Dedi Mulyadi dan Jeje Ritchie Ismail Sepakat Dorong Rumah Sakit Adhyaksa Lembang demi Layanan Publik KBB

Kota Bandung Nasional

Bandung, 2 Juni 2026. Di tengah acara pisah sambut Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat di Bale Gede, Gedung Pakuan, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyelipkan satu pesan yang secara substansi memiliki dampak besar bagi masa depan pelayanan kesehatan masyarakat Kabupaten Bandung Barat.

Pesan itu ditujukan langsung kepada Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail. Dedi meminta agar pembangunan Rumah Sakit Adhyaksa di Lembang mendapat perhatian dan dukungan penuh dari pemerintah daerah.

“Yang terdekat adalah keberadaan rumah sakit di Lembang. Pak Bupati Bandung Barat, mohon dijaga, karena rumah sakit itu bukan mereknya, tapi fungsi layanannya. Dengan adanya rumah sakit di Kabupaten Bandung Barat, maka beban biaya rumah sakit Pemerintah Kabupaten Bandung Barat berkurang. Cukup rakyatnya dibayarkan BPJS-nya,” kata Dedi.

Pernyataan tersebut menunjukkan cara pandang yang menarik dalam melihat pembangunan fasilitas kesehatan. Fokusnya bukan pada siapa pengelola rumah sakit atau institusi yang membangunnya, melainkan pada manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Dalam konteks Kabupaten Bandung Barat, pesan itu memiliki relevansi yang kuat. Selama bertahun-tahun, pertumbuhan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi di kawasan Lembang serta wilayah Bandung Barat bagian utara tidak selalu berbanding lurus dengan ketersediaan fasilitas kesehatan rujukan yang memadai. Banyak warga masih harus mengakses layanan kesehatan lanjutan ke Kota Bandung atau daerah lain ketika membutuhkan penanganan medis yang lebih kompleks.

Karena itu, kehadiran Rumah Sakit Adhyaksa Jawa Barat berpotensi menjadi salah satu jawaban atas kebutuhan tersebut.

Rumah sakit yang saat ini sedang dibangun di Jalan Maribaya Nomor 94, Desa Kayuambon, Kecamatan Lembang, berdiri di atas lahan sekitar 89 ribu meter persegi yang merupakan hibah dari Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Proyek tersebut telah memasuki tahap pembangunan setelah peletakan batu pertama dilakukan pada Februari 2026.

Dari sisi kapasitas pembangunan daerah, keberadaan rumah sakit baru dapat memberikan efek berlapis. Pertama, masyarakat memperoleh akses layanan kesehatan yang lebih dekat. Kedua, pemerintah daerah memiliki alternatif fasilitas rujukan yang dapat dimanfaatkan oleh peserta Jaminan Kesehatan Nasional melalui skema BPJS Kesehatan. Ketiga, tekanan terhadap rumah sakit milik pemerintah daerah berpotensi berkurang sehingga kualitas pelayanan dapat lebih terjaga.

Hal inilah yang tampaknya menjadi perhatian Gubernur Jawa Barat ketika meminta agar pembangunan rumah sakit tersebut dijaga bersama.
Dalam perspektif tata kelola pelayanan publik, rumah sakit bukan hanya bangunan fisik, melainkan bagian dari infrastruktur dasar yang menentukan kualitas hidup masyarakat. Semakin mudah masyarakat mendapatkan layanan kesehatan, semakin kecil pula risiko keterlambatan penanganan medis yang dapat berdampak pada meningkatnya biaya pengobatan maupun angka kesakitan.

Selain memberikan layanan kesehatan umum, Rumah Sakit Adhyaksa Jawa Barat juga dirancang memiliki fungsi khusus yang mendukung layanan kesehatan yustisial dan medikolegal. Artinya, rumah sakit ini tidak hanya melayani kebutuhan kesehatan masyarakat, tetapi juga dapat mendukung proses penegakan hukum melalui layanan medis dan forensik klinik.

Keberadaan fasilitas seperti ini relatif masih terbatas di Indonesia. Karena itu, pembangunan Rumah Sakit Adhyaksa di Lembang memiliki posisi strategis, baik bagi sektor kesehatan maupun bagi penguatan sistem hukum yang membutuhkan dukungan layanan medis profesional.

Manfaat lain yang tidak kalah penting adalah kontribusinya terhadap dunia pendidikan dan riset. Rumah sakit ini dirancang untuk mendukung pengembangan pendidikan kedokteran, penelitian, serta praktik klinis melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi di Jawa Barat.

Dengan demikian, manfaat yang dihasilkan tidak berhenti pada pelayanan pasien semata, tetapi juga mencakup pengembangan sumber daya manusia di bidang kesehatan.

Dari sisi Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, dukungan terhadap proyek tersebut sejalan dengan kebutuhan daerah untuk memperluas akses layanan publik. Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail pada prinsipnya mendukung agar pembangunan rumah sakit dapat segera terealisasi dan beroperasi bagi kepentingan masyarakat.

Dukungan tersebut menjadi penting mengingat rumah sakit yang dibangun di wilayah Bandung Barat akan memberikan manfaat langsung kepada warga Bandung Barat sendiri. Di tengah tantangan pembiayaan kesehatan yang terus meningkat, keberadaan fasilitas kesehatan baru dapat membantu memperkuat jaringan pelayanan yang sudah ada.

Lebih jauh lagi, pembangunan Rumah Sakit Adhyaksa menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, institusi penegak hukum, dan pemangku kepentingan lainnya dapat menghasilkan infrastruktur yang berdampak luas bagi masyarakat.

Karena itu, pesan yang disampaikan Dedi Mulyadi dalam acara pisah sambut Kajati Jawa Barat tidak sekadar berupa permintaan administratif kepada seorang bupati. Pesan tersebut merupakan ajakan untuk melihat pembangunan rumah sakit sebagai investasi sosial jangka panjang.

Jika pembangunan berjalan sesuai rencana dan layanan kesehatan dapat segera beroperasi, maka manfaatnya akan dirasakan tidak hanya oleh masyarakat Lembang, tetapi juga warga Kabupaten Bandung Barat secara keseluruhan. Pada titik itulah fungsi sebuah rumah sakit menjadi lebih penting daripada nama yang melekat di depannya: menghadirkan layanan kesehatan yang mudah diakses, berkualitas, dan memberi rasa aman bagi masyarakat. (aq-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *