Joerang Kopi Hadir di Rumah Potong Hewan Padalarang, Bagikan Ratusan Cup Gratis pada Idul Adha

Bandung Barat Profil

Padalarang, 29 Mei 2026. Kehangatan Hari Raya Idul Adha di Rumah Potong Hewan (RPH) Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, tidak hanya hadir melalui kegiatan pemotongan hewan kurban, tetapi juga lewat sajian kopi gratis yang dibagikan kepada para pengunjung dan petugas di lokasi kegiatan.

Dalam agenda pemotongan hewan kurban yang dihadiri Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail, Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail, serta Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat Wiwin Aprianti sebagai penanggung jawab pelaksana kegiatan, kedai kopi Joerang Kopi turut ambil bagian dengan menyediakan minuman secara cuma-cuma bagi masyarakat yang hadir.

Manager Joerang Kopi, Yustafa Alam, mengatakan kehadiran pihaknya merupakan bentuk dukungan terhadap kelancaran kegiatan Idul Adha sekaligus memperkenalkan kopi lokal kepada masyarakat.
“Kita di sini untuk mendukung acara dengan menyediakan minuman, terutama menu kopi spesial kami. Kami mendukung kelangsungan acara ini dengan memberikan kopi,” ujar Yustafa saat ditemui di lokasi kegiatan.

Kopi yang dibagikan diberikan secara gratis. Awalnya, pihak Joerang Kopi menyiapkan sekitar 100 cup minuman. Namun tingginya antusiasme masyarakat membuat jumlah tersebut bertambah hingga lebih dari 150 cup.
“Rencana awal kami menyiapkan 100 cup. Tapi ternyata antusiasme di sini cukup tinggi, banyak yang suka. Jadi mungkin sudah lebih dari 150 cup yang kami berikan,” katanya.

Joerang Kopi sendiri merupakan kedai kopi yang beralamat di Jalan Jurang Nomor 67A, Pasteur, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung. Kedai tersebut dikenal dengan berbagai varian kopi susu dan minuman berbasis espresso yang menyasar segmen anak muda hingga penikmat kopi spesialti.

Melalui akun media sosial Instagram @jurangkopi serta layanan pencarian digital, kedai ini mulai memperluas jangkauan pasar. Selain melayani pelanggan di kedai, Joerang Kopi juga aktif mengikuti bazar dan festival kuliner.
“Kami aktif di Instagram. Untuk bazar atau festival juga ikut serta,” ujar Yustafa.

Di tengah menjamurnya bisnis kopi dalam beberapa tahun terakhir, Joerang Kopi mencoba menghadirkan karakter rasa yang berbeda. Salah satu menu andalannya adalah Kopi Susu Joerang yang disebut memiliki sentuhan rasa fruity dan banana.

Selain itu, terdapat pula sejumlah menu lain seperti Black Havana, Black Peach, hingga berbagai minuman nonkopi dan mocktail. Untuk kategori espresso base, tersedia menu seperti Americano, Cappuccino, Cafe Latte, hingga Caramel Macchiato.

Harga minuman yang ditawarkan juga relatif terjangkau untuk segmen kedai kopi perkotaan, mulai dari Rp23.000 hingga kisaran Rp28.500 per gelas. Joerang Kopi juga memberikan potongan harga 10 persen bagi pelanggan yang membawa tumbler pribadi sebagai bagian dari kampanye pengurangan sampah plastik.

Tidak hanya menjual minuman siap saji, Joerang Kopi juga menyediakan biji kopi mentah maupun kopi giling sesuai kebutuhan pelanggan. Produk tersebut dapat disesuaikan berdasarkan metode seduh, mulai dari espresso, pour over, hingga kopi tubruk.
“Kami sesuaikan dengan keinginan pelanggan, misalnya digiling halus untuk diseduh langsung, digiling untuk kopi filter, atau digiling kasar. Harganya terjangkau,” kata Yustafa.

Dalam wawancara tersebut, Yustafa juga menyinggung pandangan masyarakat mengenai kopi dan kesehatan. Menurut dia, kopi kerap mendapat stigma buruk, terutama bagi penderita gangguan lambung. Namun ia menilai persoalan tersebut tidak selalu berasal dari kopi itu sendiri.
“Kopi sebenarnya punya banyak stigma, misalnya buruk untuk lambung, terutama bagi yang punya maag. Sebetulnya tidak. Yang buruk itu gula dan susunya,” ujarnya.

Ia menyarankan masyarakat yang ingin tetap menikmati kopi agar memilih sajian sederhana seperti espresso atau americano tanpa tambahan gula dan susu berlebihan.

Dalam perkembangan industri kopi modern, tren konsumsi masyarakat memang mengalami perubahan cukup signifikan. Kopi kini tidak hanya dipandang sebagai minuman pengusir kantuk, melainkan telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup, ruang interaksi sosial, hingga medium apresiasi terhadap produk pertanian lokal.

Fenomena tersebut sejalan dengan berkembangnya gelombang kopi spesialti atau third wave coffee yang menempatkan kualitas biji, metode seduh, dan asal-usul kopi sebagai nilai utama. Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia dengan beragam karakter rasa dari berbagai daerah.

Jenis arabika yang tumbuh di dataran tinggi memiliki karakter fruity dan floral dengan tingkat keasaman lebih tinggi. Sementara robusta yang banyak tumbuh di dataran rendah dikenal memiliki rasa lebih tebal dan pahit dengan kadar kafein lebih tinggi.

Menurut Yustafa, perhatian terhadap petani kopi menjadi aspek penting dalam menjaga keberlanjutan industri tersebut.
“Harapan saya, terutama untuk petani kopi, agar lebih diperhatikan, khususnya dalam hal penelitian dan pengembangan serta teknologi,” katanya.

Ia menilai pengembangan kopi Indonesia tidak cukup hanya berfokus pada penjualan produk akhir, tetapi juga harus memperkuat kualitas budidaya, pengolahan, dan edukasi pasar.
“Menjual kopi bukan hanya soal menjual kopi saja, tapi juga mengenalkan biji-biji kopi Indonesia,” ujarnya.

Kehadiran Joerang Kopi dalam kegiatan Idul Adha di RPH Padalarang memperlihatkan bagaimana pelaku usaha lokal mulai terlibat dalam ruang-ruang publik dan kegiatan sosial masyarakat. Di tengah suasana kebersamaan Hari Raya Kurban, secangkir kopi menjadi medium sederhana yang mempererat interaksi sekaligus memperkenalkan potensi kopi lokal kepada khalayak yang lebih luas. (nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *