Sawengi di Tatar Lembang, Generasi Muda Merawat Sejarah melalui Seni Pertunjukan

Bandung Barat Pendidikan

https://liputan9news.com

Lembang, 16 Okt 2026 Alun-alun Lembang, Kabupaten Bandung Barat, menjadi ruang perjumpaan seni, budaya, dan sejarah melalui pagelaran drama tari kolosal bertajuk Sawengi di Tatar Lembang, Jumat malam. Pertunjukan yang mengusung tema “Ti bihari ka kiwari, Satu Rasa Sejuta Karya” tersebut menghadirkan rangkaian kisah perjalanan Lembang dari masa ke masa melalui perpaduan tari dan musik tradisional Sunda.

Pagelaran yang berlangsung lebih dari dua jam itu melibatkan kreativitas generasi muda yang tergabung dalam Komunitas Pelajar Pecinta Seni dan Budaya. Melalui pementasan tersebut, para pelajar berupaya memperkenalkan kembali jejak sejarah Tatar Lembang sekaligus menjaga keberlanjutan kesenian daerah di tengah perubahan zaman.

Kegiatan ini juga dikaitkan dengan sudah berusianya Lembang yang ke 144 tahun sejak 1882, tahun yang menjadi salah satu penanda perkembangan pemerintahan Lembang berdasarkan sejarah administratif yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Ketua pelaksana Indra Riyadi menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang mendukung penyelenggaraan pagelaran. Ia mengajak masyarakat menikmati karya seni yang disiapkan para pelajar bersama pembina komunitas, Indra Budiaji.

Dalam sambutannya, Indra Riyadi juga memperkenalkan ungkapan salam “Sang tabe namasiwaya” yang dimaknai sebagai bentuk penghormatan atau salam pembuka dalam rangkaian kegiatan tersebut. Penggunaan ungkapan itu menjadi bagian dari upaya menghadirkan kekayaan ekspresi budaya dalam acara yang berakar pada identitas lokal.

Pagelaran tersebut disaksikan Camat Lembang Bambang Eko, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat Taufik Kurnaefi, Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Lembang Maya Ekawati, dosen Program Studi Pendidikan Seni Tari Universitas Pendidikan Indonesia Tatang Taryana, Ketua APDESI Kabupaten Bandung Barat Diki Rohani, Kepala Desa Kayuambon Hari Irawan, kepala SMPN 1 Lembang, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan Lembang.

Kehadiran unsur pemerintah, akademisi, pemerintahan desa, dan masyarakat memperlihatkan keterlibatan berbagai pihak dalam mendukung ruang ekspresi kebudayaan. Namun, keberlanjutan kegiatan semacam ini juga membutuhkan dukungan yang konsisten agar seni tradisional tidak berhenti pada pertunjukan sesaat.

Menelusuri Jejak Sejarah Lembang
Camat Lembang Bambang Eko dalam sambutannya menjelaskan bahwa perkembangan Lembang tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang pemerintahan dan pembentukan permukiman di kawasan Bandung Utara.

Ia menyebut tahun 1882 sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah pemerintahan Lembang. Pada masa itu, wilayah Lembang berada dalam struktur administrasi kolonial yang berkaitan dengan Distrik Ujung Berung Kulon.
Menurut Bambang, Lembang kemudian mengalami perubahan administratif mengikuti perkembangan pemerintahan dari masa kolonial, pendudukan Jepang, kemerdekaan, hingga pembentukan Kabupaten Bandung Barat.

Saat ini, Lembang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Perubahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan wilayah yang berkembang dari kawasan dataran tinggi menjadi daerah dengan aktivitas permukiman, pertanian, peternakan, perdagangan, dan pariwisata.

Bambang mengapresiasi kerja komunitas pelajar yang berupaya mengenalkan sejarah daerah melalui pendekatan seni. Ia juga menyebut bahwa dokumentasi sejarah dan informasi mengenai Lembang dapat ditelusuri melalui pemerintah kecamatan.

Menurut dia, pengenalan sejarah lokal perlu dilakukan agar generasi muda memahami perubahan wilayah tempat mereka tumbuh, termasuk kaitannya dengan perkembangan masyarakat dan pemerintahan.

Upaya tersebut relevan bagi Lembang yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya sekaligus menghadapi perubahan akibat pertumbuhan kawasan wisata, aktivitas ekonomi, serta perkembangan permukiman.
Melalui drama tari, informasi sejarah yang umumnya disampaikan dalam dokumen atau penuturan lisan dihadirkan dalam bentuk pertunjukan yang lebih dekat dengan pengalaman penonton. Pendekatan ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal masa lalu melalui bahasa gerak, musik, dan cerita.

Keluarga Ursone dan Perkembangan Peternakan Susu adalah salah satu bagian yang menarik dalam rangkaian cerita Sawengi di Tatar Lembang adalah perkembangan perkebunan dan peternakan pada masa kolonial, termasuk kisah keluarga Ursone yang berasal dari Italia.

Dalam kronologi yang diangkat untuk pertunjukan, keluarga Ursone disebut datang ke Priangan pada 1877 dan merintis kegiatan perkebunan di kawasan Lembang. Nama keluarga tersebut kemudian dikaitkan dengan perkembangan usaha peternakan sapi perah yang menjadi salah satu bagian penting sejarah ekonomi kawasan ini.

Kisah tersebut memberikan gambaran mengenai hubungan antara kedatangan pengusaha dari luar daerah, pemanfaatan lahan, dan perubahan kegiatan ekonomi masyarakat pegunungan pada masa kolonial.

Peternakan sapi perah kemudian menjadi salah satu identitas ekonomi Lembang. Hingga kini, kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu daerah penghasil susu di Bandung Barat, meskipun struktur usaha, teknologi produksi, dan pola pemasaran telah mengalami perubahan.

Kisah keluarga Ursone dalam pertunjukan dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa sejarah ekonomi suatu wilayah terbentuk melalui beragam proses, termasuk aktivitas pertanian, peternakan, perdagangan, dan hubungan masyarakat lokal dengan perkembangan ekonomi yang lebih luas.

Meski demikian, sejumlah rincian mengenai tahun pendirian perusahaan, identitas para pelaku, serta skala peternakan pada masa awal memerlukan pemeriksaan lebih lanjut melalui arsip sejarah sebelum diperlakukan sebagai fakta yang sepenuhnya terkonfirmasi.

Dari Bosscha hingga Perubahan Zaman, Selain perkembangan peternakan, rangkaian cerita pertunjukan menyinggung sejumlah penanda sejarah lain, mulai dari masa Kerajaan Mataram, tokoh pemerintahan Priangan, pembentukan permukiman Babakan Gede, hingga perkembangan pariwisata dan ilmu pengetahuan.

Salah satu tokoh yang berkaitan erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan di Lembang adalah Karel Albert Rudolf Bosscha. Namanya dikenal melalui Observatorium Bosscha, fasilitas astronomi yang dibangun pada awal abad ke-20 dan menjadi bagian penting sejarah pengamatan astronomi di Indonesia.

Keberadaan observatorium tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Lembang tidak hanya berkaitan dengan pertanian dan peternakan. Kawasan ini juga memiliki hubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pariwisata.
Dalam pertunjukan tersebut, penonton juga diajak mengenali perkembangan kawasan peristirahatan serta peristiwa pada masa pendudukan Jepang, termasuk kisah pertahanan Ciater pada 1942.

Rangkaian cerita itu menempatkan Lembang dalam konteks sejarah yang lebih luas, dari perubahan kekuasaan politik hingga perkembangan kegiatan ekonomi dan pengetahuan.

Penyajian berbagai periode tersebut sekaligus memperlihatkan tantangan dalam menyampaikan sejarah melalui seni pertunjukan. Alur dramatik perlu disusun agar menarik, tetapi kronologi, nama tokoh, dan konteks peristiwa tetap membutuhkan ketepatan agar tidak menimbulkan pemahaman yang keliru.

Generasi Muda sebagai Penggerak Kebudayaan, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Barat Taufik Kurnaefi menyampaikan apresiasi terhadap keterlibatan para pelajar dalam pelestarian seni budaya.


Ia menilai para pelajar tidak hanya berperan sebagai penikmat kebudayaan, tetapi juga dapat menjadi pencipta karya dan penggerak kegiatan kreatif di daerahnya.

Menurut Taufik, keterlibatan generasi muda merupakan bagian penting dari upaya memperkenalkan seni budaya Jawa Barat, khususnya kekayaan budaya yang berkembang di Tatar Lembang.

Ia mendorong para penari, pemusik, dan panitia agar terus berkarya serta menjadikan seni budaya sebagai bagian dari identitas mereka.

Pesan tersebut berkaitan dengan kebutuhan regenerasi pelaku seni. Pelestarian budaya membutuhkan proses belajar, latihan, dokumentasi, dan ruang pertunjukan yang memungkinkan pengetahuan antargenerasi terus diwariskan.

Di sisi lain, kegiatan seni juga berpotensi memperluas ruang kreativitas pelajar. Mereka dapat mempelajari kerja kolektif, pengelolaan pertunjukan, pengolahan cerita, serta pengenalan sejarah dan tradisi setempat.

Agar manfaatnya berkelanjutan, kegiatan seperti Sawengi di Tatar Lembang dapat didukung dengan dokumentasi pertunjukan, pengarsipan naskah, penelusuran sumber sejarah, serta keterlibatan sekolah dan komunitas budaya.


Dengan demikian, hasil kerja para pelajar tidak hanya dapat dinikmati pada malam pementasan, tetapi juga menjadi bahan pembelajaran bagi masyarakat dan generasi berikutnya.

Pagelaran di Alun-alun Lembang itu mempertemukan seni pertunjukan dengan upaya mengenalkan sejarah daerah. Melalui tema “Ti bihari ka kiwari, Satu Rasa Sejuta Karya”, komunitas pelajar berusaha menyampaikan bahwa perjalanan masa lalu memiliki kaitan dengan pembentukan identitas masyarakat saat ini.

Bagi Lembang, tantangan berikutnya adalah menjaga agar pengenalan sejarah dan pelestarian kesenian berjalan beriringan. Kreativitas generasi muda dapat menjadi salah satu jalannya, selama didukung ruang berkarya, pendampingan, dan informasi sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan. (aq-nk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *