Bandung Barat, 11 Mei 2026. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat melalui Dinas Pendidikan menetapkan hasil penilaian dan pemenang sejumlah ajang minat, bakat, serta kreativitas siswa sekolah dasar tahun 2026. Penetapan itu dituangkan dalam beberapa surat keputusan panitia pelaksana, mencakup Pentas Pendidikan Agama Islam (PAI), Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), Ajang Literasi dan Numerasi, serta Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN).
Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung sepanjang April hingga Mei 2026 dan melibatkan peserta dari hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Bandung Barat. Cabang yang dipertandingkan pun memperlihatkan spektrum kompetensi yang luas: mulai dari Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), kaligrafi Islam, ngadongeng, maca aksara Sunda, hingga pencak silat, renang, atletik, mini soccer, dan bulu tangkis.
Dalam dokumen keputusan panitia, kegiatan ini disebut sebagai bagian dari “wahana kegiatan dalam bentuk kompetisi sebagai sarana untuk menumbuhkan semangat berprestasi yang relevan dengan pengembangan kompetensi peserta didik di jenjang SD”.

Rumusan itu memperlihatkan arah kebijakan pendidikan dasar yang kini tidak lagi semata bertumpu pada capaian akademik. Pemerintah pusat maupun daerah mulai menempatkan pengembangan talenta, karakter, dan kecakapan sosial sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.
Kecenderungan tersebut tampak dalam sejumlah regulasi yang menjadi dasar penyelenggaraan kegiatan. Selain Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, panitia juga merujuk Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2024 tentang Desain Besar Manajemen Talenta Nasional serta Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 25 Tahun 2025 tentang Manajemen Talenta Murid.
Dalam konteks itu, kompetisi siswa bukan lagi sekadar agenda tahunan sekolah, melainkan bagian dari mekanisme identifikasi potensi sejak usia dasar.

Pada ajang Pentas PAI tingkat SD Kabupaten Bandung Barat yang digelar 16 April 2026, sejumlah peserta mencatat nilai menonjol di berbagai cabang lomba. Di kategori MTQ Putra, Muhamad Al Misywari dari SD Negeri Cipongkor menjadi juara pertama dengan nilai 193. Sementara di kategori putri, Najma Fakhira dari SD Negeri 2 Babakantalang, Rongga, memperoleh nilai tertinggi 192.
Cabang Musabaqah Hifzil Qur’an (MHQ) memperlihatkan persaingan ketat. Hana Aish Salma dari SD Negeri 4 Cimareme, Ngamprah, meraih juara pertama kategori putri dengan nilai 198, salah satu skor tertinggi dalam keseluruhan cabang Pentas PAI tahun ini.
Sementara itu, di cabang Da’i Cilik Putri, Lutfhia Zahra Talita dari SD Negeri Selacau, Batujajar, memperoleh nilai 597. Adapun pada lomba Praktik Adzan, M. Aldi Koirul Anam dari SD Negeri Cisintok, Parongpong, mencatat nilai tertinggi 694.

Tidak hanya pendidikan agama, ruang ekspresi budaya lokal juga mendapat perhatian melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) yang dilaksanakan pada 15 April 2026. Ajang ini memuat cabang-cabang berbasis kebudayaan Sunda seperti ngadongeng, biantara, nembang pupuh, hingga maca nulis aksara Sunda.
Dalam kategori Nembang Pupuh Putri, Khoirunnisa Nurmaulana dari SD Negeri 1 Cihampelas menjadi juara pertama dengan nilai 279. Pada cabang Maca Nulis Aksara Sunda Putri, Gian Shafa Hidayah dari SD Negeri Karyawangi, Parongpong, mencatat nilai tertinggi 346,5.
FTBI menjadi penting dalam konteks pendidikan daerah karena berlangsung di tengah tantangan menurunnya penggunaan bahasa ibu di kalangan generasi muda. Di banyak wilayah perkotaan dan suburban, bahasa daerah perlahan tergeser oleh bahasa Indonesia maupun bahasa populer digital.

Karena itu, keberadaan lomba seperti ngadongeng atau biantara tidak hanya berfungsi sebagai kompetisi, tetapi juga ruang reproduksi kebudayaan. Anak-anak tidak sekadar diuji kemampuan tampilnya, melainkan juga kedekatan mereka dengan kosakata, intonasi, nilai, dan tradisi lisan Sunda.
Di sisi lain, Ajang Literasi dan Numerasi memperlihatkan fokus pemerintah terhadap kemampuan dasar siswa pada fase awal sekolah. Kompetisi ini dibagi dalam kategori kelas 1 hingga kelas 3 SD.
Pada kategori kelas 1, Savero Farish Putra Kurniawan dari SD Negeri Margamulya, Ngamprah, menjadi juara pertama dengan nilai 93,26. Untuk kelas 2, posisi tertinggi diraih Arsyila Queenara Syahral dari SD Negeri Karyamulya, Ngamprah, dengan nilai 80,56. Sedangkan kategori kelas 3 dimenangkan Razika Athallah Mulya dari SD Negeri 3 Purabaya, Padalarang, dengan nilai 70,09.

Perbedaan rentang nilai di tiap tingkat menunjukkan kompleksitas pengukuran kemampuan literasi dan numerasi pada usia sekolah dasar. Penilaian tidak hanya terkait hafalan atau kecepatan menjawab, tetapi juga kemampuan memahami persoalan dan menerapkan logika dasar.
Selain bidang akademik dan budaya, O2SN memperlihatkan dimensi lain dari pembinaan siswa SD, yakni olahraga prestasi.
Pada cabang pencak silat kategori tunggal putra, Moch Alif R. dari kontingen Cipeundeuy keluar sebagai juara pertama dengan total nilai 9,92. Untuk kategori tunggal putri, Naswa Khaira dari Cikalongwetan meraih posisi tertinggi dengan nilai 9,905.
Di cabang bulu tangkis tunggal putri, Chinta Meydina Wahyudi dari SDN 1 Cililin menjadi juara pertama. Sementara kategori tunggal putra dimenangkan Dhafin Azka dari SDN Cisarua.
Cabang renang juga memperlihatkan distribusi talenta dari berbagai kecamatan. Abid Aqila Pranaja dari SDN Batujajar 1 mendominasi kategori putra dengan raihan tiga medali emas dan dua perak. Sedangkan kategori putri dipimpin Ashera Wafa Ardini dari SD Negeri 1 Kayuambon, Lembang, dengan tiga emas dan satu perunggu.
Adapun pada cabang mini soccer, Kecamatan Lembang keluar sebagai juara pertama, disusul Kecamatan Cikalongwetan, sementara posisi ketiga ditempati Kecamatan Cipeundeuy dan Cipatat.
Meski berbentuk kompetisi, keseluruhan agenda ini memperlihatkan satu pola penting: sekolah dasar kini diposisikan sebagai ruang identifikasi bakat multidimensi. Anak-anak tidak hanya dipandang melalui capaian akademik formal, tetapi juga melalui kemampuan seni, olahraga, budaya, komunikasi, dan keagamaan.
Namun demikian, tantangan berikutnya terletak pada kesinambungan pembinaan. Kompetisi tahunan kerap menghasilkan daftar juara, tetapi tidak selalu diikuti ekosistem pendampingan yang memadai. Padahal, pengembangan talenta membutuhkan keberlanjutan pelatihan, akses fasilitas, serta dukungan psikologis dan sosial dari lingkungan sekolah maupun keluarga.
Karena itu, penetapan para pemenang di Bandung Barat tahun ini dapat dibaca bukan hanya sebagai hasil perlombaan, melainkan juga peta awal mengenai bagaimana sekolah dasar di daerah mulai membangun wajah pendidikan yang lebih beragam. Di tengah tekanan capaian akademik dan perubahan sosial digital, ruang bagi ekspresi budaya, olahraga, literasi, serta pendidikan karakter tampak masih dipertahankan sebagai bagian penting dari pendidikan dasar. (aq-nk)