SPPG Yayasan Anak Indonesia Emas Mulai Operasi, 465 Porsi Disalurkan

Blog

Bandung Barat, 1 April 2026. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Anak Indonesia Emas di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat mulai menjalankan distribusi perdana makanan bergizi kepada penerima manfaat. Pada hari pertama operasional ini, sebanyak sekitar 460 hingga 465 porsi makanan disalurkan ke lima titik sasaran yang mencakup sekolah dan kelompok rentan.

Kepala SPPG Pangauban, Andri Lauren Lumi, menjelaskan bahwa seluruh proses distribusi telah dipersiapkan sejak sehari sebelumnya melalui alur kerja yang terstruktur dan berlapis.
“Dimulai dari pengadaan bahan baku dari supplier, kemudian masuk ke area loading dan langsung dipisahkan ke gudang basah dan gudang kering,” ujar Andri.

Ia menuturkan, proses persiapan bahan dimulai sejak sore hari sekitar pukul 15.30. Pada tahap ini, tenaga harian lepas sudah mulai melakukan kegiatan awal seperti memotong bumbu, sayuran, dan daging. Proses tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan efisiensi saat memasuki tahap memasak.

Memasuki malam hari, sekitar pukul 23.00, kegiatan dilanjutkan dengan proses memasak yang dipandu langsung oleh tenaga juru masak. Dengan jumlah penerima manfaat yang masih berada di kisaran 400-an, proses memasak dapat diselesaikan sekitar pukul 04.30 pagi.

“Alhamdulillah, sejauh ini tenaga harian lepas bisa beradaptasi dengan cepat, sehingga belum ada kendala berarti dalam prosesnya,” kata Andri.

Setelah proses produksi selesai, makanan kemudian didistribusikan pada pagi hari. Pengiriman dilakukan sejak pukul 07.00 hingga 07.30 agar makanan dapat segera diterima oleh pihak sekolah dan kelompok sasaran lainnya.

Untuk menjaga kualitas makanan, pihak SPPG juga memberikan catatan khusus kepada penerima agar makanan dikonsumsi dalam rentang waktu 2 hingga 4 jam setelah diterima. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi penurunan kualitas maupun risiko kesehatan.

Pada distribusi perdana ini, SPPG Pangauban menyasar lima titik, yakni Posyandu Anggrek 3, SPS Al-Huda, Posyandu Anggrek 2, Nurul Qomar, serta Posyandu RW 01. Selain itu, penerima manfaat juga mencakup kelompok B3 yang terdiri dari balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Asisten Satu Syehabudin Ahmad, menyebutkan bahwa distribusi berjalan sesuai rencana, meskipun pihaknya masih menunggu tanggapan dari penerima manfaat.

“Untuk saat ini belum ada tanggapan karena paketnya baru sampai dan belum dibuka. Nanti setelah pengembalian wadah, baru kami akan menerima masukan sebagai bahan evaluasi,” ujarnya.
Adapun menu yang disajikan pada hari pertama terdiri dari nasi, ayam goreng kalasan, tahu goreng, capcay, dan buah semangka. Menu tersebut disusun dengan memperhatikan standar kebutuhan gizi yang telah ditetapkan.

Syehabudin menambahkan, ke depan jangkauan distribusi akan diperluas hingga ke wilayah yang lebih jauh, termasuk rencana pengiriman ke SMP Negeri 2 Batujajar. Distribusi ke lokasi tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut atas permohonan resmi dari pihak sekolah setelah sebelumnya sempat terhenti.

Dalam operasionalnya, SPPG Pangauban menerapkan standar prosedur yang ketat, khususnya dalam menjaga keamanan pangan. Setiap tenaga kerja diwajibkan melalui tahapan pemeriksaan sebelum memasuki area dapur, seperti memastikan kondisi kesehatan, menggunakan masker, sarung tangan, penutup kepala, serta mengenakan pakaian kerja yang bersih dan sepatu tertutup.

Selain itu, aspek kebersihan personal menjadi perhatian utama. Seluruh tenaga kerja dilarang merokok, menggunakan perhiasan, maupun membiarkan kuku panjang saat mengolah makanan. Sebaliknya, mereka diwajibkan menjaga kebersihan diri, termasuk mencuci tangan secara rutin sebelum dan selama proses pengolahan.

Dari sisi pengadaan bahan, setiap bahan makanan yang masuk harus melalui tahapan pemeriksaan yang ketat. Mulai dari pencocokan dokumen pembelian, pemeriksaan kondisi fisik, hingga pengecekan kualitas bahan melalui indikator seperti warna, bau, dan tekstur.

Apabila ditemukan bahan yang tidak sesuai standar, maka dilakukan penolakan dengan disertai pencatatan sebagai bentuk pengendalian mutu. Prosedur ini menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa bahan yang digunakan aman dan layak konsumsi.

Andri menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan evaluasi seiring berjalannya operasional. Bahkan, sejumlah inovasi mulai diterapkan, termasuk menghadirkan variasi atau “karakter” pada menu makanan sebagai respons atas masukan dari kader di lapangan.

“Ini menjadi bukti bahwa kami menampung saran dan kritik. Ke depan akan terus kami kembangkan agar pelayanan semakin baik,” ujarnya.

Untuk tahap selanjutnya, SPPG Pangauban berencana meningkatkan jumlah distribusi hingga mencapai sekitar 1.000 porsi dalam waktu dekat, seiring dengan kesiapan tenaga dan sistem yang semakin stabil.

Dengan dimulainya distribusi perdana ini, SPPG Pangauban diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, tidak hanya dalam pemenuhan gizi, tetapi juga dalam mendorong keterlibatan warga sekitar melalui penyerapan tenaga kerja.

“Harapannya distribusi berjalan lancar, tim tetap solid, dan yang terpenting penerima manfaat merasa puas,” kata Syehabudin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *