Mukapayung, 17 AGUSTUS 2026 Langkah kaki yang mantap bergema di lapangan Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Barisan pengibar bendera pusaka bergerak perlahan menuju tiang utama dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia. Pemandangan kali ini menyajikan suasana yang berbeda dari perayaan kemerdekaan pada umumnya. Tugas penting yang biasanya diemban oleh pasukan pelajar terlatih, kini dijalankan sepenuhnya oleh para anggota Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas) desa setempat dengan penuh ketenangan.

Dengan mengenakan seragam hijau khas pertahanan sipil, para anggota Satlinmas yang mayoritas berusia di atas 40 hingga mendekati 60 tahun tersebut berbaris dengan penuh kesungguhan dan kerapian. Ketenangan dan kehati-hatian terpancar dari raut wajah mereka saat membentangkan Sang Saka Merah Putih di hadapan seluruh peserta upacara. Seluruh prosesi pengibaran bendera berlangsung lancar, tanpa kendala teknis maupun kekeliruan posisi lipatan kain yang sempat menjadi kecemasan tersendiri bagi pihak penyelenggara upacara.

Kepala Desa Mukapayung, Firman Supianto, menuturkan bahwa langkah memilih anggota Satlinmas sebagai pengibar bendera lahir dari keinginan untuk memberikan contoh nyata mengenai dedikasi, semangat, dan kedisiplinan kepada generasi muda di wilayahnya. Menurutnya, keterbatasan usia bukanlah penghalang untuk terus belajar dan mengabdi secara optimal bagi lingkungan tempat tinggal serta kepentingan masyarakat luas.
”Inspirasi ini muncul dari lingkungan sekitar dan kondisi saat ini. Kami ingin memberikan contoh kepada para pemuda. Kenapa tidak Linmas, orang Linmas juga yang sudah berusia lanjut saja bisa. Kenapa yang muda tidak bisa mencontoh kepada bapak-bapak Linmas. Terus untuk kaum bapak-bapak, kenapa tidak juga. Kalau dengan dedikasi yang tinggi, disiplin yang tinggi, latihan dalam kehidupan, kita pasti bisa. Jangan merasa sudah tua lalu tidak bisa apa-apa,” ujar Firman seusai pelaksanaan upacara kemerdekaan di Desa Mukapayung.

Persiapan untuk momen bersejarah ini dilakukan melalui proses latihan intensif selama tujuh hari. Berbeda dengan pelatihan ketat pasukan pengibar bendera pada umumnya yang memakan waktu penuh harian, jadwal latihan bagi Satlinmas disesuaikan secara bijaksana dengan kondisi fisik serta kesibukan harian para anggota. Latihan dilaksanakan secara bertahap, yakni sekitar satu jam setiap harinya dari pukul 16.00 hingga 17.00 WIB, agar tidak mengganggu kewajiban utama mereka dalam mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga di rumah masing-masing.
Tingkat kesulitan dalam melatih barisan anggota Satlinmas dinilai memiliki tantangan tersendiri dibanding mendidik pelajar sekolah yang berusia jauh lebih muda dan mudah mengingat instruksi teknis. Faktor daya ingat, ketahanan fisik yang mulai terbatas, serta ketepatan teknis seperti memastikan lipatan bendera Merah Putih tidak terbalik atau kusut saat ditarik menuju puncak tiang membutuhkan tingkat ketelitian yang sangat tinggi dari para pelatih dan peserta. Meski demikian, semangat pantang menyerah serta ketekunan yang ditunjukkan para anggota Satlinmas membuahkan hasil yang presisi dan khidmat pada hari pelaksanaan.

Inovasi pengibaran bendera oleh Satlinmas ini sekaligus menjadi penanda awal yang istimewa dalam rangkaian peringatan hari jadi Desa Mukapayung yang ke-44. Pemerintah desa setempat memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas kerja keras 23 anggota Satlinmas beserta dua pembina yang terlibat penuh dalam menyukseskan acara tersebut. Peristiwa ini diharapkan dapat memacu semangat seluruh elemen warga untuk terus memberikan kontribusi terbaik di wilayah masing-masing tanpa memandang batasan usia.

Satlinmas sendiri merupakan organisasi kemasyarakatan yang dibentuk oleh pemerintah desa atau kelurahan dengan tugas utama membantu menjaga keamanan, ketertiban, penanganan bencana lokal, serta pengamanan kegiatan sosial dan pemilu. Dahulu, kelembagaan ini lebih dikenal publik dengan sebutan Pertahanan Sipil (Hansip). Keberhasilan dalam menjalankan tugas pengibaran bendera ini membuktikan bahwa peran Satlinmas tidak hanya terbatas pada fungsi menjaga ketenteraman wilayah, tetapi juga mampu menginspirasi nilai-nilai kebangsaan dan keteladanan di tingkat tapak.

Dalam skala kewilayahan, Satlinmas Desa Mukapayung juga memiliki rekam jejak prestasi yang membanggakan dalam lomba peraturan baris-berbaris (PBB) tingkat Kecamatan Cililin dan Cihampelas. Raihan prestasi yang berhasil dipertahankan selama dua tahun berturut-turut tersebut semakin mempertegas reputasi kedisiplinan dan integritas institusi lokal ini di tengah masyarakat Kabupaten Bandung Barat.
Seiring bertambahnya tanggung jawab sosial dan apresiasi dari warga, perhatian terhadap kesejahteraan serta fasilitas pendukung Satlinmas terus diupayakan secara berkelanjutan oleh pemerintah desa maupun daerah. Pemerintah daerah telah mendaftarkan para anggota dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan serta memberikan peningkatan insentif secara bertahap. Firman berharap berbagai sarana dan prasarana penunjang tugas lapangan yang masih dibutuhkan oleh anggota Satlinmas dapat terus dipenuhi oleh Pemerintah Kabupaten Bandung Barat guna mendukung kinerja perlindungan masyarakat yang semakin profesional, layak, dan bermartabat. (aq-nk)