Rongga, Juli 2026 Sebuah tongkat besi berkaki tiga berdiri menyandari dinding anyaman bambu sebuah rumah yang teramat sederhana di Kampung Pasir Bungur, Desa Cinengah, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat. Di atas dipan kayu yang mulai lapuk, Bapak Dayat Wibisana, seorang lelaki senja berusia 67 tahun, menatap lurus ke arah pintu terbuka. Setiap embusan napasnya seperti menghitung sisa-sisa kekuatan yang tertinggal di tubuh rentanya. Bagi Pak Dayat, jarak beberapa meter dari tempat tidurnya menuju pekarangan rumah kini terasa laksana perjalanan melintasi gurun yang teramat terjal dan tak berujung.
Sakit yang datang perlahan di usia senja telah merenggut kemerdekaan fisiknya.
Sunyi di Ujung Batas Langkah
Dahulu, Pak Dayat adalah sosok lelaki tangguh yang terbiasa melangkah bebas menyusuri perbukitan hijau di kawasan Rongga. Kakinya yang kokoh adalah tumpuan hidup untuk menghidupi keluarga. Namun, waktu dan penyakit perlahan mengikis kekuatan itu. Langkah kakinya yang lebar kini menyusut, digantikan oleh ayunan lambat yang gemetar, bertumpu sepenuhnya pada sebuah tongkat penyangga berkaki tiga.

Ketika tubuh tak lagi mampu berjalan jauh, ruang hidupnya pun ikut menyempit sebatas dinding rumah sederhananya. Di tengah kesunyian Kampung Pasir Bungur yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Pak Dayat hanya bisa memendam rindu akan hangatnya matahari luar dan sapaan tetangga yang kian jarang terdengar. Sebuah kursi roda menjadi impian yang teramat mewah, sesuatu yang hanya berani ia sebut dalam doa-doa di penghujung malamnya.

Namun, siapa sangka, doa yang dipanjatkan di sudut sunyi Rongga itu menemukan jalannya melalui udara. Kabar tentang nestapa Pak Dayat melintasi puluhan kilometer perbukitan cadas, menembus batas wilayah administratif, dan mendarat di gawai Maya Ekawati Ketua Posyandu sekaligus Ibu Camat Lembang. Sebuah pesan singkat (Direct Message) di media sosial TikTok menjadi jembatan takdir yang menghubungkan harapan Pak Dayat dengan ketukan pintu kepedulian.
Ketukan Kepedulian yang Melintasi Jarak
Tanpa menunda waktu, ketukan di layar kaca itu langsung dijawab dengan deru roda kemanusiaan di dunia nyata. Maya Ekawati membuktikan bahwa empati tidak boleh terkurung oleh sekat geografis. Jauh-jauh utusan dari Rongga datang ke Lembang melintas arah selatan menuju utara untuk mengambil kursi dua roda bagi dua warga Desa Cinengah kampung Cijambu RW 05 dan RW 016, Kecamatan Rongga satu diantaranya untuk Pak Dayat. Pemberian kursi roda ini menegaskan komitmen gerakan sosialnya yang meluas; tidak hanya berputar di sejuknya Lembang, melainkan terus bergerak menyisir daerah Parongpong, Ngamprah, hingga menjangkau ujung selatan Bandung Barat di Kecamatan Rongga demi sampai ke Pak Dayat.
Diceritakan saat kursi roda itu tiba dan diletakkan di dalam rumah sederhananya, suasana mendadak haru. Air mata Pak Dayat perlahan menitik, membasahi pipinya yang telah dipenuhi kerutan usia. Tangannya yang gemetar menyentuh sandaran besi kursi roda tersebut ini adalah sebuah benda yang kini menjadi simbol kemerdekaan baru baginya.

Kini, tongkat berkaki tiga itu bisa sedikit beristirahat di sudut ruangan. Kursi roda pemberian Ibu Camat Lembang bukan sekadar alat bantu medis, melainkan wujud nyata bahwa di tengah dinginnya jarak dan waktu, kehangatan kasih sesama manusia selalu punya cara untuk sampai. Esok pagi, Pak Dayat tidak lagi hanya menatap pintu; ia akan roda-rodakan langkahnya menuju halaman, menyongsong kembali sisa hari dengan senyuman dan secercah harapan yang sempat redup. (nk)