Kebangkitan Peternakan, Asep Wahyono Soroti Peran KPSBU dan Harapan Dukungan Pemerintah

165 Desa KBB Bandung Barat

Lembang, April 2026. Kepala Desa Suntenjaya, Asep Wahyono, menegaskan pentingnya penguatan sektor peternakan dan pertanian sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat desa. Hal tersebut ia sampaikan usai menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang, beberapa waktu lalu.

Dalam wawancara seusai kegiatan, Asep memandang pelaksanaan RAT sebagai indikator penting dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas koperasi. Menurutnya, keberadaan forum tahunan tersebut bukan sekadar agenda rutin, melainkan sarana evaluasi sekaligus penguatan kepercayaan anggota terhadap pengelolaan koperasi.

“Sebagai pemerintah desa, tentu kami melihat RAT ini sangat baik. Ini menjadi bentuk transparansi pengurus kepada anggota. Di Suntenjaya sendiri, sejak 1982 kami sudah menjadi bagian dari perkembangan KPSBU. Bahkan dulu kami termasuk pemasok susu terbesar,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, pada masa sebelum berbagai tantangan kesehatan hewan muncul, produksi susu dari wilayahnya dapat mencapai sekitar 15.000 liter per hari, dengan populasi sapi mencapai 2.000 ekor. Namun, kondisi tersebut mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Asep menjelaskan, wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) menjadi salah satu faktor utama yang memukul sektor peternakan di wilayahnya. Belum pulih sepenuhnya dari dampak tersebut, peternak kembali dihadapkan pada penyakit lain yang turut memengaruhi produktivitas ternak.

“Dulu kami punya sekitar 2.000 ekor sapi, sekarang menurun drastis. Ini dampak dari PMK dan penyakit lainnya. Maka kami sangat berharap ada perhatian dari pemerintah, khususnya untuk pemulihan populasi ternak,” katanya.

Menurut dia, dukungan pemerintah daerah menjadi krusial, terutama dalam konteks penguatan ketahanan pangan nasional. Ia menilai, program pemerintah pusat yang berfokus pada ketahanan pangan seharusnya dapat diimplementasikan hingga tingkat desa melalui intervensi nyata.

Salah satu bentuk dukungan yang diharapkan adalah bantuan sapi bagi kelompok peternak. Asep menilai, bantuan dalam bentuk barang akan lebih efektif dibandingkan bantuan tunai, karena langsung dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang telah memiliki pengalaman beternak.

“Kalau bisa, bantuan itu berupa sapi langsung, bukan uang. Peternak di sini sudah terbiasa, tinggal didorong dengan tambahan populasi. Kalau kelompok sudah terbentuk, tinggal diperkuat,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti kebutuhan sarana pendukung peternakan, seperti mesin pencacah rumput. Menurutnya, alat tersebut penting untuk meningkatkan efisiensi pengolahan pakan, termasuk dalam pembuatan silase yang dapat memperpanjang masa simpan pakan hingga satu atau dua bulan.

“Kami sudah ajukan bantuan mesin pencacah. Ini penting agar pakan bisa lebih awet dan siap saat dibutuhkan. Ketahanan pakan juga harus diperhatikan,” kata Asep.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa distribusi pakan dari koperasi sejauh ini berjalan cukup baik. Begitu pula dengan aspek kesehatan ternak yang relatif terjaga. Namun, ia menekankan bahwa dukungan dari pemerintah tetap dibutuhkan untuk melengkapi berbagai kekurangan yang ada di tingkat peternak.

Tak hanya sektor peternakan, Asep juga menegaskan bahwa Desa Suntenjaya memiliki potensi besar di bidang pertanian. Ia menyebut, sekitar 90 persen masyarakat menggantungkan hidup pada sektor pertanian, baik dalam bentuk tanaman pangan maupun hortikultura.

“Suntenjaya ini salah satu pemasok sayuran terbesar. Lahannya masih subur, masih utuh. Produk kami beragam, mulai dari tomat, brokoli, cabai, hingga kentang. Bahkan ada banyak jenis lain yang masuk ke pasar modern,” tuturnya.

Meski demikian, sektor pertanian juga menghadapi tantangan, terutama terkait harga input produksi yang semakin tinggi. Asep menyoroti mahalnya harga pupuk, obat-obatan, serta alat pertanian yang berdampak pada biaya produksi petani.

Ia berharap pemerintah dapat memperluas akses terhadap pupuk subsidi guna meringankan beban petani. Menurutnya, stabilitas harga dan ketersediaan sarana produksi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian.

“Harapan kami, pupuk subsidi bisa lebih diperhatikan. Karena sekarang biaya produksi tinggi, sementara harga hasil pertanian mengikuti pasar yang fluktuatif,” katanya.

Dalam konteks program nasional, Asep juga menyinggung pelaksanaan program Makanan Pendamping Gizi (MPG) yang dinilai belum melibatkan pemerintah desa secara optimal. Ia menilai, program tersebut memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung pemasaran hasil pertanian dan peternakan.

“Program ini sebenarnya bagus, bisa membantu gizi masyarakat dan ekonomi petani. Tapi sampai sekarang belum ada keterlibatan desa. Padahal kalau terhubung, hasil tani dan ternak bisa terserap,” ujarnya.

Ia berharap ke depan terdapat sinergi yang lebih kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan desa dalam menjalankan program-program strategis, termasuk melalui kelembagaan seperti koperasi maupun badan usaha milik desa.

Menutup pernyataannya, Asep menyampaikan harapan agar Desa Suntenjaya dapat terus berkembang sebagai wilayah yang mandiri dan sejahtera, dengan kekuatan utama pada sektor pangan.

“Harapan kami sederhana, masyarakat sejahtera, aman, dan tidak kekurangan pangan. Suntenjaya harus benar-benar menjadi desa yang jaya, sesuai namanya,” ucapnya.

Sementara itu, Rapat Anggota Tahunan KPSBU Lembang yang dihadiri Asep Wahyono menjadi momentum penting dalam memperkuat kinerja koperasi serta meningkatkan kesejahteraan anggota.

Forum tersebut dihadiri oleh ribuan anggota dari berbagai wilayah di Lembang, serta unsur pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya. Dalam sambutannya, Ketua KPSBU Lembang menekankan pentingnya loyalitas dan persatuan sebagai fondasi utama keberlanjutan koperasi.

Selain membahas kinerja usaha, RAT juga menjadi ajang evaluasi berbagai program, termasuk perlindungan sosial anggota melalui kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, pengembangan unit usaha, serta pembenahan aset kelembagaan.

Dari sisi produksi, koperasi mencatat capaian positif dengan peningkatan volume susu sepanjang tahun buku 2025. Kualitas produk juga tetap terjaga, didukung oleh program kesehatan hewan yang terus berjalan.

Di bidang pengembangan, koperasi merencanakan sejumlah inovasi, mulai dari pembangunan fasilitas baru, digitalisasi sistem, hingga pemanfaatan energi alternatif berbasis limbah peternakan.

RAT ini sekaligus menegaskan peran strategis KPSBU sebagai penggerak ekonomi berbasis komunitas, yang tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan anggota secara menyeluruh.

Dengan berbagai langkah tersebut, koperasi diharapkan mampu menjawab tantangan ke depan sekaligus memperkuat kontribusinya dalam mendukung ketahanan pangan dan perekonomian daerah. (nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *