Di Milangkala ke-44, Firman Supianto Hadi Ajak Warga Desa Mukapayung Bergerak Bersama

165 Desa KBB Bandung Barat

Cililin, 28 Agustus 2026 Lapang bola Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, dipenuhi warga dalam rangkaian perayaan milangkala ke-44 Desa Mukapayung. Untuk pertama kalinya sejak desa tersebut berdiri, pemerintah desa bersama masyarakat menyelenggarakan perayaan milangkala dalam rangkaian kegiatan yang memadukan seni budaya, kepedulian sosial, serta pengenalan kembali sejarah desa.

Salah satu kegiatan utama dalam rangkaian tersebut adalah pagelaran wayang golek oleh Putra Giri Harja 3 Dadan Sunandar Sunarya dengan lakon “Cepot Kembar”. Pementasan seni tradisi Sunda itu menjadi bagian dari upaya pemerintah desa menghadirkan hiburan sekaligus menjaga kesenian daerah tetap dekat dengan masyarakat.

Kepala Desa Mukapayung Firman Supianto Hadi mengatakan, perayaan milangkala kali ini tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan hiburan. Menurut dia, peringatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengajak masyarakat kembali mengenal asal-usul desa yang selama ini belum seluruhnya diketahui warga.

“Tujuannya yang pertama mungkin menggali sejarah bahwa desa kita itu pemekaran dari Desa Rancapanggung,” kata Firman.
Secara historis, Desa Mukapayung memang merupakan hasil pemekaran dari Desa Rancapanggung. Catatan sejarah desa menyebutkan, musyawarah mengenai pemekaran berlangsung pada 29 September 1979. Dalam proses tersebut dibentuk panitia yang mempersiapkan pembentukan wilayah baru. Pemerintahan Desa Mukapayung kemudian mulai berjalan pada 1982.

Karena itu, penyebutan tahun 1982 dalam sambutan kepala desa berkaitan dengan awal pemerintahan Desa Mukapayung. Sementara proses pemekarannya telah melalui pembahasan sejak 1979. Penjelasan tersebut menjadi bagian penting agar masyarakat dapat memahami perjalanan pembentukan desa secara lebih utuh.

Firman mengatakan, masih terdapat warga yang belum mengetahui secara lengkap bagaimana Desa Mukapayung terbentuk dan siapa saja yang berperan dalam proses awalnya. Kondisi itu mendorong pemerintah desa untuk menjadikan perayaan milangkala sebagai ruang mengenalkan kembali sejarah lokal kepada masyarakat.

“Kita ingin menggali lagi sejarah-sejarah yang sudah lampau. Jangan sampai kita berdiri, berdiam, berusaha dan lain sebagainya di Desa Mukapayung, tetapi kita tidak tahu asal-usul desa kita itu dari mana,” ujarnya.

Selain sejarah, rangkaian kegiatan juga diarahkan untuk memperkenalkan potensi lokal. Pemerintah desa menampilkan kesenian yang berkembang di tengah masyarakat serta memberikan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperkenalkan produknya.

Firman menyebut penguatan UMKM menjadi salah satu tujuan yang ingin dibangun melalui kegiatan milangkala. Menurut dia, kegiatan desa dapat menjadi ruang bagi produk lokal untuk lebih dikenal masyarakat, sekaligus mendorong aktivitas ekonomi warga.

“Yang akan ditonjolkan mungkin yang pertama itu terkait kesenian di Desa Mukapayung, yang kedua produk lokal Desa Mukapayung,” katanya.

Rangkaian perayaan juga diisi kegiatan sosial berupa santunan kepada 100 anak yatim. Santunan tersebut diberikan dengan dukungan donasi dari Ricky, salah satu tokoh daerah, dan disampaikan bersama Pemerintah Desa Mukapayung.

Ricky Maulana, donatur santunan untuk 100 anak yatim, mengatakan dukungan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus upaya berbagi rezeki dengan masyarakat Desa Mukapayung, tempat ia menjalankan usaha. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berkembang dan mendorong lebih banyak pelaku usaha untuk turut berkontribusi. “Harapannya semoga tahun depan lebih meriah lagi, teman-teman pengusaha yang lain bisa ikut semua,” kata Ricky.

Menurut dia, kegiatan milangkala dapat diisi dengan kepedulian sosial sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan melalui hiburan, tetapi juga oleh warga yang membutuhkan. Ia berharap pola berbagi tersebut dapat menjadi kebiasaan dalam berbagai kegiatan masyarakat di Desa Mukapayung.

Kegiatan sosial itu melengkapi rangkaian acara yang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Cililin Opa Mustopa, Kepala Desa Cililin Tedi Kusnadi, Kepala Desa Budiharja Ahmad Syarif Hidayat, Ketua TP-PKK Desa Mukapayung Nuraeni, Ketua MUI Desa Mukapayung Ahmad Sopian, unsur Forkopimcam, Karang Taruna, tokoh masyarakat, sesepuh, serta tamu undangan lainnya.

Keterlibatan warga juga terlihat dari partisipasi kader TP-PKK Desa Mukapayung. Para kader tampil dengan seragam yang sama dan menyanyikan lagu Desa Mukapayung. Sebanyak 44 kader kemudian membawa tumpeng sebagai bagian dari rangkaian peringatan milangkala ke-44 dan menyerahkannya kepada Kepala Desa Firman Supianto Hadi serta Ketua TP-PKK Nuraeni.

Bagi Firman, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari keberlangsungan kegiatan tersebut. Ia menyampaikan apresiasi kepada warga yang ikut memberikan dukungan, baik melalui tenaga, pikiran, maupun materi.
“Terima kasih kepada warga masyarakat Desa Mukapayung atas dukungan, entah itu dari tenaga, pikiran sampai materinya yang sudah mendukung terlaksananya kegiatan milangkala ini,” ujarnya.

Lakon “Cepot Kembar” yang dipentaskan Dadan Sunandar Sunarya bersama Putra Giri Harja 3 juga membawa ciri khas pertunjukan wayang golek Sunda. Cerita tersebut menempatkan Cepot atau Astrajingga dalam situasi ketika muncul sosok yang menyerupai atau mengaku sebagai dirinya. Kehadiran tokoh tersebut menjadi sumber konflik cerita sekaligus ruang bagi bodoran khas Sunda.

Sebelum pementasan utama, pagelaran wayang golek dibuka dengan lantunan lagu “Kidung” dan “Kembang Gadung”. Pertunjukan tersebut sekaligus mempertemukan tradisi seni pertunjukan dengan masyarakat yang menjadi bagian dari kehidupan Desa Mukapayung. Masyarakat sangat antusias, dibuktikan dengan tumpah ruahnya ribuan warga yang memenuhi lapangan bola, UMKM pun merasa senang dengan larisnya dagangan.

Firman berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan apabila kondisi dan kemampuan desa memungkinkan. Namun, yang lebih penting bagi pemerintah desa adalah keberlanjutan semangat kebersamaan setelah rangkaian perayaan berakhir.

“Sabengkeutan urang majukeun Desa Mukapayung. Mari kita bersama-sama memajukan Desa Mukapayung,” katanya.
Semangat tersebut kemudian dirumuskan dalam gagasan “barengan, saayunan sabengkeutan” atau bergerak bersama dalam membangun desa. Bagi pemerintah desa, peringatan milangkala menjadi salah satu cara untuk mempertemukan kembali warga dengan sejarah, kesenian, potensi ekonomi, dan tujuan pembangunan yang ingin dicapai bersama.

Dengan demikian, perayaan ke-44 Desa Mukapayung tidak berhenti pada pagelaran seni. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenali kembali perjalanan desanya, memberi perhatian kepada kelompok yang membutuhkan, memperkenalkan potensi lokal, serta memperkuat hubungan sosial antarwarga. Di tengah perubahan zaman, upaya merawat sejarah dan budaya lokal menjadi bagian dari proses membangun identitas desa sekaligus menjaga kebersamaan masyarakat. (aq-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *