Desa Cikahuripan Rayakan 106 Tahun dengan Wayang Golek dan Pesan Gotong Royong

165 Desa KBB Bandung Barat

Lembang, 26 Agustus 2026 Lapang Bola Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, menjadi tempat perayaan milangkala ke-106 Desa Cikahuripan. Kegiatan yang membawa tema “Sawanda Ngawangun Lembur, Sauyunan Ngamumule Budaya, Nyipta Cikahuripan Nu Jembar Tur Raharja” itu mempertemukan pemerintah daerah, pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta warga dalam suasana kebersamaan.

Berdasarkan catatan sejarah yang digunakan dalam perayaan tersebut, usia Desa Cikahuripan dihitung sejak 1920 hingga 2026. Perjalanan lebih dari satu abad itu menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenang perkembangan desa sekaligus melihat kembali tanggung jawab pembangunan yang masih harus dikerjakan.

Kepala Desa Cikahuripan Oman Haryanto, S.H., mengatakan peringatan tersebut menjadi kesempatan untuk bersyukur sekaligus mempererat hubungan antara pemerintah desa dan masyarakat. Ia juga menyampaikan bahwa dirinya merupakan kepala desa ke-23 yang memimpin Cikahuripan.
“Saya masih banyak kekurangan dalam melaksanakan tugas. Untuk itu, mohon bimbingan dari Pak Bupati,” kata Oman dalam sambutannya.

Oman juga mengajak masyarakat menjaga keamanan, kebersihan, dan ketertiban lingkungan. Menurut dia, pembangunan desa tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan warga dalam menjaga lingkungan dan kehidupan sosial.

Perayaan itu dihadiri Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bandung Barat Dudi Supriadi, Camat Lembang Bambang Eko Setyowahjudi, Ketua TP-PKK Kecamatan Lembang Maya Ekawati, para kepala desa se-Kecamatan Lembang, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan, Karang Taruna, tokoh masyarakat, sesepuh, serta undangan lainnya.

Bupati Jeje mengatakan keberagaman potensi yang dimiliki Bandung Barat perlu dikelola melalui kerja bersama. Ia mengajak masyarakat dan pemerintah desa terus memperbaiki berbagai aspek pembangunan yang masih memerlukan perhatian.
“Kebersamaan dan gotong royong menjadi satu kekuatan yang utama membangun Bandung Barat,” ujar Jeje.

Jeje juga meminta masyarakat menjaga ketertiban dan keamanan. Ia berharap Cikahuripan dapat terus berkembang dan menjadi salah satu desa yang membanggakan bagi Kabupaten Bandung Barat.

Pesan tentang kebersamaan tersebut kemudian diterjemahkan melalui kegiatan budaya. Pagelaran wayang golek menjadi salah satu acara utama dengan menghadirkan dalang Dadan Sunandar Sunarya Putra dari Giri Harja 3. Komedian Ohang dan Popon turut tampil untuk menghidupkan suasana pertunjukan.

Lakon yang dipentaskan berjudul Yudistira Ngadeg Raja Dina Babad Alas Wanamarta. Dalam tradisi pewayangan, kisah tersebut menceritakan perjuangan Yudistira dan para Pandawa membuka Alas Wanamarta hingga berkembang menjadi kerajaan Amarta. Cerita itu membawa tema tentang kerja keras, ketabahan, kepemimpinan, dan proses membangun kehidupan bersama dari keadaan yang belum tertata.

Pemilihan lakon tersebut memiliki keterkaitan dengan tema milangkala. Proses membuka hutan dan membangun wilayah dalam cerita pewayangan dapat dimaknai sebagai gambaran tentang kerja panjang masyarakat dalam membangun lingkungan tempat tinggal, meski konteks kehidupan desa masa kini tentu berbeda dengan latar cerita pewayangan.

Nuansa pertanian juga terlihat dalam penataan panggung. Berbagai hasil bumi seperti pisang, sayuran, jagung, kol, ketela, dan ubi digantung sebagai bagian dari dekorasi. Hasil bumi itu merepresentasikan sektor pertanian yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Cikahuripan.

Desa Cikahuripan memiliki luas sekitar 8,50 kilometer persegi dan merupakan salah satu dari 16 desa di Kecamatan Lembang. Data statistik wilayah Kecamatan Lembang mencatat luas tersebut dalam komposisi wilayah kecamatan yang mencapai 95,56 kilometer persegi.

Secara geografis, Cikahuripan berada di kawasan kaki Gunung Tangkuban Parahu. Desa ini juga memiliki potensi wisata alam melalui Cikahuripan Area yang berada di kawasan hutan dan jalur pendakian. Potensi tersebut telah masuk dalam pengembangan desa wisata.

Di sisi lain, posisi geografis Lembang juga membuat aspek kesiapsiagaan bencana menjadi bagian penting dalam pembangunan desa. Pemerintah Desa Cikahuripan sebelumnya mencatat kegiatan sosialisasi kebencanaan dan potensi gempa Sesar Lembang melalui Desa Tangguh Bencana. Karena itu, pengembangan wilayah perlu berjalan beriringan dengan kesadaran terhadap risiko lingkungan.

Rangkaian perayaan diisi dengan pemotongan tumpeng oleh Oman Haryanto yang kemudian diserahkan kepada Bupati Jeje. Dalam kesempatan yang sama, Ki Dalang memberikan wayang Arjuna kepada kepala desa sebagai bagian dari rangkaian kegiatan budaya.

Milangkala ke-106 akhirnya tidak hanya menjadi penanda usia Desa Cikahuripan. Perayaan tersebut memperlihatkan upaya masyarakat mempertahankan kebudayaan lokal sambil mengingat kembali kebutuhan pembangunan desa, mulai dari ketertiban lingkungan hingga penguatan potensi ekonomi dan wisata.

Bagi Cikahuripan, gagasan sauyunan ngawangun lembur menjadi pesan yang menempatkan pembangunan sebagai pekerjaan bersama. Pemerintah desa memiliki tanggung jawab dalam pelayanan dan pembangunan, sedangkan masyarakat mempunyai peran menjaga lingkungan, kebudayaan, serta kehidupan sosial agar tetap tumbuh secara berkelanjutan. (aq-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *