Bandung, Kamis, 8 Mei 2026. Penayangan perdana film garapan Deddie itu dipadati penonton, insan perfilman, komunitas seni, hingga penggemar grup idola remaja StarBe yang turut hadir memeriahkan acara.
Di tengah geliat perfilman nasional yang beberapa tahun terakhir cenderung didominasi genre horor dan drama romantik populer, Silent Dance mencoba mengambil jalur berbeda. Film produksi Sanggar Mekar Asih yang didukung Triduta Film itu mengangkat tema pertemuan budaya tradisional Sunda dengan pengaruh budaya populer global, khususnya K-pop, yang kini lekat dengan keseharian generasi muda.
Tema tersebut menjadi relevan karena perdebatan mengenai posisi budaya lokal di tengah arus budaya global bukan hal baru di Indonesia. Namun alih-alih memosisikan budaya luar sebagai ancaman yang harus ditolak, film ini justru menawarkan pendekatan kolaboratif.

Produser Sjamsudin mengatakan, sejak awal produksi, film ini memang dirancang untuk menunjukkan bahwa seni tradisional dapat berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan identitas dasarnya.
“Budaya luar, termasuk tarian modern seperti K-pop, memang memiliki pengaruh besar di kalangan anak muda. Karena itu, film ini hadir sebagai upaya menunjukkan bahwa tarian tradisional juga bisa dikembangkan secara modern tanpa kehilangan jati diri budayanya,” ujar Sjamsudin dalam sesi konferensi pers.
Menurut dia, perpaduan unsur modern dan tradisional dalam film tersebut bukan dimaksudkan untuk mengaburkan budaya asli, melainkan memperkuat ketertarikan generasi muda terhadap kesenian lokal melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka saat ini.

Gagasan itu tampak menjadi tulang punggung narasi film. Dalam sejumlah adegan, tarian tradisional Sunda dipadukan dengan ritme musik modern dan koreografi yang mengikuti selera visual generasi digital. Pendekatan tersebut juga diperkuat melalui kehadiran StarBe yang dikenal memiliki basis penggemar remaja.
Personel StarBe, yakni Annabelle Feodora Senjaya, Shella Fernanda Wibowo, dan Chelsea Van Meijr hadir langsung dalam gala premiere. Sementara Kezia Lizina Alexandra berhalangan hadir. Dalam sesi sambutan, mereka mengakui proses adaptasi antara musik tradisional dan modern menjadi tantangan tersendiri selama produksi.
“Karakter lagu tradisional dan modern sangat berbeda. Tapi proses itu justru menyenangkan dan menghasilkan perpaduan yang indah,” ujar salah satu personel StarBe.

Kelompok tersebut juga menegaskan bahwa unsur tradisional sengaja dipertahankan melalui penggunaan kostum bermotif batik dan instrumen musik tradisional dalam aransemen mereka. Di tengah tren budaya pop global yang berubah cepat, strategi semacam ini menunjukkan upaya industri hiburan untuk tetap menjaga keterhubungan dengan identitas lokal.
Secara visual, Silent Dance memanfaatkan lanskap Garut dan beberapa titik di Bandung, seperti kawasan Braga dan Cihideung, sebagai latar cerita. Pilihan lokasi itu bukan sekadar estetika, melainkan bagian dari identitas film. Garut diposisikan sebagai representasi ruang budaya Sunda yang menjadi arena pertemuan antara tradisi dan modernitas.

Turut hadir sebagai budayawan sekaligus pemeran dalam film Silent Dance, Ambu Rita Laraswati mengungkapkan bahwa film ini mengusung visi dan misi untuk membangkitkan kembali seni dan budaya, dengan tujuan menumbuhkan rasa cinta serta mendorong generasi muda agar mau mengembangkan dan melestarikan warisan leluhur bangsa sendiri. Ia menekankan pesan penting bahwa meskipun zaman terus berubah dan modernisasi tak terbendung, jati diri serta tradisi bangsa tidak boleh dilupakan.
Sebagai praktisi seni dan budaya, Ambu merasa sangat bahagia sekaligus bangga atas kehadiran film Silent Dance yang dinilainya sebagai upaya penyelarasan kehidupan, terutama di tengah realitas saat ini di mana banyak anak muda mulai jauh dari dunia seni dan budaya. Melalui film ini, ia berharap remaja Indonesia dapat menumbuhkan kembali kesadaran dan kecintaan mereka terhadap nilai-nilai luhur kebudayaan bangsa.

Ambu mengatakan “Budaya luar yang masuk ke dalam kehidupan kita tidak harus ditolak sepenuhnya, tetapi bisa dipadukan atau dikolaborasikan. Namun tujuan utamanya tetap agar generasi ke depan mencintai budaya dan tradisi sendiri”.
Dalam film tersebut juga diperkenalkan tarian “Laras Hati”, yang menurut Ambu Laras merepresentasikan keselarasan hidup manusia.
“Hati itu harus laras atau selaras. Dalam ucapan, perilaku, dan tindakan kita harus selaras. Begitu juga tarian yang disuguhkan dalam film ini, akan terlihat serasi apabila dibawakan dengan hati yang laras,” ujarnya.

Pendekatan semacam ini memperlihatkan bagaimana film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga medium transmisi nilai budaya. Di saat sebagian kesenian tradisional menghadapi tantangan regenerasi pelaku dan penonton, film menjadi salah satu jalur baru untuk memperluas jangkauan budaya lokal kepada publik muda.
Meski demikian, upaya mengawinkan budaya tradisional dengan budaya populer global bukan tanpa risiko. Dalam banyak kasus, budaya lokal justru berhenti pada lapisan simbolik hanya sebatas kostum, properti, atau latar visual tanpa pendalaman makna. Silent Dance berupaya menghindari jebakan itu dengan memasukkan diskusi identitas budaya ke dalam konflik cerita dan perkembangan karakter.

Hal tersebut juga tercermin dari tokoh-tokoh dalam film, termasuk karakter Gurniwa dan kepala desa yang merepresentasikan benturan kepentingan, ambisi, serta hubungan antargenerasi di masyarakat.
Pemeran tokoh kepala desa mengatakan proses pendalaman karakter membuatnya memahami pentingnya pelestarian budaya Sunda di tengah perubahan sosial.
“Film ini bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan dan pelajaran bahwa leluhur kita memiliki tradisi yang luar biasa,” ujarnya.
Menariknya, aktor tersebut mengaku bukan berasal dari latar belakang etnis Sunda, melainkan keturunan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Namun karena tumbuh di tanah Sunda, ia merasa budaya Sunda melekat kuat dalam kehidupannya. Pengalaman itu secara tidak langsung memperlihatkan bahwa identitas budaya dapat tumbuh melalui lingkungan sosial, bukan semata garis keturunan.

Gala premiere Silent Dance juga menjadi ruang pertemuan antara industri hiburan, komunitas budaya, dan publik muda. Kehadiran figur publik seperti Limbad dan Ki Daus turut menarik perhatian pengunjung yang memadati area red carpet.
Film dengan jargon “Tarian Jiwa-Jiwa yang Merdeka” itu dijadwalkan tayang serentak mulai 14 Mei 2026 di sejumlah jaringan bioskop di Pulau Jawa dan Labuan Bajo, termasuk Sam’s Studio, New Star Cinema, serta CGV Bandung.

Di tengah derasnya budaya populer global yang terus membentuk selera generasi muda, Silent Dance tampaknya mencoba mengambil posisi tengah: bukan menolak modernitas, tetapi juga tidak sepenuhnya menyerahkan ruang budaya lokal kepada tren pasar. Film ini mungkin tidak menawarkan jawaban final tentang bagaimana tradisi harus bertahan di era digital. Namun setidaknya, ia membuka percakapan bahwa identitas budaya masih bisa dinegosiasikan tanpa harus kehilangan akar. (vie-nk)