IDSurvey Dorong UMKM Bambu Virageawie Masuk Rantai Pasok Perusahaan

Nasional Profil

Cimareme, 18 Sept 2026 Kepala Unit Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) IDSurvey Charolinda Adela menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pihak dalam mengembangkan Virageawie Indonesia sebagai usaha berbasis bambu sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat di Cikandang, Desa Cimareme, Kabupaten Bandung Barat. Hal itu disampaikan dalam Diburuan Festival Jilid 4 yang dirangkaikan dengan Kick Off Kampung Kreatif Cikandang, Jumat, 18 September 2026.

Charolinda mengatakan Virageawie Indonesia merupakan salah satu mitra binaan yang didukung sejak 2021 melalui PT Surveyor Indonesia (Persero), salah satu anak perusahaan IDSurvey. Dukungan tersebut diberikan karena pengembangan Virageawie tidak hanya berkaitan dengan produksi kerajinan bambu, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan pemberdayaan masyarakat di lingkungan sekitarnya.

“Dengan kami membina Virageawie, Virageawie kemudian mengembangkan masyarakat di sekitarnya. Jadi melakukan pemberdayaan masyarakat di sekitar,” kata Charolinda.

Menurut Charolinda, Founder Virageawie Indonesia Adang Muhidin menjadi salah satu penggerak lokal yang berupaya mengembangkan potensi bambu sekaligus melibatkan pelaku UMKM di kawasan Cikandang. Pola tersebut dinilai penting karena keberadaan sebuah usaha dapat memberikan dampak yang lebih luas apabila mampu membangun jejaring dengan masyarakat sekitar.

Karena itu, IDSurvey terus memberikan dukungan terhadap perkembangan Virageawie. Festival yang telah memasuki jilid keempat tersebut dinilai menunjukkan konsistensi dalam menjalankan gagasan pemberdayaan masyarakat.

Charolinda mengatakan pengembangan kawasan itu diarahkan untuk mencapai cita-cita menjadikan Cikandang sebagai kampung kreatif pada 2029. Untuk mencapainya, diperlukan dukungan yang tidak hanya berasal dari satu lembaga.

“Pemberdayaan masyarakat itu merupakan tugas bersama, tanggung jawab kita semua,” ujarnya.

Kolaborasi kemudian diperluas dengan melibatkan sejumlah BUMN. Dalam kegiatan tersebut hadir perwakilan IDSurvey Group, PT Surveyor Indonesia, Biro Klasifikasi Indonesia, PT Kereta Api Indonesia, dan PT Pelabuhan Indonesia. Keterlibatan sejumlah perusahaan tersebut diharapkan dapat memperluas dukungan terhadap pengembangan UMKM dan membuka akses pasar yang lebih berkelanjutan.

Bagi Charolinda, salah satu bentuk dukungan yang dapat dilakukan perusahaan adalah menggunakan produk UMKM dalam kebutuhan korporasi. IDSurvey, kata dia, telah menggunakan sejumlah produk Virageawie sebagai suvenir maupun perlengkapan di lingkungan perusahaan.

Produk tersebut antara lain plakat, tempat tisu, gitar, tumbler, jam tangan, dan pengeras suara berbahan bambu. Sejumlah produk juga digunakan dalam Arunika Lounge milik perusahaan.
“Kami sudah menggunakan produk-produk dari Virageawie sebagai suvenir korporat,” kata Charolinda.

Menurut dia, penggunaan produk UMKM oleh perusahaan dapat menjadi salah satu cara untuk mempertemukan hasil kreativitas masyarakat dengan kebutuhan pasar. Pola itu sekaligus memberikan peluang agar UMKM tidak hanya bergantung pada penjualan langsung kepada konsumen, tetapi dapat masuk dalam rantai pasok perusahaan.

Charolinda berharap pendekatan tersebut dapat ditiru BUMN dan perusahaan lainnya. Pemerintah daerah juga dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem usaha lokal melalui kebijakan dan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail menyatakan pemerintah daerah mendukung pengembangan kreativitas berbasis bambu. Pemerintah daerah juga menyampaikan rencana mendorong penggunaan produk bambu sebagai suvenir.

Virageawie sendiri mengembangkan berbagai produk dari bambu, mulai dari alat musik, speaker aktif, tempat sabun, tempat tisu, mug, asbak, plakat hingga koper. Pengembangan produk dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah bambu sekaligus memperluas fungsi material yang tersedia di lingkungan masyarakat.

Charolinda menilai kesinambungan kolaborasi menjadi faktor penting agar proses pemberdayaan tidak berhenti pada satu kegiatan. Dukungan BUMN, pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, pelaku usaha, dan masyarakat perlu diarahkan pada tujuan yang sama, yakni memperkuat kapasitas UMKM dan menciptakan akses pasar.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan Kampung Kreatif Cikandang diharapkan tidak hanya menghasilkan produk kerajinan, tetapi juga membentuk ekosistem ekonomi lokal yang melibatkan masyarakat secara lebih luas. Bagi Charolinda, keberhasilan program akan semakin berarti apabila pertumbuhan satu usaha turut membuka ruang bagi masyarakat di sekitarnya untuk berkembang bersama. (nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *