu ini punya nilai tambah yang diinisiasi oleh Kang Adang menciptakan produk-produk yang berkualitas,” ujar Syafrizal dalam wawancara setelah kegiatan.

Syafrizal mengatakan, keberadaan produk bambu yang telah dikembangkan di wilayah tersebut menjadi salah satu alasan Universitas Widyatama melihat adanya peluang untuk terlibat. Perguruan tinggi, menurut dia, dapat mengambil peran melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan memberikan pendampingan berdasarkan kebutuhan yang ditemukan di lapangan.
Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama, kata Syafrizal, memiliki ketertarikan untuk melihat potensi tersebut dari sisi pengelolaan usaha. Produk yang baik membutuhkan sistem pengelolaan yang baik pula agar kegiatan ekonomi masyarakat tidak berhenti pada kemampuan produksi.
“Ini satu potensi yang bisa membangun ekosistem untuk menumbuhkan potensi-potensi masyarakat sekitar Desa Cikandang. Sehingga kami hadir di sini untuk melakukan pendampingan-pendampingan dalam konteks pengabdian kepada masyarakat,” katanya.

Menurut Syafrizal, langkah awal yang diperlukan adalah pemetaan. Potensi masyarakat perlu diidentifikasi, demikian pula persoalan yang dihadapi pelaku usaha, peluang pasar, kemampuan produksi, serta kebutuhan peningkatan kompetensi.
Pemetaan tersebut, lanjut dia, dapat dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur yang sudah memiliki hubungan dengan masyarakat. Adang sebagai penggerak Virageawie dapat menjadi salah satu penghubung untuk mempertemukan masyarakat dengan perguruan tinggi dan pihak lainnya.
“Peran perguruan tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat perlu dilakukan. Tadi disampaikan kita akan melakukan pemetaan, tentunya dimediasi oleh Kang Adang dengan konsep membangun ekosistem,” ujar Syafrizal.

Ekosistem tersebut, menurut dia, tidak berdiri pada satu institusi. Ada keterlibatan Virageawie, pemerintah desa, RW, masyarakat, perguruan tinggi, BRIN, hingga BUMN yang memiliki program tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Pola kolaborasi tersebut menjadi penting karena persoalan pelaku usaha tidak hanya berkaitan dengan modal. Dalam banyak kasus, pelaku usaha telah memiliki kemampuan menghasilkan produk, tetapi masih menghadapi persoalan pemasaran, administrasi, pengelolaan keuangan, pengembangan sumber daya manusia, dan pemanfaatan teknologi digital.
Syafrizal sebelumnya menyampaikan bahwa pelaku usaha perlu memisahkan keuangan pribadi dan usaha. Administrasi yang tertib membantu pelaku usaha mengetahui kondisi bisnis secara lebih jelas, termasuk kemampuan usaha dalam membiayai kegiatan, mengembangkan produk, dan memperluas pasar.
“Kalau mau berbisnis harus tertib administrasi dan keuangan, harus memilah mana yang pribadi dan usaha,” katanya.

Ia juga menilai peningkatan kemampuan digital semakin penting dalam pengembangan usaha masyarakat. Teknologi dapat digunakan untuk memperkenalkan produk, membangun jaringan pemasaran, mengembangkan desain, hingga mengelola informasi usaha.
Dalam konteks tersebut, Universitas Widyatama membuka peluang keterlibatan lintas bidang. Syafrizal menyebut Fakultas Teknik, bidang informatika, dan desain komunikasi visual dapat berkontribusi sesuai kebutuhan masyarakat.
“Kami akan coba dengan Fakultas Teknik, Fakultas DKV, Fakultas Informatika membantu Karang Taruna di sini,” ujarnya.

Menurut Syafrizal, generasi muda memiliki posisi penting dalam pengembangan ekosistem tersebut. Kreativitas dan kemampuan menggunakan teknologi digital dapat menjadi modal untuk memperkenalkan produk lokal kepada pasar yang lebih luas.
Ia juga melihat produk bambu yang dikembangkan melalui Virageawie memiliki karakter yang dapat menjadi identitas ekonomi masyarakat setempat. Produk dengan ciri khas dan kualitas yang terjaga dapat dikembangkan lebih jauh apabila didukung desain, pengelolaan usaha, serta strategi pemasaran yang sesuai.
“Desa Cikandang Cimareme ini melalui Virageawie untuk membumikan kembali potensi-potensi, khususnya dari bambu yang punya nilai tambah. Sehingga Kabupaten Bandung Barat bisa terangkat melalui teman-teman yang ada di sini,” tutur Syafrizal.

Ia mengingatkan bahwa proses tersebut membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Program pemberdayaan dapat menghadapi kendala apabila masing-masing pihak berjalan sendiri-sendiri atau kegiatan berhenti setelah satu program selesai.
Karena itu, keberlanjutan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Setiap pihak perlu memahami perannya dan menyelaraskan tujuan agar kerja sama tidak berhenti pada kegiatan jangka pendek.
“Untuk berkolaborasi itu membutuhkan komitmen bareng-bareng, bersama-sama, untuk menyelaraskan tujuan yang tadi adalah meningkatkan potensi masyarakat yang ada di situ,” kata Syafrizal.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail turut menyampaikan dukungan terhadap upaya pengembangan potensi masyarakat melalui kolaborasi. Penguatan ekonomi masyarakat dinilai membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar potensi lokal dapat dikembangkan sesuai karakter dan kebutuhan daerah.
Sementara itu, Founder Virageawie, Adang, menekankan pentingnya membuka ruang komunikasi antara masyarakat dengan pihak-pihak yang memiliki kapasitas pendampingan. Menurut dia, masyarakat perlu diberi kesempatan menyampaikan kebutuhan dan gagasan yang berkaitan dengan pengembangan usaha maupun lingkungan.
Adang juga menjadi salah satu penggerak pengembangan produk berbahan bambu di wilayah tersebut. Upaya itu diarahkan untuk memperkenalkan kembali bambu sebagai bahan yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah.

Pembahasan mengenai bambu dalam talkshow juga memperluas perspektif mengenai hubungan antara riset dan masyarakat. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menyampaikan bahwa teknologi perlu diterapkan menjadi produk yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi.
Bambu dapat dikembangkan menjadi berbagai produk, mulai dari kebutuhan rumah tangga, produk desain, hingga material bangunan. Namun, inovasi tetap perlu memperhitungkan kualitas, biaya produksi, ketahanan produk, dan kemampuan bersaing di pasar.
Dalam pengembangan teknologi bambu, aspek perekat dan pelapis juga menjadi bagian yang dapat diteliti. Bahan perekat alami dan coating berbasis bahan terbarukan dapat dikembangkan untuk meningkatkan kekuatan, ketahanan terhadap air, serta perlindungan terhadap paparan sinar ultraviolet.

Bagi Syafrizal, berbagai aspek tersebut menunjukkan bahwa pengembangan bambu membutuhkan keterlibatan banyak bidang. Perguruan tinggi dapat membantu dari sisi keilmuan, masyarakat memiliki pengalaman dan potensi lokal, pelaku usaha memahami kebutuhan produksi dan pasar, sementara pemerintah serta BUMN dapat membuka ruang dukungan sesuai program masing-masing.
Dengan pola tersebut, pengembangan bambu tidak berhenti pada pemanfaatan bahan yang tersedia di lingkungan masyarakat. Potensi tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat keterampilan, menciptakan produk, membangun jaringan usaha, dan membuka kesempatan ekonomi baru.
Tantangan berikutnya adalah memastikan kolaborasi berlangsung secara konsisten. Pemetaan harus dilanjutkan dengan program yang jelas, pendampingan yang terukur, peningkatan kapasitas, serta evaluasi terhadap perkembangan usaha.

Syafrizal menilai keberhasilan pengembangan potensi masyarakat pada akhirnya sangat bergantung pada kesediaan semua pihak untuk berjalan bersama. Perguruan tinggi dapat memberikan pendampingan, tetapi masyarakat tetap menjadi bagian utama dalam menentukan kebutuhan dan arah pengembangan.
Pendekatan tersebut membuat pengembangan bambu tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari penguatan kapasitas masyarakat. Melalui kolaborasi yang terarah, potensi lokal dapat dikembangkan dengan tetap mempertahankan karakter wilayah dan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Bagi Kabupaten Bandung Barat, upaya seperti ini juga dapat menjadi ruang untuk mempertemukan potensi sumber daya lokal dengan pengetahuan, teknologi, jejaring usaha, dan dukungan kelembagaan. Syafrizal berharap komitmen bersama dapat terus dijaga sehingga pendampingan yang dilakukan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang memberi manfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan. (aq-nk)